Akibatnya, hal ini akan mengakibatkan terputusnya hubungan antara tumbuhan dan penyerbuknya. Putusnya hubungan ini berdampak negatif pada kelangsungan hidup populasi vanila liar.
“Spesies vanili dikenal karena hubungan khusus mereka dengan penyerbuk, oleh karena itu, mereka mungkin mengalami kesulitan dalam menggantikan penyerbuk,” jelas Watteyn.
Perusakan habitat, penebangan liar, dan gangguan ekologi juga memengaruhi kelangsungan hidup Vanili. Banyak spesies Vanili memiliki kebutuhan khusus, termasuk kemitraan dengan jamur dan hewan untuk penyebaran dan perkecambahan benih.
Lebih lanjut, Vanili tetap menjadi tanaman komersial utama dengan permintaan global yang tinggi. Tanaman ini mendukung petani kecil di seluruh dunia.
“Seperti kakao dan kopi, vanili merupakan tanaman ekspor global dengan nilai pasar internasional yang tinggi. Tanaman ini ditanam untuk menghasilkan laba, dan merupakan pendorong utama pembangunan pedesaan, inovasi pertanian, dan kesejahteraan secara keseluruhan,” papar Watteyn.
Pelestarian spesies Vanili liar ini pun kini tidak hanya penting bagi ekosistem, tetapi juga sistem pangan global karena dapat membantu mengamankan masa depan vanili di tengah perubahan iklim.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Plant Science.
Baca juga: Google Bilang Target Iklim Makin Sulit Diraih, Emisi Naik Tajam
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya