Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sederet Tantangan Dekarbonisasi Transportasi, dari Bahan Bakar sampai Insentif EV

Kompas.com, 14 Juli 2025, 18:34 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksektutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, mengungkapkan, dekarbonisasi transportasi masih menghadapi sejumlah tantangan.

Ketersediaan dan konektivitas transportasi umum di kota besar adalah tantangan pertama. Karenanya, perluasan jangkauan transportasi publik sangat penting dilakukan.

Kedua, masih terbatasnya infrastruktur kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Minat beli masyarakat cenderung masih rendah meskipun harga EV lebih murah dibandingkan pertama kali diluncurkan.

"Sebenarnya mendorong motor listrik harusnya menjadi salah satu prioritas pemerintah. Sayangnya, sampai hari ini subsidi untuk motor listrik masih ditangguhkan, dan ini yang kami melihat dalam enam bulan terakhir ada penurunan penjualan motor listrik," ujar Fabby dalam acara yang diikuti secara daring, Senin (14/7/2025).

Baca juga: Kendaraan Listrik dan Dekarbonisasi

Tantangan dekarbonisasi selanjutnya ialah perilaku masyarakat yang lebih memilih mengendarai kendaraan pribadi berbahan bakar minyak ketimbang transportasi umum.

"Terakhir, tantangannya adalah integrasi kebijakan dan regulasi yang komprehensif dari berbagai sektor terkait transportasi, energi dan juga ekonomi itu perlu diperkuat," imbuh dia.

Fabby mencatat, emisi sektor transportasi mencapai 202 juta ton atau sekitar 27 persen dari total emisi di sektor energi pada 2024.

Dengan skenario business as usual, emisi dari sektor transportasi diprediksi meningkat tiga kali lipat pada 2060. Dia turut menyoroti kualitas bahan bakar yang memperparah kualitas udara.

"Rendahnya kualitas bahan bakar dan peningkatan emisi dari sektor transportasi telah menyebabkan polusi udara yang signifikan, yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat dan kualitas hidup," jelas Fabby.

Sebuah kajian menyatakan, biaya kesehatan akibat polusi udara di Indonesia bisa mencapai 43 miliar dollar AS per tahun atau sekitar 2,2 persen produk domestik bruto (PDB) pada 2030.

Baca juga: Dekarbonisasi Industri, Pemerintah Minta Perusahaan Laporkan Data Emisi ke SIINas

"Ini juga perlu menjadi catatan karena semakin banyak kita membakar bahan bakar fosil, maka akan semakin memperburuk pemanasan global dan mengakibatkan perubahan iklim" papar Fabby.

"Jika tidak ditangani dengan serius, masalah ini akan terus meningkat dan menghambat upaya kita untuk mencapai target iklim dan berdampak negatif pada kesejahteraan," lanjut dia. 

Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Dalam kesempatan itu, Fabby menyampaikan tiga strategi dekarbonisasi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Transisi ke EV dan penggunaan transportasi umum bakal mengurangi kebutuhan BBM. 

"Ini berarti penghematan devisa negara yang signifikan, biaya operasional yang lebih rendah, serta mengurangi subsidi di mana penghematan anggaran tadi bisa diinvestasikan ke sektor-sektor ekonomi yang lebih produktif," ungkap dia.

Berkurangnya BBM juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan produktivitas mereka yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Pembentukan Satgas TEH Bisa Percepat Transisi Energi dan Dekarbonisasi

Ketiga, terbukanya peluang inovasi dan penciptaan lapangan kerja baru dalam teknologi kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya, sistem transportasi, hingga pengembangan energi terbarukan.

"Ini adalah ladang subur bagi penciptaan lapangan kerja baru dan pengembangan industri-industri Indonesia di masa depan," kata Fabby.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Studi Global: Smart Farming Terbukti Cetak Profit di Sejumlah Wilayah
Studi Global: Smart Farming Terbukti Cetak Profit di Sejumlah Wilayah
Pemerintah
WHO Naikkan Status Kesiapsiagaan Ebola di 22 Negara
WHO Naikkan Status Kesiapsiagaan Ebola di 22 Negara
Pemerintah
Beban Lingkungan Baru, Mayoritas Pusat Data Beroperasi di Wilayah Rentan Air
Beban Lingkungan Baru, Mayoritas Pusat Data Beroperasi di Wilayah Rentan Air
Pemerintah
Cerita Kepala Adat Long Pahangai Tolak Suap dari Perusahaan dan Pilih Tanam Pohon Meranti
Cerita Kepala Adat Long Pahangai Tolak Suap dari Perusahaan dan Pilih Tanam Pohon Meranti
LSM/Figur
800 Juta Anak Muda Hadapi Masa Depan Tanpa Pekerjaan, PBB Peringatkan
800 Juta Anak Muda Hadapi Masa Depan Tanpa Pekerjaan, PBB Peringatkan
Pemerintah
AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan
AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan
Pemerintah
Anestesi Hijau Bisa Pangkas Emisi dan Hemat Biaya RS Hampir 40 Persen
Anestesi Hijau Bisa Pangkas Emisi dan Hemat Biaya RS Hampir 40 Persen
LSM/Figur
Studi: Peduli Perubahan Iklim Tidak Selalu Berarti Pilih Liburan Ramah Lingkungan
Studi: Peduli Perubahan Iklim Tidak Selalu Berarti Pilih Liburan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim
Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim
Swasta
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Swasta
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
Desa Sejahtera Astra
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau