Adapun, Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa menegaskan bahwa pengembangan energi terbarukan berbasis pulau merupakan langkah strategis yang tidak hanya relevan secara geografis tetapi juga efisien secara ekonomi.
Biaya pembangunan jaringan transmisi bawah laut, menurutnya, bisa mencapai tiga hingga lima kali lipat lebih mahal dari kabel darat, yakni sekitar 2–3 juta dolar AS per kilometer.
Selain itu, penggunaan energi terbarukan di pulau-pulau bisa mengurangi risiko logistik dan krisis energi akibat ketergantungan pada pengiriman BBM ke wilayah terpencil.
Fabby menilai fleksibilitas sistem kelistrikan menjadi kunci di Sulawesi, seiring meningkatnya penetrasi energi terbarukan dan berkembangnya industri. Sementara di Sumbawa, keberhasilan transisi energi bisa menjadi model bagi negara kepulauan lainnya untuk mencapai kemandirian energi dan mendukung target iklim global.
“Di Pulau Timor, pengembangan surya, angin, dan biomassa dapat menggantikan pembangkit fosil, termasuk yang masih direncanakan dalam RUPTL terbaru, dengan harga listrik yang lebih kompetitif,” tambahnya.
IESR juga menekankan bahwa pengembangan sistem energi terdistribusi di pulau-pulau tidak hanya menjadi solusi geografis, tetapi juga jalan untuk memperkuat ketahanan energi dan mendukung pencapaian target nasional NZE pada 2060 atau lebih cepat.
Baca juga: Ironi Energi: Emisi Pecahkan Rekor meskipun Energi Terbarukan Melonjak
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya