Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cegah Kematian Usia Muda, PBB Dorong Investasi Penanganan Kanker

Kompas.com, 28 September 2026, 19:46 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Makin banyak anak-anak dan remaja yang berhasil sembuh dari kanker, tetapi kemajuan ini belum merata di berbagai wilayah dan kelompok umur. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan investasi untuk meningkatkan angka kelangsungan hidup pasien.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) di bawah PBB, yang merilis data pembanding antar-negara mengenai perkiraan tingkat kelangsungan hidup lima tahun bagi penderita leukemia limfoid, jenis kanker yang menyerang darah dan sumsum tulang.

Melansir laman resmi United Nations, Rabu (23/9/2026) data yang mencakup 194 negara ini menjadi landasan bagi temuan laporan berjudul "Measuring Survival, Driving Change" yang terbit pada bulan Mei lalu. Laporan tersebut meneliti upaya global dalam mengatasi ketimpangan layanan serta memastikan lebih banyak anak dan remaja dapat sembuh dari kanker.

Baca juga: Penuaan Biologis yang Lebih Cepat Picu Kanker di Usia Muda

"Kanker pada anak merupakan salah satu indikator paling jelas dalam menilai kinerja sistem kesehatan suatu negara," ujar Dr. Roberta Ortiz, Pejabat Medis Kanker Anak di WHO.

Ketimpangan yang nyata

Setiap tahunnya, sekitar 400.000 anak dan remaja berusia 19 tahun ke bawah di seluruh dunia terdiagnosis kanker. Meskipun sebagian besar jenis kanker anak memiliki tingkat kesembuhan yang sangat tinggi, peluang mereka untuk bertahan hidup sangat bergantung pada tempat mereka tinggal.

Di negara-negara berpenghasilan tinggi, angka kelangsungan hidup pasien kanker anak kini mencapai 80 hingga 90 persen. Sebaliknya, di negara-negara dengan sistem kesehatan yang lebih lemah, angka kelangsungan hidupnya hanya berkisar 40 persen.

Laporan WHO tersebut menggambarkan jurang perbedaan ini sebagai salah satu ketimpangan kesehatan terbesar di era modern.

WHO mencatat bahwa wilayah Pasifik Barat dan Eropa telah mencapai tingkat kelangsungan hidup pasien kanker anak tertinggi.

Sebaliknya, wilayah Afrika dan sebagian Mediterania Timur masih menghadapi tantangan berat akibat ketimpangan dalam hal penanganan, mulai dari keterlambatan diagnosis, keterbatasan obat-obatan esensial, hingga minimnya akses ke perawatan berkualitas tinggi.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa kelompok remaja usia 15 hingga 19 tahun menghadapi jurang kelangsungan hidup yang lebih lebar dibandingkan anak-anak berusia 14 tahun ke bawah. Perbedaan ini terlihat paling mencolok di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Pada kelompok anak yang lebih muda, nilai tengah tingkat kelangsungan hidup lima tahun untuk leukemia limfoid mencapai 66,7 persen. Sementara itu, kelompok remaja yang lebih tua hanya memiliki peluang sembuh sekitar 39 persen dari penyakit tersebut.

Keterlambatan dalam mendiagnosis, terputusnya koordinasi antara penanganan anak dan dewasa, serta minimnya bukti ilmiah terkait perawatan kanker remaja menjadi beberapa hambatan utama dalam masalah ini.

Baca juga: Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim

Selain itu, remaja mengidap jenis kanker yang berbeda dari anak-anak, sehingga mereka membutuhkan pendekatan medis yang berbeda pula.

WHO menegaskan bahwa investasi strategis pada pembangunan fasilitas, pelatihan tenaga medis, serta pemerataan akses layanan kesehatan dapat meningkatkan angka kelangsungan hidup pasien secara drastis.

Lebih lanjut, ketersediaan data lengkap dalam laporan ini memungkinkan WHO dan pemerintah di berbagai negara untuk memantau komitmen bersama dalam meningkatkan angka kelangsungan hidup penderita kanker anak hingga minimal 60 persen pada akhir dekade ini.

Data ini menjadi pencapaian pertama di mana perkiraan tingkat kelangsungan hidup dihitung menggunakan metode standar yang sama di seluruh negara anggota WHO.

Hal ini menyediakan pijakan data yang seragam untuk memantau perkembangan, membandingkan kinerja antar-negara, serta menentukan wilayah mana yang paling membutuhkan bantuan investasi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Infrastruktur dan Kesiapan Operator Jadi Kunci Adopsi Kendaraan Komersial Listrik
Infrastruktur dan Kesiapan Operator Jadi Kunci Adopsi Kendaraan Komersial Listrik
Swasta
Habitat Terbakar, IUCN Peringatkan Risiko Kepunahan Orang Utan
Habitat Terbakar, IUCN Peringatkan Risiko Kepunahan Orang Utan
Pemerintah
Melihat Kera Berkelompok dan Menyatu dengan Alam di Kemenuh Monkey River Bali
Melihat Kera Berkelompok dan Menyatu dengan Alam di Kemenuh Monkey River Bali
LSM/Figur
Di Mining Expo 2026, PT Indotruck Utama Soroti Kesiapan Ekosistem Elektrifikasi Tambang
Di Mining Expo 2026, PT Indotruck Utama Soroti Kesiapan Ekosistem Elektrifikasi Tambang
Swasta
Kepedulian Lingkungan Konsumen Indonesia Kembali Meningkat Setelah 3 Tahun
Kepedulian Lingkungan Konsumen Indonesia Kembali Meningkat Setelah 3 Tahun
Pemerintah
Perdagangan Karbon Sektor Pertanian, Indonesia Belum Punya Metodologi Hitung Biochar
Perdagangan Karbon Sektor Pertanian, Indonesia Belum Punya Metodologi Hitung Biochar
Pemerintah
Menyimpan Makanan Sisa di Kulkas Tetap Sebabkan Kerusakan Mutu Gizi
Menyimpan Makanan Sisa di Kulkas Tetap Sebabkan Kerusakan Mutu Gizi
LSM/Figur
AI Dorong Efisiensi dan Keberlanjutan Industri Manufaktur
AI Dorong Efisiensi dan Keberlanjutan Industri Manufaktur
Pemerintah
Cegah Kematian Usia Muda, PBB Dorong Investasi Penanganan Kanker
Cegah Kematian Usia Muda, PBB Dorong Investasi Penanganan Kanker
Pemerintah
Bukan Sekadar Genjot Produksi, Perlu 3 Langkah Strategis Perkuat Sistem Pangan Nasional
Bukan Sekadar Genjot Produksi, Perlu 3 Langkah Strategis Perkuat Sistem Pangan Nasional
Pemerintah
Wamen LH Minta Pemda Susun Roadmap 100 Persen Sampah Terkelola
Wamen LH Minta Pemda Susun Roadmap 100 Persen Sampah Terkelola
Pemerintah
Merancang Transisi Mulus Pasokan Listrik Hijau
Merancang Transisi Mulus Pasokan Listrik Hijau
Swasta
Upaya Restorasi dan Konservasi EIGER Nature Dapat Apresiasi WWF-Indonesia dan WWF Global
Upaya Restorasi dan Konservasi EIGER Nature Dapat Apresiasi WWF-Indonesia dan WWF Global
BrandzView
Dari Laboratorium ke Sawah, Upaya Menempatkan Petani di Pusat Transformasi Pangan
Dari Laboratorium ke Sawah, Upaya Menempatkan Petani di Pusat Transformasi Pangan
BrandzView
Indonesia Hubungkan Proyek Energi Surya dengan Investor Global di Climate Week NYC
Indonesia Hubungkan Proyek Energi Surya dengan Investor Global di Climate Week NYC
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau