Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 9 Oktober 2025, 18:29 WIB
Hotria Mariana,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

Ambu Halimun kini berhasil menjadi ruang aman bagi perempuan untuk tumbuh, mengembangkan kepercayaan diri, dan belajar keterampilan organisasi.

Namun, Rahayu menekankan, pencapaian Ambu Halimun bukan diukur dari angka, melainkan dari dampak nyata terhadap perubahan kehidupan. Salah satu anggota berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang yang lebih tinggi berkat pendapatan dari program ini.

Baca juga: Perempuan, Tambang, dan Masa Depan Berkelanjutan

"Pemberdayaan seharusnya membuka peluang dan menciptakan kemandirian, bukan menciptakan ketergantungan," tegas Rahayu.

Dikelilingi sampah, lalu mengubahnya jadi berkah

Dalam kesempatannya, Yasmin menggugah peserta dengan kalimat pembuka, “Buat saya, aset paling berharga itu adalah sampah”. Ia mengisahkan perjalanan pribadi dari seorang sales promotion officer menjadi aktivis pengelolaan sampah di Surabaya.

“Dulu saya berpikir, urus sampah orang itu pekerjaan yang kotor. Namun, rupanya dari situlah hidup saya berubah,” katanya.

Titik balik Yasmin terjadi pada 2003. Saat itu, tempat pembuangan akhir sampah di Keputih, Surabaya, penuh dan ditutup. Akibatnya, jalan-jalan kota dipenuhi sampah. Kenyataan pahit ini menyadarkannya bahwa masalah sampah bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan tanggung jawab bersama.

Baca juga: Perempuan Berperan Penting saat Bencana, Butuh Kebijakan Berperspektif Gender

Melalui edukasi dan dukungan berbagai pihak, pada 2012, Yasmin akhirnya memutuskan untuk mendirikan Yayasan Lohjinawi. Lewat yayasan ini, Yasmin mengajarkan masyarakat sekitar bahwa sampah yang tadinya tidak bernilai dapat bernilai jika dikelola dengan baik.

Tujuan baik bukan berarti tanpa hambatan. Setelah mengumpulkan sampah dari masyarakat, tim Yasmin sempat bingung cara mengelola sampah tersebut karena belum memiliki pengguna akhir (off-taker) sampah.

Namun, melalui proses belajar berkelanjutan dan kerja keras, Lohjinawi berhasil menemukan berbagai off-taker sampah dari berbagai sektor industri untuk mendaur ulang dan memanfaatkan sampah.

Transformasi paling jelas terlihat dalam kisah Umi, salah satu kader terbaik Lohjinawi di Kota Surabaya.

Baca juga: Bagaimana Perempuan Memimpin Pengurangan Emisi Global?

Dulu, Umi tidak memiliki pekerjaan dan kondisi ekonomi keluarganya sangat sulit. Setelah belajar mengenai sampah dan menjalankan bisnis sampah, Umi berhasil merenovasi rumahnya, memperbaiki kamar mandi, dan bahkan mempekerjakan penyandang disabilitas.

Dalam 20 tahun beroperasi, Lohjinawi telah mendampingi 15 kota di Indonesia dan mengelola 5.000 bank sampah yang melayani 50.000 penerima manfaat dengan 9.000 kader. Organisasi ini memberikan edukasi kepada 20-30 orang per bulan tentang pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan.

Meskipun Yasmin mengakui bahwa masalah sampah di Indonesia sangat besar, berat, dan rumit, ia yakin semuanya dapat diatasi melalui kolaborasi.

"Dengan kolaborasi yang kuat, tujuan akan bisa tercapai," tegasnya, mengajak berbagai pihak untuk bergabung dalam upaya mengubah sampah menjadi nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan.

Melalui perjalanan ketiga perempuan ini, Lestari Summit 2025 menyampaikan pesan yang jelas bahwa keberlanjutan lingkungan hanya dapat terwujud ketika suara perempuan didengarkan, potensi masyarakat diberdayakan, dan berbagai sektor bekerja bersama dengan komitmen yang sama untuk masa depan yang lebih baik.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau