Meski begitu, Zulfiqar melihat murid masih minim pengetahuan tentang lingkungan lokal, khususnya keanekaragaman hayati Kalimantan. Padahal, jurusan di SMK Maharati hanya desain komunikasi visual (DKV) dan teknik alat berat (TAB), tanpa pelajaran biologi.
“Makanya, kemarin itu saya sudah mulai mengorder buku-buku yang berbau pertanian, perkebunan, karena sebelumnya itu enggak ada memang,” jelasnya.
Ia juga berencana memperkaya koleksi dengan buku sejarah dan budaya Kalimantan, termasuk karya langka seperti tulisan Tjilik Riwut tentang adat Dayak.
Terletak di Desa Buhut Jawa, Kapuas Tengah, SMK Maharati berada lebih dari 326 kilometer dari Palangka Raya. Perjalanan ke sana bisa memakan waktu delapan jam. Sekolah ini dikelola Yayasan Bina Harati Pama di bawah naungan PAMA Group.
Di tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota, buku-buku menjadi jendela dunia bagi murid-murid SMK Maharati. Membaca bukan lagi kewajiban, melainkan jalan untuk membuka masa depan.
Baca juga: Pemotongan Dana Pendidikan Global Berpotensi Sebabkan 6 Juta Anak Putus Sekolah
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya