Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
CERITA LESTARI

Teknologi Canggih PT Vale Jaga Kejernihan Danau Matano

Kompas.com, 10 Oktober 2025, 20:38 WIB
Hotria Mariana,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

Ibarat gedung bertingkat yang menampung lebih banyak orang dibandingkan bangunan lebar tapi pendek. Kedalaman ekstra LGS memungkinkan proses pengendapan lumpur berjalan lebih optimal dalam area yang lebih kecil.

Baca juga: PT Vale Indonesia Sabet Lestari Award 2025 untuk Program Kehati Lutim Bersinergi

Hasliana menerangkan, pengolahan air limbah di LGS terdiri dari 3 tahapan. 

Pertama, air masuk ke kolam koagulasi atau kolam pengadukan cepat untuk melakukan injeksi larutan FeSO4. 

Setelah melewati bilah-bilah atau kolam flokulasi, air tersebut selanjutnya masuk ke kolam pengendapan akhir. Air yang telah jernih naik ke permukaan melalui bilah-bilah lamela dan menuju saluran outlet untuk diproses lebih lanjut.

Selain menyaring partikel halus, sistem LGS juga dilengkapi proses kimiawi. Air yang mengandung logam berat Chromium heksavalen diinjeksikan dengan ferrosulfat. Tujuannya, untuk menetralkan racunnya sehingga air hasil pengolahan lebih aman bagi lingkungan.

Berdasarkan uji internal PT Vale, pemanfaatan LGS berhasil menurunkan tingkat kekeruhan air lebih dari 99 persen, dari 1.707 miligram per liter menjadi sekitar 8 miligram per liter. Begitu juga dengan kadar logam chromium (Crom Total) berkurang hingga 97 persen, dari 10 miligram per liter menjadi 0,3 miligram per liter. Hasil tersebut berada di bawah baku mutu lingkungan.

Selain lebih bersih, LGS juga jauh lebih efisien dalam penggunaan lahan dan biaya.

Baca juga: Melihat Upaya Konservasi Tanaman dan Fauna Endemik Sulawesi di Taman Kehati Sawerigading Wallacea

Jika sistem konvensional memerlukan kolam pengendapan seluas sekitar 3-5 hektare untuk menangani debit air tertentu, LGS hanya membutuhkan sekitar 0,5 hektare berkat desain vertikal dengan kedalaman mencapai 9 meter.

Dari sisi operasional, perawatannya pun lebih hemat. Kolam konvensional perlu dikeruk setiap bulan, sementara LGS cukup dibersihkan setiap satu hingga dua tahun sekali.

Dengan efisiensi tersebut, kapasitas pengolahan LGS dapat mencapai 4.000 meter kubik air per jam pada kondisi normal, setara dengan kebutuhan air minum puluhan ribu orang per hari. Saat curah hujan meningkat, sistem ini masih mampu menangani debit lebih besar melalui saluran alternatif yang telah disiapkan.

Teknologi advanced

Seiring perkembangan teknologi, PT Vale melengkapi sistem LGS dengan inovasi bernama Intelligent Control for Mine Water Treatment (Incomatte). Sistem ini dapat memantau debit air secara real-time serta mengatur proses injeksi bahan kimia sesuai dosis yang diperlukan.

“Kalau dulu operator harus membuka dan menutup kran secara manual untuk mengatur dosis bahan kimia, sekarang semuanya otomatis. Dengan sistem ini, jika hujan turun dengan intensitas tinggi, injeksi bahan kimia akan menyesuaikan secara otomatis. Operator tidak perlu lagi membuka dan menutup kran secara manual,” jelas Hasliana.

Baca juga: Dari Film Sore ke Sorowako, Menelisik Komitmen Industri Wujudkan Praktik Tambang Berkelanjutan

Pengujian Incomet sendiri dilakukan pada 2020 hingga 2021 dan mulai diterapkan penuh pada 2024. Inovasi tersebut menjadikan sistem LGS PT Vale salah satu yang paling modern di industri pertambangan nasional.

Selain meningkatkan akurasi, automasi tersebut juga menekan biaya operasional serta meminimalkan risiko kesalahan manusia di lapangan.

Hasliana menambahkan, air yang telah melalui pengolahan tidak langsung dialirkan ke danau, tetapi terlebih dahulu melalui pengujian kualitas secara berlapis, baik di laboratorium internal Vale maupun oleh lembaga independen.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
Swasta
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
BUMN
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
Swasta
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau