Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sulawesi, Timor, dan Sumbawa Bisa Hidup 100 Persen dari Energi Terbarukan

Kompas.com, 2 Juli 2025, 12:04 WIB
Add on Google
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Studi terbaru dari Institute for Essential Services Reform (IESR) menunjukkan bahwa Pulau Sulawesi, Timor, dan Sumbawa memiliki potensi untuk memenuhi 100 persen kebutuhan listriknya dari energi terbarukan.

Temuan ini memperkuat peluang percepatan transisi energi yang berkelanjutan, terutama di kawasan Indonesia timur yang selama ini menghadapi tantangan akses dan ketergantungan pada energi fosil.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki keunggulan geografis dan iklim tropis yang memungkinkan pasokan energi terbarukan tersebar merata, khususnya dari tenaga surya. Hal ini menjadi fondasi penting bagi pengembangan sistem energi berbasis pulau yang mandiri dan rendah karbon.

Analis Sistem Ketenagalistrikan IESR, Abraham Halim, menjelaskan bahwa Pulau Sulawesi memiliki potensi proyek energi terbarukan yang layak secara finansial mencapai 63 gigawatt (GW), terutama dari sumber surya dan angin.

“Menurut pemodelan IESR berdasarkan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), porsi energi terbarukan variabel (VRE) seperti surya dan angin di Sulawesi diproyeksikan naik dari 2,4 persen pada 2024 menjadi 29 persen di 2060,” ujar Abraham dalam keterangan tertulisnya, Rabu (2/7/2025).

Baca juga: Sederet Upaya Keberlanjutan Astra Group, Bangun PLTS hingga Kembangkan Bahan Bakar Hidrogen

Dalam jangka pendek (2030–2040), sistem kelistrikan di Sulawesi diperkirakan masih mengandalkan fleksibilitas pembangkit dari energi terbarukan lain seperti hidro, juga dari fosil dan energi baru.

Namun dalam jangka panjang, sistem ini akan mengandalkan baterai untuk skala harian, interkoneksi antar pulau untuk skala mingguan, dan pengelolaan musiman.

Abraham menekankan pentingnya integrasi analisis fleksibilitas dalam perencanaan energi jangka panjang dan operasional, serta optimalisasi potensi bioenergi dan penguatan interkoneksi demi menurunkan biaya sistem secara keseluruhan.

Sementara itu, Analis Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan IESR, Alvin P Sisdwinugraha, menyebut bahwa keberhasilan transisi energi di Pulau Sumbawa (NTB) dan Pulau Timor (NTT) sangat ditunjang oleh ambisi kuat dari pemerintah daerah.

NTB menargetkan Net Zero Emission (NZE) pada 2050, sementara NTT menargetkan bauran energi terbarukan sebesar 47 persen pada 2034 sebagaimana tercantum dalam draf terbaru Rencana Umum Energi Daerah (RUED).

Menurutnya, pulau Sumbawa memiliki total potensi energi terbarukan sebesar 10,21 GW, dengan dominasi energi surya sebesar 8,64 GW. Untuk memenuhi 100 persen kebutuhan listriknya dari energi terbarukan, IESR mendorong dua strategi.

Strategi jangka pendek (2025–2035) dengan mengganti proyek pembangkit fosil yang sedang direncanakan menjadi berbasis energi terbarukan. Sementara strategi jangka panjang (2036–2050) berfokus pada pengurangan bertahap pembangkit fosil, termasuk penggantian bahan bakar menjadi hidrogen dan amonia hijau.

Di sisi lain, Pulau Timor memiliki potensi energi mencapai 30,81 GW, yang terbesar juga dari tenaga surya (20,72 GW). Strategi jangka pendeknya serupa, yakni menggantikan proyek PLTU dan PLTG yang ada dalam perencanaan dengan pembangkit energi terbarukan, dengan catatan bahwa proses intervensi terhadap Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) harus dilakukan secara menyeluruh dan transparan.

Untuk jangka panjang (2036–2050), Timor ditargetkan menghapus total pembangkit fosil pada 2050. Opsi paling ekonomis yang dianjurkan adalah pensiun dini PLTU Timor, digantikan oleh PLTS skala besar dengan sistem penyimpanan daya.

Baca juga: SIG Perbesar Kapasitas PLTS untuk Perkat Dekarbonisasi

Alvin menyebut bahwa pada 2050, sistem kelistrikan Pulau Timor akan didominasi oleh tenaga surya (82 persen), disusul mini hidro (9 persen), angin (6 persen), dan biomassa (3 persen).

Adapun, Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa menegaskan bahwa pengembangan energi terbarukan berbasis pulau merupakan langkah strategis yang tidak hanya relevan secara geografis tetapi juga efisien secara ekonomi.

Biaya pembangunan jaringan transmisi bawah laut, menurutnya, bisa mencapai tiga hingga lima kali lipat lebih mahal dari kabel darat, yakni sekitar 2–3 juta dolar AS per kilometer.

Selain itu, penggunaan energi terbarukan di pulau-pulau bisa mengurangi risiko logistik dan krisis energi akibat ketergantungan pada pengiriman BBM ke wilayah terpencil.

Fabby menilai fleksibilitas sistem kelistrikan menjadi kunci di Sulawesi, seiring meningkatnya penetrasi energi terbarukan dan berkembangnya industri. Sementara di Sumbawa, keberhasilan transisi energi bisa menjadi model bagi negara kepulauan lainnya untuk mencapai kemandirian energi dan mendukung target iklim global.

“Di Pulau Timor, pengembangan surya, angin, dan biomassa dapat menggantikan pembangkit fosil, termasuk yang masih direncanakan dalam RUPTL terbaru, dengan harga listrik yang lebih kompetitif,” tambahnya.

IESR juga menekankan bahwa pengembangan sistem energi terdistribusi di pulau-pulau tidak hanya menjadi solusi geografis, tetapi juga jalan untuk memperkuat ketahanan energi dan mendukung pencapaian target nasional NZE pada 2060 atau lebih cepat.

Baca juga: Ironi Energi: Emisi Pecahkan Rekor meskipun Energi Terbarukan Melonjak

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus Obesitas Anak Melonjak Tajam di Negara Berkembang
Kasus Obesitas Anak Melonjak Tajam di Negara Berkembang
Pemerintah
BNPB Catat Banjir dan Longsor di Sejumlah Wilayah, Dua Orang Dilaporkan Tewas
BNPB Catat Banjir dan Longsor di Sejumlah Wilayah, Dua Orang Dilaporkan Tewas
Pemerintah
Paparan Polusi Udara Jangka Panjang Tingkatkan Risiko Demensia Parkinson
Paparan Polusi Udara Jangka Panjang Tingkatkan Risiko Demensia Parkinson
LSM/Figur
PBB: Lebih dari 2 Miliar Orang di Dunia Tak Punya Hunian Layak
PBB: Lebih dari 2 Miliar Orang di Dunia Tak Punya Hunian Layak
Pemerintah
Krisis Iklim Picu Deoksigenisasi Sungai Tropis
Krisis Iklim Picu Deoksigenisasi Sungai Tropis
LSM/Figur
Komisi Eropa Sebut Pelonggaran UU EUDR Pangkas Biaya Perusahaan 75 Persen
Komisi Eropa Sebut Pelonggaran UU EUDR Pangkas Biaya Perusahaan 75 Persen
Pemerintah
Sisi Lain Dampak Perubahan Iklim: Merusak Hubungan Sosial Antar Manusia
Sisi Lain Dampak Perubahan Iklim: Merusak Hubungan Sosial Antar Manusia
Pemerintah
Menengok Si Toddler Panda Rio di Taman Safari Bogor, Tonggak Penting Konservasi Satwa Indonesia
Menengok Si Toddler Panda Rio di Taman Safari Bogor, Tonggak Penting Konservasi Satwa Indonesia
Swasta
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
LSM/Figur
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Pemerintah
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Pemerintah
Hutan Nabire Rusak akibat Tambang Ilegal, Kemenhut Buru Aktor Utama
Hutan Nabire Rusak akibat Tambang Ilegal, Kemenhut Buru Aktor Utama
Pemerintah
Jutaan Orang Hadapi Ancaman Kemiskinan akibat Krisis Energi dan Perdagangan
Jutaan Orang Hadapi Ancaman Kemiskinan akibat Krisis Energi dan Perdagangan
Pemerintah
Kreator Konten Mukbang Korsel Sumbang Rp 600 Juta untuk Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
Kreator Konten Mukbang Korsel Sumbang Rp 600 Juta untuk Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
LSM/Figur
Perangi Mikroplastik, Taiwan Perketat Pengawasan Darat hingga Laut
Perangi Mikroplastik, Taiwan Perketat Pengawasan Darat hingga Laut
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau