Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Negara Pulau Kecil Perlu 12 Miliar Dolar AS per Tahun untuk Hadapi Perubahan Iklim

Kompas.com, 10 Oktober 2025, 19:36 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan baru dari Global Commission on Adaptation (GCA) mengungkapkan Negara-Negara Berkembang Pulau Kecil (SIDS) yang paling sedikit bertanggung jawab atas perubahan iklim justru menghadapi kerugian hingga 476 miliar dolar AS pada tahun 2050 jika tindakan adaptasi tidak dipercepat.

Sebanyak 39 negara kepulauan, yang tersebar di Laut Karibia, Samudra Pasifik, dan Samudra Hindia, menyumbang kurang dari satu persen emisi global.

Namun, negara-negara ini menghadapi beberapa konsekuensi paling serius dari perubahan iklim, yaitu kenaikan permukaan air laut, badai yang lebih kuat, intrusi air asin, dan keruntuhan perikanan.

"Kami menghadapi kenaikan permukaan air laut, ancaman terhadap ketahanan pangan dan air, dan waktu kami hampir habis. Mekanisme pendanaan iklim tidak dirancang dengan mempertimbangkan SIDS," kata Hilda Heine, Presiden Republik Kepulauan Marshall.

"Proses yang panjang, aturan kelayakan, dan standar risiko telah mengecualikan kami. Kami terblokir dari dukungan yang paling kami butuhkan," katanya lagi dikutip dari Down to Earth, Kamis (9/10/2025).

Baca juga: Gap Adaptasi Iklim Pesisir: Si Kaya Menjauhi Laut, Si Rentan Terjebak

Kerentanan negara-negara tersebut terhadap perubahan iklim menjadi semakin parah akibat kondisi keuangan yang sulit yang melanda sebagian besar negara-negara tersebut.

Lebih dari 70 persen indikator keuangan negara-negara tersebut menunjukkan bahwa krisis utang sedang mengintai atau sudah memburuk.

Secara spesifik, tujuh negara sudah berada di ambang "gagal bayar utang". Kondisi ini terjadi karena rasio utang terhadap PDB mereka telah melampaui 100 persen, membuat mereka nyaris tidak mampu menunaikan semua kewajiban finansialnya. Selain itu, delapan negara lainnya dikategorikan memiliki "tingkat utang yang sangat tinggi".

Kondisi ini mengakibatkan banyak negara pulau kecil kesulitan mendanai upaya peningkatan kapasitas, adaptasi, dan ketahanan yang sangat dibutuhkan untuk menjaga keselamatan warga dan melindungi stabilitas ekonomi mereka.

Walaupun menghadapi kebutuhan yang sangat mendesak, SIDS secara keseluruhan hanya memperoleh 2 miliar dolar AS per tahun dari pendanaan iklim publik internasional yang dialokasikan untuk adaptasi.

Angka ini hanya setara dengan 0,2 persen dari seluruh dana iklim global. Parahnya, sebagian besar dana itu hanya mengalir ke 10 dari 39 negara SIDS, sehingga negara-negara pulau lainnya terabaikan.

Beban utang negara-negara pulau kecil kian memberat karena 44 persen dari bantuan dana iklim yang mereka terima datang dalam bentuk utang atau pinjaman.

Mayoritas aliran dana yang terdeteksi berasal dari lembaga keuangan pembangunan multilateral, sedangkan dana hibah dari donor bilateral dan dana iklim masih belum dimaksimalkan.

Oxfam dan CARE dalam laporan mereka baru-baru ini turut menyoroti bahwa negara-negara yang sangat rentan ini terpaksa mengambil pinjaman untuk membiayai upaya mereka dalam menghadapi dampak krisis tersebut.

Dengan fakta tersebut Komisi GCA pun mendesak agar dukungan pendanaan adaptasi ditingkatkan enam kali lipat, mencapai 12 miliar dolar AS setiap tahun.

Jumlah ini, menurut laporan, sesuai dengan kebutuhan yang telah dihitung oleh negara-negara pulau sendiri dalam dokumen penting mereka.

Analisis ekonomi yang dilakukan pada enam negara SIDS yaitu Komoro, Maladewa, Mauritius, Fiji, Kepulauan Marshall, dan Barbados membuktikan bahwa setiap 1 dolar AS yang diinvestasikan untuk adaptasi dapat mencegah kerugian dan menghasilkan pertumbuhan baru senilai hingga 6,50 dolar AS.

Baca juga: Krisis Iklim, Pulau Kecil Tenggelam dan Perlu Mitigasi Berbasis Lokal

Hasil temuan laporan menunjukkan pula bahwa melalui pelaksanaan program yang terencana matang di sektor pengelolaan air, transportasi, energi bersih, dan pertanian tanggap iklim, negara-negara tersebut berpotensi mengurangi kerugian akibat iklim hingga lebih dari 50 persen pada tahun 2050.

Lebih lanjut, laporan tersebut merekomendasikan penutupan defisit hibah dalam pendanaan adaptasi, mengintegrasikan langkah-langkah adaptasi ke dalam anggaran nasional, dan memperluas mekanisme de-risiko dan blended finance untuk menarik investasi swasta

Analisis tersebut juga menyoroti perlunya menghubungkan bantuan atau keringanan keuangan yang diberikan dengan pencapaian upaya ketahanan melalui mekanisme baru seperti skema penukaran utang dengan investasi perlindungan alam dan penukaran utang dengan investasi aksi iklim.

"Adaptasi merupakan investasi paling menguntungkan dalam upaya mengatasi perubahan iklim saat ini. Berinvestasi di bidang adaptasi sekarang akan menghasilkan manfaat ketahanan di seluruh sektor, mulai dari sistem energi yang tetap menyala pasca badai siklon, pelabuhan dan jalan yang terus melayani kegiatan perdagangan, jaringan air yang lebih efisien dan melayani populasi lebih besar, hingga sistem pangan yang tangguh terhadap gelombang panas dan kekeringan," tambah Patrick Verkooijen, Kepala Eksekutif GCA.

Baca juga: Potensi Green Zakat Capai Rp 327 T per Tahun, Bisa untuk Dana Iklim

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
LSM/Figur
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Pemerintah
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Pemerintah
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau