Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya

Kompas.com, 21 Oktober 2026, 14:31 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Berdasarkan data terbaru dari Urgewald, untuk setiap satu proyek batu bara yang dibatalkan tahun lalu, ada tiga proyek baru yang justru diumumkan.

Informasi ini berasal dari pembaruan Global Coal Exit List (GCEL), yaitu basis data milik organisasi nirlaba lingkungan dan hak asasi manusia. Data ini mencakup lebih dari 1.500 perusahaan induk dan 1.150 anak perusahaan.

Melansir Edie, Selasa (20/10/2026) pada tahun 2025, sebanyak 76 proyek batu bara ditunda atau dibatalkan, sementara 257 proyek baru justru direncanakan.

"Bukannya berkurang, daftar proyek tambang, pembangkit listrik, kimia, dan infrastruktur batu bara baru yang sedang dikembangkan kini justru membengkak menjadi 1.510 proyek," kata peneliti senior Urgewald, Pacôme David-Mauduit.

"Lebih dari 40 persen perusahaan yang terdaftar di GCEL saat ini sedang mengembangkan aset batu bara baru," katanya lagi.

Data GCEL mencatat ada 335 pengembang batu bara. Secara keseluruhan, perusahaan-perusahaan ini merencanakan 606 proyek pembangkit listrik batu bara baru dengan total kapasitas lebih dari 740 gigawatt (GW). Kapasitas ini empat kali lipat lebih besar dari total kapasitas batu bara yang ada di Amerika Serikat saat ini.

Baca juga: Debu Batu Bara di Kawasan Industri Bahodopi Morowali Kian Meresahkan

Menurut studi tersebut, 95 persen perusahaan batu bara tidak memiliki rencana untuk menghentikan penggunaan batu bara.

Bahkan, lima perusahaan termasuk Grand River Dam Authority di AS dan PT Cirebon Electric Power di Indonesia justru membatalkan rencana penghentian batu bara mereka tahun ini.

Secara keseluruhan, perusahaan-perusahaan asal China menguasai 70 persen dari total rencana proyek batu bara dunia, termasuk China Energy Investment Group yang menargetkan tambahan kapasitas baru sebesar 44 GW.

Sementara itu, perusahaan India menyumbang 18 persen, dan 12 persen sisanya tersebar di 33 negara, termasuk Turki yang menjadi tuan rumah bersama COP31.

Ekspansi batu bara jelang COP31

Menurut data dari Climate Action Tracker (CAT), meskipun Presidensi COP31 menargetkan elektrifikasi sebesar 35 persen pada tahun 2035, Turki diperkirakan hanya mampu mencapai 25 persen. Tahun lalu, bahan bakar fosil bahkan masih menyumbang 56 persen dari total produksi listrik di negara tersebut.

"Turki sebenarnya sudah memiliki kebijakan yang tepat untuk energi terbarukan. Jelang COP31, pemerintah dapat menunjukkan kepemimpinannya sebagai Presiden COP31 dengan memanfaatkan keberhasilannya meningkatkan kapasitas energi terbarukan baru-baru ini, serta mengumumkan target dan rencana penghentian batu bara dan gas sebelum acara dimulai," kata Dr. Niklas Höhne dari NewClimate Institute, organisasi mitra CAT.

Namun, Urgewald menekankan bahwa meskipun ada beberapa pembatalan proyek, Pemerintah Turki tetap melanjutkan perluasan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Af?in-Elbistan.

Kementerian Lingkungan Hidup, Urbanisasi, dan Perubahan Iklim Turki telah resmi menyetujui Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk penambahan dua unit baru di PLTU tersebut.

Baca juga: Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih

Pada bulan Juni tahun ini, Cenal Elektrik, anak perusahaan dari konglomerat Cengiz Holding juga mengumumkan rencana pembangunan unit baru berkapasitas 1.050 megawatt (MW) di pembangkit listrik Cenal di Çanakkale, Turki.

Hal serupa terjadi di Australia, tuan rumah bersama COP31 yang akan memimpin negosiasi KTT tersebut. Australia tercatat memiliki rencana pengembangan tambang batu bara terbesar ketiga di dunia dan merupakan eksportir batu bara terbesar kedua di dunia.

"Melakukan elektrifikasi tanpa menghentikan penggunaan batu bara itu seperti mandi dengan air kotor. Anda tidak bisa membangun masa depan energi bersih di atas fondasi yang kotor," komentar Heffa Schücking, Direktur Urgewald.

"Ketergantungan Turki pada impor bahan bakar fosil membuat perekonomian kita yang sudah rentan makin terancam oleh krisis bahan bakar fosil. Dengan berkomitmen untuk tidak membangun proyek batu bara baru serta menyusun rencana transisi yang adil untuk menghentikan batu bara, Turki dapat menunjukkan kepemimpinan iklim yang nyata selama memegang Presidensi COP31," tambah Duygu Kutluay dari organisasi Beyond Fossil Fuels.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Studi Global: Smart Farming Terbukti Cetak Profit di Sejumlah Wilayah
Studi Global: Smart Farming Terbukti Cetak Profit di Sejumlah Wilayah
Pemerintah
WHO Naikkan Status Kesiapsiagaan Ebola di 22 Negara
WHO Naikkan Status Kesiapsiagaan Ebola di 22 Negara
Pemerintah
Beban Lingkungan Baru, Mayoritas Pusat Data Beroperasi di Wilayah Rentan Air
Beban Lingkungan Baru, Mayoritas Pusat Data Beroperasi di Wilayah Rentan Air
Pemerintah
Cerita Kepala Adat Long Pahangai Tolak Suap dari Perusahaan dan Pilih Tanam Pohon Meranti
Cerita Kepala Adat Long Pahangai Tolak Suap dari Perusahaan dan Pilih Tanam Pohon Meranti
LSM/Figur
800 Juta Anak Muda Hadapi Masa Depan Tanpa Pekerjaan, PBB Peringatkan
800 Juta Anak Muda Hadapi Masa Depan Tanpa Pekerjaan, PBB Peringatkan
Pemerintah
AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan
AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan
Pemerintah
Anestesi Hijau Bisa Pangkas Emisi dan Hemat Biaya RS Hampir 40 Persen
Anestesi Hijau Bisa Pangkas Emisi dan Hemat Biaya RS Hampir 40 Persen
LSM/Figur
Studi: Peduli Perubahan Iklim Tidak Selalu Berarti Pilih Liburan Ramah Lingkungan
Studi: Peduli Perubahan Iklim Tidak Selalu Berarti Pilih Liburan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim
Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim
Swasta
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Swasta
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
Desa Sejahtera Astra
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Pemerintah
WHO Desak Tindakan Tegas Atasi Bahaya Keracunan Timbal
WHO Desak Tindakan Tegas Atasi Bahaya Keracunan Timbal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau