Editor
KOMPAS.com – PT Indotruck Utama menyoroti pentingnya kesiapan ekosistem dalam mendorong penggunaan kendaraan dan alat berat bertenaga listrik di sektor pertambangan.
Kesiapan tersebut mencakup pasokan energi, infrastruktur pengisian daya, pola operasional, kompetensi sumber daya manusia (SDM), hingga layanan purnajual.
Hal itu mengemuka dalam diskusi “Renewable Energy on Machine Application” yang digelar PT Indotruck Utama bersama Perkumpulan Tenaga Ahli Alat Berat Indonesia (Pertaabi) dalam rangkaian Mining Expo 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Diskusi tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan PT Indotruck Utama dan Volvo bertema “Power Your Ambition” yang membahas penerapan elektrifikasi pada kegiatan pertambangan serta kesiapan teknologi untuk mendukung perubahan kebutuhan operasional industri.
Praktisi operasi tambang Agung Budi Prasetya mengatakan, perusahaan perlu melakukan pengujian langsung sebelum menerapkan unit elektrik dalam skala lebih besar.
Pengujian tersebut dibutuhkan untuk melihat kemampuan kendaraan memenuhi kebutuhan operasional tambang, mulai dari aspek keselamatan hingga produktivitas.
“Yang kami cari dari uji coba ini adalah bukti bahwa unit bertenaga listrik dapat memenuhi kebutuhan operasi. Kami melihat keselamatan, produktivitas, konsumsi energi, pola pengisian, emisi, availability, hingga downtime sebelum menentukan langkah berikutnya,” ujar Agung dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (28/9/2026).
Menurut dia, tantangan penggunaan unit elektrik di pertambangan antara lain terletak pada kesiapan pasokan listrik, sistem kelistrikan, serta durasi pengisian baterai.
Kompetensi pengemudi dan teknisi juga perlu disesuaikan dengan karakteristik unit elektrik. Selain itu, pelaku industri perlu memastikan ketersediaan dukungan suku cadang.
Pendekatan yang digunakan juga perlu menyesuaikan jenis kendaraan. Unit elektrik berkapasitas besar membutuhkan kesiapan infrastruktur sebagai fondasi operasional, sedangkan kendaraan berukuran lebih kecil lebih banyak dipertimbangkan berdasarkan tingkat pemanfaatannya.
Sementara itu, Expert Pertaabi Sahala Sigalingging mengatakan, penggunaan kendaraan listrik di sektor pertambangan telah menunjukkan hasil secara operasional.
Ia menyebut sebanyak 18 truk angkut listrik telah beroperasi di salah satu lokasi pertambangan di Kalimantan Timur. Sebagian kendaraan tersebut telah digunakan selama sekitar delapan bulan, sementara unit pertama mendekati satu tahun masa operasi.
“Artinya, secara operasional unit bertenaga listrik sudah bisa digunakan. Tantangan berikutnya adalah memastikan ekosistem komersial dan operasionalnya siap ketika penggunaannya diperluas,” kata Sahala.
Menurut Sahala, pemilihan kendaraan juga perlu mengikuti prinsip fit for application. Kapasitas angkut dan dimensi kendaraan harus disesuaikan dengan kondisi area kerja serta jalur angkut.
Proses penyesuaian tersebut dapat membutuhkan waktu hingga beberapa tahun sebelum sebuah unit dinilai benar-benar sesuai dengan kebutuhan operasional tambang.
Selain aspek teknis, keekonomian juga menjadi pertimbangan dalam adopsi kendaraan listrik.
Perhitungan biaya kepemilikan perlu memasukkan kebutuhan infrastruktur pengisian, pemeliharaan, produktivitas, hingga nilai sisa kendaraan. Dengan demikian, efisiensi energi tidak menjadi satu-satunya dasar dalam menentukan keputusan investasi.
Praktisi kendaraan niaga dan logistik bertenaga listrik Richo Billy Wulur menambahkan, ketahanan baterai dan layanan purnajual turut menjadi faktor penting untuk membangun kepercayaan pengguna.
Dukungan tersebut dapat mencakup garansi baterai hingga delapan tahun dengan ketentuan tertentu, termasuk penggantian apabila kapasitas baterai turun di bawah 75 persen.
Penggunaan unit elektrik juga mendorong perubahan kebutuhan kompetensi tenaga kerja di sektor pertambangan. Kemampuan di bidang kelistrikan, pemeliharaan unit, pengelolaan energi, hingga pengolahan data operasi akan semakin dibutuhkan seiring perkembangan teknologi tersebut.
Dengan demikian, perluasan penggunaan kendaraan elektrik di sektor pertambangan tidak hanya bergantung pada kesiapan unit. Infrastruktur, sistem operasional, SDM, serta perhitungan keekonomian juga menjadi bagian penting agar teknologi tersebut dapat diterapkan dalam skala yang lebih luas.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya