Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

LEGO Investasi 2 Juta Poundsterling untuk Proyek Penghapusan Karbon

Kompas.com, 5 Februari 2025, 15:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - LEGO Group menginvestasikan lebih dari 2 juta poundsterling untuk empat proyek penghapusan karbon.

LEGO Group menginvestasikan dana tersebut dalam kemitraan dengan Climate Impact Partners dan ClimeFi.

Empat proyek tersebut terdiri dari satu proyek yang fokus pada pembelian kredit karbon melalui platform GreenTrees di Lower Mississippi Alluvial Valley (AS). Proyek itu bertujuan untuk melakukan reboisasi lebih dari 400.000 hektar di wilayah tersebut.

Selain itu, pendanaan akan digunakan untuk mengubah biomassa limbah menjadi biochar, sebuah proses yang menstabilkan karbon dan menyimpannya dalam jangka panjang.

Proyek lainnya difokuskan pada penyebaran bubuk batuan di atas lahan pertanian yang dikenal sebagai pelapukan batuan.

Baca juga:

Dikutip dari Edie, Rabu (5/2/2025) LEGO Group mengklaim bahwa proyek tersebut akan mengeluarkan kredit hingga tahun 2026 dan akan membantu bisnis dalam mengembangkan pemahamannya tentang proyek mitigasi iklim dan penghapusan karbon baru serta yang sedang berkembang di luar rantai nilainya.

"Inisiatif iklim ini kami yakini akan memberikan dampak positif pada ekosistem lingkungan yang lebih luas," ungkap Annette Stube, Chief Sustainability Officer di LEGO Group.

Proyek penghapusan karbon yang inovatif dan berkualitas tinggi serta teknologi yang sedang berkembang berpotensi memainkan peran penting dalam mendukung masa depan yang lebih berkelanjutan.

Sementara reboisasi berpotensi mendukung peningkatan keanekaragaman hayati.

“Kemitraan ini memungkinkan kami untuk membangun pemahaman kami tentang teknologi dan praktik baru untuk mendukung planet yang sehat bagi generasi mendatang,” kata Stube lagi.

Target LEGO

LEGO Group menetapkan targetnya untuk mencapai emisi nol bersih pada 2050.

Target tersebut didukung dengan rencana pengeluaran lebih dari 1,4 miliar dollar AS hingga akhir tahun 2025.

Baca juga:

Rencana investasi akan melibatkan pembuatan bangunan dan lokasi netral karbon, termasuk dua pabrik yang dirancang untuk operasi netral karbon.

Selain itu, produksi energi terbarukan akan diperluas di seluruh lokasi untuk mengurangi emisi di pabrik, toko, dan kantor, yang melibatkan peningkatan output energi dari pabrik dan pengadaan energi terbarukan.

Perusahaan juga akan terus bekerja dengan para pemasoknya, melalui program Engage-to-Reduce untuk secara kolektif menurunkan dampak rantai pasokan terhadap lingkungan.

Rantai pasokan sendiri berkontribusi terhadap 98 persen emisi gas rumah kaca LEGO.

Para pemasok juga harus bekerja sama dengan LEGO Group untuk mengembangkan tindakan dan inisiatif guna memenuhi tujuan pengurangan karbon, seperti meningkatkan efisiensi fasilitas, beralih ke energi terbarukan, dan menemukan metode transportasi yang tidak terlalu intensif karbon.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau