Mereka menemukan bahwa ketika permukaan bertekstur bergelombang menghadap ke luar, dengan sisi datar menempel pada dinding, ubin tersebut memberikan pengaturan termal yang optimal.
Sementara dalam kondisi hujan yang disimulasikan, ubin jamur berkinerja lebih baik. Ketika air disemprotkan pada sisi bergelombang, laju pendinginan meningkat hingga 70 persen dibandingkan dengan kondisi kering.
Itu mengapa ubin jamur ini menawarkan solusi keberlanjutan untuk bahan bangunan.
Baca juga: Produk Bahan Bangunan Ramah Lingkungan Lebih Diminati Konsumen di Indonesia
Ketika kota-kota di seluruh dunia mencari solusi untuk mengurangi konsumsi energi dan emisi karbon, inovasi seperti ubin jamur ini dapat berkontribusi secara signifikan untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih ramah lingkungan.
Lebih lanjut, berdasarkan bukti tersebut, kini para ilmuwan berupaya menyempurnakan dan mengaplikasikan ubin jamur di dunia nyata.
Mereka mengeksplorasi cara-cara untuk meningkatkan stabilitas dan daya tahan mekanis serta bereksperimen dengan berbagai galur miselium yang mungkin memberikan kinerja yang lebih baik.
Tim peneliti juga telah bermitra dengan perusahaan rintisan lokal Mykílio untuk meningkatkan produksi dan melakukan uji coba luar ruangan pada fasad bangunan yang sebenarnya.
Namun, peneliti juga mengakui beberapa tantangan ke depannya, salah satunya adalah perlu waktu tiga hingga empat minggu untuk memproduksi ubin jamur serta adanya potensi resistensi dari industri konstruksi, yang memiliki infrastruktur yang mapan untuk material konvensional.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya