KOMPAS.com - Pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai tidak hanya menghasilkan energi bersih tetapi juga dapat memainkan peran penting dalam memulihkan ekosistem yang rentan, baik di atas maupun di bawah permukaan air.
Studi yang dilakukan oleh tim ilmuwan internasional dan dipublikasikan dalam jurnal BioScience ini menyebut, dengan hanya mengalokasikan satu persen dari dana pembangunan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai, mulai dari sekarang hingga tahun 2050, kita bisa membiayai proyek-proyek pemulihan lingkungan laut hingga jutaan kilometer persegi.
Dana sebesar satu persen itu bisa digunakan untuk berbagai inisiatif restorasi yang mencakup habitat dasar laut, terumbu karang, padang lamun, dan lahan basah pesisir: ekosistem yang penting bagi keanekaragaman hayati, populasi ikan, dan ketahanan iklim.
"Angin lepas pantai memiliki peluang unik untuk tidak hanya mendukung transisi energi tetapi juga menjadi industri kelautan pertama yang memberikan kontribusi positif bersih terhadap restorasi ekosistem skala besar," kata penulis utama studi Christiaan van Sluis, dikutip dari Phys, Rabu (9/7/2025).
Baca juga: Inggris Genjot Tenaga Angin Darat, Target 29 GW pada 2030
Menurut van Sluis, metode tersebut bisa dilakukan dengan cara menjadikan restorasi lingkungan sebagai bagian yang terintegrasi dan wajib dalam setiap proyek angin lepas pantai.
Dengan menjadikan restorasi sebagai syarat perizinan atau kriteria dalam proses tender, pemerintah dapat memastikan bahwa industri ini tidak hanya menghasilkan energi bersih, tetapi juga berkontribusi positif terhadap kesehatan laut.
"Dengan memasukkan persyaratan keanekaragaman hayati ke dalam prosedur perizinan dan tender proyek angin lepas pantai sekarang juga, kita bisa membalikkan hilangnya keanekaragaman hayati hanya dengan sebagian kecil dari total investasi," tambahnya.
Restorasi ekosistem laut ini nantinya tidak hanya bermanfaat bagi tumbuhan dan hewan, tetapi juga bagi manusia.
Laut dan habitat pesisir yang sehat menyerap karbon, melindungi garis pantai, dan mendukung populasi ikan.
Menurut studi tersebut, setiap dolar yang diinvestasikan dalam restorasi ekosistem dapat menghasilkan manfaat sosial sebesar 2 dolar AS hingga 12 dolar AS.
Ini relevan karena sektor angin lepas pantai diperkirakan akan tumbuh secara eksponensial, dari 56 gigawatt pada tahun 2021 menjadi sekitar 2.000 gigawatt pada tahun 2050.
Baca juga: Perubahan Iklim Ancam Energi Angin, Potensinya Bisa Berkurang
Para peneliti menyerukan agar pemerintah mewajibkan setiap proyek pembangkit listrik tenaga angin di laut untuk menyisihkan sebagian dananya untuk restorasi lingkungan laut.
Pasalnya, industri ini tumbuh sangat cepat, upaya restorasi harus jadi bagian standar dan wajib dari semua kebijakan, bukan sekadar pilihan.
Negara-negara seperti Belanda, Denmark, dan Inggris sudah punya sistem yang bagus untuk memasukkan pertimbangan lingkungan dalam lelang proyek angin lepas pantai.
Jika ini dilakukan secara global dan diatur undang-undang, proyek bisa lebih efisien, persaingan lebih sehat, dan yang terpenting, ekosistem laut tidak akan dikorbankan hanya demi harga termurah.
"Pencantuman kriteria non-harga dalam tender telah berhasil di beberapa proyek di Belanda. Saatnya tepat untuk meningkatkan skala restorasi laut dalam peluncuran energi angin lepas pantai global," ujar Karen Vennik, Direktur Komersial Energi Lepas Pantai dan Kesehatan Laut di Van Oord.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya