Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bappenas: Keanekaragaman Hayati di Sumatera Terancam Perkebunan, Sulawesi oleh Tambang

Kompas.com, 20 Agustus 2025, 10:17 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Konflik antara manusia dan satwa liar di Sumatera semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Hal ini terungkap dalam laporan Status Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia untuk ekoregion Sumatera dan Sulawesi yang dirilis Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Selasa (19/8/2025).

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo A.A.T. Sambodo, menyebut terdapat sejumlah ancaman serius yang membayangi keberlanjutan ekosistem di Sumatera.

“Kalau melihat peta Sumatera, tahun 1990 warnanya masih semarak karena masih banyak hutan dan beragam bentang alam. Namun tahun 2021 sudah didominasi oleh perkebunan,” ujar Leonardo dalam peluncuran laporan yang disiarkan melalui kanal YouTube Bappenas RI.

Ancaman di Sumatera dan Sulawesi

Laporan mencatat setidaknya tujuh ancaman utama bagi keanekaragaman hayati Sumatera, yaitu perubahan tata guna lahan yang memicu fragmentasi habitat, kebakaran hutan, perburuan satwa liar dan penangkapan ikan berlebihan.

Lainnya adalah perubahan iklim yang memengaruhi siklus hidup satwa dan menyebabkan pengasaman air laut, penyebaran jenis asing invasif, maraknya alga berbahaya (MAB), ancaman biologis dari penyakit menular baru berbasis zoonosis.

Sementara itu, ekoregion Sulawesi memiliki tantangan berbeda. Dengan kekayaan satwa endemik akibat garis Wallace, Sulawesi menghadapi sepuluh ancaman besar terhadap biodiversitasnya.

Ancaman itu mencakup perburuan untuk daging satwa seperti rusa, dugong, paus sperma, lumba-lumba spinner, hingga paus pembunuh. Selain itu, juga ada perkebunan monokultur, pertambangan, perubahan iklim, bencana alam, penangkapan ikan berlebih, hingga sampah laut.

Perdagangan satwa liar, mulai dari penyu, kura-kura, burung bernyanyi, burung beo, hingga trenggiling, juga masih marak terjadi. Di sisi lain, Sulawesi juga dikenal sebagai wilayah dengan potensi tinggi munculnya penyakit zoonosis karena intensitas interaksi masyarakat dengan satwa liar.

“Dalam beberapa tahun terakhir, banyak ancaman di Sulawesi yang berkaitan dengan pertambangan. Ini menjadi fokus karena tiap pulau memiliki karakteristik ancaman dan dominasi aktivitas ekonominya masing-masing,” tutur Leonardo.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Seperti apa kepribadianmu menurut sahabat?
Hangat dan membuat nyaman
Petualang dan berani
Lembut dan sopan
Kencan impianmu?
Nonton film atau serial TV di rumah
Jalan-jalan di taman
Liburan ke pantai
Minuman kesukaanmu?
Kopi dan teh
Mocktail
Soda
Koleksi bajumu didominasi warna apa?
Hitam
Putih
Warna pastel
Jika tidak menjalani profesimu saat ini, kamu mau menjadi apa?
Penulis
Peneliti biota laut
Mengelola kebun bunga
Destinasi liburan yang paling menarik untukmu?
Pantai-pantai di Maldives
Gardens by The Bay Singapore
Kanal gondola di Venezia
Dessert favoritmu?
Tiramisu
Lemon pie
Rose infused cupcake
Seperti apa rumah idamanmu?
Rumah dengan taman dan ruang hijau luas
Rumah mewah di tepi pantai
Rumah bernuansa rustic
Warna lipstikmu sehari-hari
Nude
Nuansa merah
Nuansa pink

Yuk, Ketahui Aroma Parfum yang Cocok dengan Kepribadianmu!

Warm scent
Fresh citrusy/ Aquatic
Floral
Terkini Lainnya
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau