Ibarat gedung bertingkat yang menampung lebih banyak orang dibandingkan bangunan lebar tapi pendek. Kedalaman ekstra LGS memungkinkan proses pengendapan lumpur berjalan lebih optimal dalam area yang lebih kecil.
Baca juga: PT Vale Indonesia Sabet Lestari Award 2025 untuk Program Kehati Lutim Bersinergi
Hasliana menerangkan, pengolahan air limbah di LGS terdiri dari 3 tahapan.
Pertama, air masuk ke kolam koagulasi atau kolam pengadukan cepat untuk melakukan injeksi larutan FeSO4.
Setelah melewati bilah-bilah atau kolam flokulasi, air tersebut selanjutnya masuk ke kolam pengendapan akhir. Air yang telah jernih naik ke permukaan melalui bilah-bilah lamela dan menuju saluran outlet untuk diproses lebih lanjut.
Selain menyaring partikel halus, sistem LGS juga dilengkapi proses kimiawi. Air yang mengandung logam berat Chromium heksavalen diinjeksikan dengan ferrosulfat. Tujuannya, untuk menetralkan racunnya sehingga air hasil pengolahan lebih aman bagi lingkungan.
Berdasarkan uji internal PT Vale, pemanfaatan LGS berhasil menurunkan tingkat kekeruhan air lebih dari 99 persen, dari 1.707 miligram per liter menjadi sekitar 8 miligram per liter. Begitu juga dengan kadar logam chromium (Crom Total) berkurang hingga 97 persen, dari 10 miligram per liter menjadi 0,3 miligram per liter. Hasil tersebut berada di bawah baku mutu lingkungan.
Selain lebih bersih, LGS juga jauh lebih efisien dalam penggunaan lahan dan biaya.
Baca juga: Melihat Upaya Konservasi Tanaman dan Fauna Endemik Sulawesi di Taman Kehati Sawerigading Wallacea
Jika sistem konvensional memerlukan kolam pengendapan seluas sekitar 3-5 hektare untuk menangani debit air tertentu, LGS hanya membutuhkan sekitar 0,5 hektare berkat desain vertikal dengan kedalaman mencapai 9 meter.
Dari sisi operasional, perawatannya pun lebih hemat. Kolam konvensional perlu dikeruk setiap bulan, sementara LGS cukup dibersihkan setiap satu hingga dua tahun sekali.
Dengan efisiensi tersebut, kapasitas pengolahan LGS dapat mencapai 4.000 meter kubik air per jam pada kondisi normal, setara dengan kebutuhan air minum puluhan ribu orang per hari. Saat curah hujan meningkat, sistem ini masih mampu menangani debit lebih besar melalui saluran alternatif yang telah disiapkan.
Seiring perkembangan teknologi, PT Vale melengkapi sistem LGS dengan inovasi bernama Intelligent Control for Mine Water Treatment (Incomatte). Sistem ini dapat memantau debit air secara real-time serta mengatur proses injeksi bahan kimia sesuai dosis yang diperlukan.
“Kalau dulu operator harus membuka dan menutup kran secara manual untuk mengatur dosis bahan kimia, sekarang semuanya otomatis. Dengan sistem ini, jika hujan turun dengan intensitas tinggi, injeksi bahan kimia akan menyesuaikan secara otomatis. Operator tidak perlu lagi membuka dan menutup kran secara manual,” jelas Hasliana.
Baca juga: Dari Film Sore ke Sorowako, Menelisik Komitmen Industri Wujudkan Praktik Tambang Berkelanjutan
Pengujian Incomet sendiri dilakukan pada 2020 hingga 2021 dan mulai diterapkan penuh pada 2024. Inovasi tersebut menjadikan sistem LGS PT Vale salah satu yang paling modern di industri pertambangan nasional.
Selain meningkatkan akurasi, automasi tersebut juga menekan biaya operasional serta meminimalkan risiko kesalahan manusia di lapangan.
Hasliana menambahkan, air yang telah melalui pengolahan tidak langsung dialirkan ke danau, tetapi terlebih dahulu melalui pengujian kualitas secara berlapis, baik di laboratorium internal Vale maupun oleh lembaga independen.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya