Lebih lanjut, perubahan iklim akan menyebabkan kerugian besar dalam produksi pertanian di seluruh dunia, tetapi dampaknya akan paling terasa di daerah penghasil pangan terbesar yang saat ini subur dan di komunitas petani paling rentan yang sangat bergantung pada panen kecil misalnya, ubi atau singkong untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka.
Sementara itu dalam hal kapasitas produksi pangan dari tanaman pokok, analisis menemukan bahwa kehilangan hasil panen dapat mencapai rata-rata 41 persen di wilayah terkaya dan 28 persen di wilayah berpendapatan terendah pada tahun 2100.
Model juga menunjukkan bahwa ada peluang 50 persen bahwa hasil panen global untuk beras akan meningkat di planet yang lebih panas. Ini terutama disebabkan karena beras diuntungkan oleh malam yang lebih hangat.
Namun, untuk setiap tanaman pokok lainnya kemungkinannya justru sebaliknya. Ada peluang sekitar 70 persen hingga 90 persen bahwa hasil panen mereka akan menurun pada akhir abad ini akibat pemanasan global.
Tim peneliti pun saat ini bekerja sama dengan pemerintah untuk membantu membuat keputusan yang tepat dalam investasi adaptasi.
Mereka melakukannya dengan tetap mempertimbangkan bahwa banyak petani masih kekurangan akses terhadap sumber daya dasar yang krusial seperti pupuk berkualitas dan data cuaca yang tepat.
Iklim adalah fondasi utama produktivitas pertanian jangka panjang. Semua upaya keras petani untuk menjaga tanah dan infrastruktur tidak akan berarti jika perubahan iklim merusak kondisi dasar yang diperlukan untuk pertanian.
Baca juga: Bioteknologi Kurangi Emisi Pertanian, Selamatkan 231 Juta Hektar Lahan
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya