Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Setelah Puluhan Tahun BAB Sembarangan, Warga Sekadau Hilir Kini Punya Toilet yang Layak

Kompas.com, 30 September 2025, 13:56 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KALIMANTAN BARAT, KOMPAS.com - Puluhan tahun lamanya, Sadiah, salah seorang warga Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, tak memiliki WC yang layak.

Sejak ia lahir, kegiatan buang air besar, mandi, mencuci, hingga memasak dilakukan di Sungai Kapuas yang tak jauh dari tempat tinggalnya.

Beberapa jamban yang terbuat dari kayu tampak berdiri di sisi sungai tersebut.

"Saya mulai bangun WC itu di 2021, jadi sebelum tahun-tahun itulah masih menggunakan jamban dari saya lahir. Waktu sebelum ada WC, ya setiap hari malam-malam ke sungai terutama saat kemarau pasti ke sungai," ungkap Sadiah saat ditemui di kediamannya dalam Media Trip Wahana Visi Indonesia (WVI), Jumat (26/9/2025).

Sadiah bercerita, BAB sembarangan sekaligus konsumsi air dari Sungai Kapuas menyebabkan banyaknya kasus muntah dan berak (muntaber) serta stunting pada anak. Ibu anak satu ini akhirnya tersadar bahwa kebiasaan tersebut harus diubah kendati telah mengakar sejak lama.

Baca juga: Cerita Sekadau Turunkan Stunting lewat Program Stop BAB di Sungai

Lambat laun akhirnya dia tergerak membangun toilet sederhana di rumahnya. Sadiah pun mengajak para tetangga untuk mengikuti jejaknya.

"Di sungai kalau setiap pagi orang pada ke sungai semua, (akibatnya) pencemaran (bedampak) bagi kesehatan. Karena kami dulu kan air bersihnya tidak ada, otomatis menggunakan air Kapuas," tutur Sadiah.

"Jadi saya berpikir saat itu saya harus bisa bikin WC, bagaimana caranya kami bekerja sama dengan desa untuk mencapai desa kita yang lebih maju ke depannya," imbuh dia.

Warga kemudian mendapatkan pelatihan membuat kloset sendiri, guna menekan biaya pembangunan toilet. Sadiah turun langsung mengajak dan mengedukasi warga yang enggan memiliki WC sendiri.

Perempuan berusia 44 tahun ini tak pernah menyerah, hingga akhirnya wilayahnya resmi mendeklarasikan Open Defecation Free (Bebas dari Buang Air Besar Sembarangan) atau ODF pada awal 2025 lalu.

"Terciptanya ODF mungkin perjalanan awal mungkin agak susah karena perilaku masyarakat kan bermacam-macam, apalagi kami ini tinggalnya di pinggiran Sungai Kapuas. Kami berusaha supaya desa kami bisa menjadi desa layak bagi anak-anak," kata Sadiah.

Baca juga: Cegah Muntaber, Kabupaten Sekadau Deklarasi Bebas BAB Sembarangan

Dampak lainnya ialah penurunan angka stunting dari 2024 sebanyak 27 kasus menjadi sembilan kasus di 2025. Sungai Kapuas juga lebih bersih dan bebas tinja. Jamban bekas di sungai beralih fungsi menjadi gudang. 

Salah satu jamban di hilir Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, Jumat (26/9/2025). KOMPAS.com/ZINTAN Salah satu jamban di hilir Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, Jumat (26/9/2025).

Kembangkan Bakteri Pengurai

Khusus bagi mereka yang tinggal di dekat rawa dan bantaran sungai, diberikan Gentong Mas Santun atau Gerakan Tolong Masyarakat Sanitasi Tuntas, inisiatif septic tank apung bekerja sama dengan WVI.

Gentong Mas Santun langsung terhubung dengan kloset rumah di mana tinja nantinya akan diurai effective microorganism 4 (EM4). Septic tank ini terbuat dari toren berkelir oranye yang ditanam sebagian di tanah tepat di bawah rumah warga yang berada di bantaran Sungai Kapuas.

Warga lain bernama Ningsih, berinisiatif mengembangkan pengurai sendiri di rumah. Dia mencampurkan lima liter air dengan gula lalu menambahkan klorin. Setelah diendapkan dua hingga tiga hari pengurai dapat digunakan dan disiramkan ke lubang kloset.

"Kadang-kadang kalau ada yang minta itu saya kasih, saya buatkan. Mereka juga diajarin membuatnya, cuman enggak semuanya mau bikin jadi ya sudah beli saja," ucap Ningsih.

Rumah Ningsih sendiri berada di dekat rawa, sehingga apabila kotoran mengalir langsung menimbulkan bau tak sedap. Dengan adanya Gentong Mas Santun, tinja tak lagi mengotori area sekitar.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
6 Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Wehea-Kelay Kaltim Secara Berkelanjutan
6 Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Wehea-Kelay Kaltim Secara Berkelanjutan
LSM/Figur
 IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan
IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan
Pemerintah
PeHa Pembersih Sepatu, UMKM Asal Medan yang Jangkau Seluruh Indonesia
PeHa Pembersih Sepatu, UMKM Asal Medan yang Jangkau Seluruh Indonesia
LSM/Figur
Wujudkan 'Green Mining', PLN dan BIB Borong 23.040 Unit Renewable Energy Certificate
Wujudkan "Green Mining", PLN dan BIB Borong 23.040 Unit Renewable Energy Certificate
BUMN
Harga Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Perlu Dibedakan
Harga Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Perlu Dibedakan
Swasta
Rahasia Sutra Laba-Laba Terungkap, Lebih Kuat dari Baja dan Kevlar
Rahasia Sutra Laba-Laba Terungkap, Lebih Kuat dari Baja dan Kevlar
LSM/Figur
CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja
CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja
LSM/Figur
Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel Cemari Sungai Cisadane hingga 22 Km, KLH Ambil Sampel Air
Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel Cemari Sungai Cisadane hingga 22 Km, KLH Ambil Sampel Air
Pemerintah
Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres
Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres
LSM/Figur
200 UMKM Jajakan Produk untuk Dipasarkan di Ritel lewat Meet The Market
200 UMKM Jajakan Produk untuk Dipasarkan di Ritel lewat Meet The Market
Pemerintah
Lantai Berkelanjutan Jadi Strategi Hotel Capai Target ESG
Lantai Berkelanjutan Jadi Strategi Hotel Capai Target ESG
LSM/Figur
Produktivitas Kelapa Sawit Indonesia Kalah dari Malaysia, Mengapa?
Produktivitas Kelapa Sawit Indonesia Kalah dari Malaysia, Mengapa?
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Masih Terjadi hingga 16 Februari 2026
BMKG Prediksi Hujan Masih Terjadi hingga 16 Februari 2026
Pemerintah
Terbukti Picu Kematian Pesut Mahakam, Operasional Perushaan Dihentikan
Terbukti Picu Kematian Pesut Mahakam, Operasional Perushaan Dihentikan
Pemerintah
SJS Luncurkan Ekosistem Digital untuk Perkuat SDM Indonesia
SJS Luncurkan Ekosistem Digital untuk Perkuat SDM Indonesia
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau