Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tantangan Baru Brand Mewah: Isu ESG dan Transparansi yang Mendesak

Kompas.com, 19 September 2025, 19:32 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Sektor barang mewah tengah menghadapi tantangan isu lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

Dahulu, merek-merek mewah terlindungi oleh citra eksklusivitas dan prestise. Namun, sekarang mereka berada di bawah tekanan kuat dari regulator, investor, dan konsumen untuk membuktikan bahwa rantai pasok dan praktik bisnis mereka memenuhi standar etika modern.

Melansir Know ESG, Kamis (18/9/2025) inti dari permasalahan tersebut adalah praktik pengadaan bahan baku dan ketenagakerjaan merek-merek mewah.

Bahan baku seperti kulit eksotis, logam mulia, dan batu langka kini diperiksa ketat, baik untuk dampak lingkungannya maupun risiko pelanggaran hak asasi manusia.

"Mengelola kesejahteraan hewan dan manusia dalam rantai pasok sangatlah penting bagi sektor barang mewah secara keseluruhan, karena kesalahan dapat merusak nilai merek, memicu boikot konsumen, dan menyebabkan denda," catat analis dari perusahaan jasa keuangan Jefferies.

Baca juga: Ekonomi Sirkular, Solusi Nyata Masalah Limbah di Indonesia

Asal-usul bahan baku telah menjadi isu utama, di mana konsumen menuntut untuk mengetahui dari mana dan bagaimana produk dibuat. Kesejahteraan hewan tetap menjadi isu sensitif, terutama terkait barang-barang dari bulu, buaya, dan ular piton.

Pada saat yang sama, laporan mengenai kondisi yang tidak aman dan praktik kerja eksploitatif dalam rantai pasok global menimbulkan risiko reputasi dan finansial.

Beberapa kasus misalnya saja yang terjadi pada brand Loro Piana yang Piana menghadapi kecaman terkait kondisi kerja di peternakan vicuña di Peru. Sementara itu, Dior dan Armani terseret kasus pemasok di Italia yang diduga melakukan eksploitasi terhadap pekerja migran.

Pengungkapan ini bisa dengan cepat merusak kepercayaan terhadap merek dan memicu kemarahan konsumen.

Selain itu, praktik lama di industri mewah, yaitu menghancurkan barang yang tidak laku terjual demi menjaga eksklusivitas, kini juga mendapat sorotan tajam.

Dengan adanya regulasi yang lebih ketat, seperti Undang-Undang Anti-Limbah untuk Ekonomi Sirkular di Prancis, merek-merek dipaksa untuk memikirkan kembali praktik ini.

Para investor dan analis mulai mengajukan pertanyaan sulit tentang bagaimana perusahaan akan mendaur ulang atau menggunakan kembali stok barang tanpa mengorbankan nilai merek mereka.

Pergeseran ini telah memicu diskusi tentang penerapan prinsip ekonomi sirkular, memikirkan kembali desain produk, mengembangkan program pengembalian produk, dan berinvestasi pada teknologi daur ulang.

Baca juga: Tiga Tantangan Ekonomi Sirkular, Satu di Antaranya Daur Ulang

Bagi konglomerat seperti LVMH dan Kering, ini merupakan tantangan sekaligus peluang untuk menjadi pemimpin dalam hal keberlanjutan.

Namun kabar baiknya, industri ini juga perlahan mencoba beradaptasi. Merek-merek seperti CFCL dan Asket memberikan contoh dengan secara terbuka mengungkap daftar pemasok, mempublikasikan tanggal audit, bahkan menawarkan program bagi konsumen untuk mengembalikan barang yang sudah usang untuk didaur ulang.

Inisiatif-inisiatif ini masih jarang, tetapi menjadi sinyal pergeseran menuju transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar.

Merek-merek yang mengintegrasikan ESG ke dalam setiap bagian rantai nilai mereka, mulai dari pengadaan bahan baku, ketenagakerjaan, hingga inventaris yang tidak terjual tidak hanya akan memenuhi tuntutan regulasi, tetapi juga akan mendapatkan kepercayaan konsumen.

Dengan melakukan hal tersebut, mereka juga dapat membantu mendefinisikan kembali makna kemewahan itu sendiri yakni eksklusivitas yang berpasangan dengan tanggung jawab serta ketahanan.

Baca juga: Survei Bloomberg Sebut Investor Percaya dengan Masa Depan Investasi ESG

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Isu Keandalan AI Kini Jadi Sorotan Petinggi Bisnis
Isu Keandalan AI Kini Jadi Sorotan Petinggi Bisnis
Pemerintah
Mayoritas Negara Diproyeksikan Gagal Capai Target Sistem Pangan 2030
Mayoritas Negara Diproyeksikan Gagal Capai Target Sistem Pangan 2030
Pemerintah
Baleg DPR RI Targetkan Pembahasan RUU Masyarakat Adat jadi UU Rampung di Awal 2027
Baleg DPR RI Targetkan Pembahasan RUU Masyarakat Adat jadi UU Rampung di Awal 2027
Pemerintah
Ancaman Laut Dunia, Praktik Illegal Fishing Makin Marak Meski Terus Ditekan
Ancaman Laut Dunia, Praktik Illegal Fishing Makin Marak Meski Terus Ditekan
Pemerintah
Microsoft Pangkas Pembelian Kredit Karbon hingga 80 Persen, Prioritaskan AI
Microsoft Pangkas Pembelian Kredit Karbon hingga 80 Persen, Prioritaskan AI
Pemerintah
Berbagai Tambang Batu Bara RI dengan Kapasitas 760 Juta Ton Berakhir Izinnya hingga 2035
Berbagai Tambang Batu Bara RI dengan Kapasitas 760 Juta Ton Berakhir Izinnya hingga 2035
LSM/Figur
Pemulihan Kawasan Bromo Pasca-Kebakaran Perlu Pertimbangkan Karakter Ekosistem
Pemulihan Kawasan Bromo Pasca-Kebakaran Perlu Pertimbangkan Karakter Ekosistem
LSM/Figur
Pipa Baja Galvanis Spindo Perkuat Jaringan Air Bersih Kubangsari Tasikmalaya
Pipa Baja Galvanis Spindo Perkuat Jaringan Air Bersih Kubangsari Tasikmalaya
BrandzView
135.793 Fasilitas Kesehatan Belum Laporkan Limbah B3, Pakar Ingatkan Risiko Pencemaran Air
135.793 Fasilitas Kesehatan Belum Laporkan Limbah B3, Pakar Ingatkan Risiko Pencemaran Air
LSM/Figur
Ancaman El Niño Buat Pelaku Bisnis Kian Cemas
Ancaman El Niño Buat Pelaku Bisnis Kian Cemas
Pemerintah
Astra Terima Kunjungan Menteri Pariwisata di Desa Sejahtera Astra Kemiren, Perkuat Wisata Berbasis Budaya
Astra Terima Kunjungan Menteri Pariwisata di Desa Sejahtera Astra Kemiren, Perkuat Wisata Berbasis Budaya
Desa Sejahtera Astra
Kemenhut: Ancaman Karhutla di Kawasan Bromo Belum Selesai Meski Api Sudah Terkendali
Kemenhut: Ancaman Karhutla di Kawasan Bromo Belum Selesai Meski Api Sudah Terkendali
Pemerintah
Mengapa Kita Selalu Terlambat Menghadapi Bencana?
Mengapa Kita Selalu Terlambat Menghadapi Bencana?
Pemerintah
Limbah Jagung dan Daun Pepaya Diolah Jadi Penangkal Nyamuk Malaria
Limbah Jagung dan Daun Pepaya Diolah Jadi Penangkal Nyamuk Malaria
LSM/Figur
Bukan Sekadar Teknologi Canggih, Inilah 'Fondasi Tak Kasatmata' Keselamatan PLTN
Bukan Sekadar Teknologi Canggih, Inilah 'Fondasi Tak Kasatmata' Keselamatan PLTN
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau