Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perdagangan Karbon Sektor Pertanian, Indonesia Belum Punya Metodologi Hitung Biochar

Kompas.com, 28 September 2026, 19:58 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Indonesia masih belum memiliki metodologi perhitungan untuk mengakomodir biochar atau arang kaya karbon yang dihasilkan dari limbah organik dalam skema sertifikat pengurangan emisi gas rumah kaca (SPE GRK).

‎Di tingkat global, fungsi biochar sebagai penangkap karbon untuk disimpan tanah dalam jangka panjang sudah diakui dengan adanya acuan penghitungan inventarisasi ko emisi GRK pada panduan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).

Bahkan, berbagai lembaga pemilik skema internasional telah menerbitkan metodologi khusus untuk perdagangan karbon berbasis biochar.

Baca juga: Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun

‎"Nah, ini bisa menjadi peluang bagi bapak para periset, metodologi nasional terkait biochar untuk SPE GRK, kita belum punya," ujar Tim Teknis Perubahan Iklim Kementerian Pertanian, Miranti Ariyani dalam webinar HortiActive #30, dikutip Sabtu (26/9/2026).

‎Selain metodologi, mekanisme Measurement, Reporting, and Verification (MRV) juga menuntut ketelitian tinggi. Standar karbon mewajibkan seluruh rantai proses, mulai dari pengumpulan bahan baku hayati, proses pirolisis, moda transportasi, sampai penyebaran biochar di lahan,  harus tercatat secara sistematis dan dapat ditelusuri.  

‎Untuk mendukung keandalan data, ketersediaan Lembaga Validasi dan Verifikasi (LVV) independen di Indonesia kini semakin tumbuh, termasuk dari pihak swasta yang mempunyai kompetensi di sektor pertanian.

‎Kementerian Pertanian sedang mematangkan aturan teknis turunan dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Nasional.

‎Rancangan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) tentang mekanisme offset emisi sektor pertanian telah menyelesaikan tahap harmonisasi bersama Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Kini, rancangan Permentan sedang menunggu proses pengesahan resmi dari Menteri Pertanian.

Baca juga: Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?

‎"Pasar juga sudah ada, kalau kita bicara eh biochar sekarang sudah banyak sekali eh orang aware dengan biochar untuk perdagangan karbon. Kami (sedang) menyiapkan regulasi Permentannya," tutur Miranti.‎

‎Memperbaiki tanah

‎Selain menangkap karbon, biochar juga dapat memperbaiki struktur fisik, kimia, dan biologis tanah.

Peneliti ahli madya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Triyani Dewi, mengatakan, biochar dapat menjawab kebutuhan praktik pertanian hortikultura yang mendukung pemulihan kesehatan tanah, efisiensi hara, dan ketahanan pangan.

‎Praktik pertanian hortikultura yang mengandalkan intensifikasi secara berlebihan, penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus, serta aplikasi pestisida sintetis yang sangat intensif telah memicu penurunan kualitas dan kesuburan tanah.

Kondisi ini diperparah oleh semakin parahnya ancaman perubahan iklim global yang berpotensi memicu ledakan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan menurunkan produktivitas hasil panen secara signifikan.

Baca juga: Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?

‎Melihat urgensi perbaikan budi daya hortikultura, penerapan praktik pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan menjadi suatu keharusan. Di sinilah biochar memegang peranan krusial sebagai agen amelioran (pembenah tanah) berbasis karbon.

‎"Untuk pertanian berkelanjutan sendiri dari penggunaan biochar ini juga bisa diharapkan terjadi efisiensi hara, ada penggunaan pupuk anorganik yang semakin berkurang dengan adanya penambahan biochar ini. Juga untuk mitigasi emisi karbon, menyerap karbon dari atmosfer dan menyimpannya di dalam tanah dalam waktu yang lama," tutur Triyani.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Infrastruktur dan Kesiapan Operator Jadi Kunci Adopsi Kendaraan Komersial Listrik
Infrastruktur dan Kesiapan Operator Jadi Kunci Adopsi Kendaraan Komersial Listrik
Swasta
Habitat Terbakar, IUCN Peringatkan Risiko Kepunahan Orang Utan
Habitat Terbakar, IUCN Peringatkan Risiko Kepunahan Orang Utan
Pemerintah
Melihat Kera Berkelompok dan Menyatu dengan Alam di Kemenuh Monkey River Bali
Melihat Kera Berkelompok dan Menyatu dengan Alam di Kemenuh Monkey River Bali
LSM/Figur
Di Mining Expo 2026, PT Indotruck Utama Soroti Kesiapan Ekosistem Elektrifikasi Tambang
Di Mining Expo 2026, PT Indotruck Utama Soroti Kesiapan Ekosistem Elektrifikasi Tambang
Swasta
Kepedulian Lingkungan Konsumen Indonesia Kembali Meningkat Setelah 3 Tahun
Kepedulian Lingkungan Konsumen Indonesia Kembali Meningkat Setelah 3 Tahun
Pemerintah
Perdagangan Karbon Sektor Pertanian, Indonesia Belum Punya Metodologi Hitung Biochar
Perdagangan Karbon Sektor Pertanian, Indonesia Belum Punya Metodologi Hitung Biochar
Pemerintah
Menyimpan Makanan Sisa di Kulkas Tetap Sebabkan Kerusakan Mutu Gizi
Menyimpan Makanan Sisa di Kulkas Tetap Sebabkan Kerusakan Mutu Gizi
LSM/Figur
AI Dorong Efisiensi dan Keberlanjutan Industri Manufaktur
AI Dorong Efisiensi dan Keberlanjutan Industri Manufaktur
Pemerintah
Cegah Kematian Usia Muda, PBB Dorong Investasi Penanganan Kanker
Cegah Kematian Usia Muda, PBB Dorong Investasi Penanganan Kanker
Pemerintah
Bukan Sekadar Genjot Produksi, Perlu 3 Langkah Strategis Perkuat Sistem Pangan Nasional
Bukan Sekadar Genjot Produksi, Perlu 3 Langkah Strategis Perkuat Sistem Pangan Nasional
Pemerintah
Wamen LH Minta Pemda Susun Roadmap 100 Persen Sampah Terkelola
Wamen LH Minta Pemda Susun Roadmap 100 Persen Sampah Terkelola
Pemerintah
Merancang Transisi Mulus Pasokan Listrik Hijau
Merancang Transisi Mulus Pasokan Listrik Hijau
Swasta
Upaya Restorasi dan Konservasi EIGER Nature Dapat Apresiasi WWF-Indonesia dan WWF Global
Upaya Restorasi dan Konservasi EIGER Nature Dapat Apresiasi WWF-Indonesia dan WWF Global
BrandzView
Dari Laboratorium ke Sawah, Upaya Menempatkan Petani di Pusat Transformasi Pangan
Dari Laboratorium ke Sawah, Upaya Menempatkan Petani di Pusat Transformasi Pangan
BrandzView
Indonesia Hubungkan Proyek Energi Surya dengan Investor Global di Climate Week NYC
Indonesia Hubungkan Proyek Energi Surya dengan Investor Global di Climate Week NYC
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau