Hasil pengujian menunjukkan bahwa air yang dilepas selalu berada di bawah baku mutu lingkungan, baik dari segi kekeruhan (TSS) maupun kadar logam berat.
“Hasil pengujian kami pastikan memenuhi standar lingkungan. Air yang sampai ke danau aman dan tidak membawa dampak negatif,” kata Hasliana menegaskan.
Berdasarkan kajian LCA yang dilakukan di perusahaan pada 2024 juga memperlihatkan bahwa pengendalian logam seperti chromium hexavalent berperan penting dalam mengurangi dampak negatif berupa ekotoksisitas yang berpotensi menjadi racun terhadap biota dan organisme dalam air.
Baca juga: Cerita Tabarano, Desa Kering di Wasuponda yang Disulap Jadi Agrowisata
Dengan demikian, teknologi ini tidak hanya menjaga kualitas air, tetapi juga kelestarian ekosistem danau yang unik tersebut.
Kini, di area pengolahan air tambang Sorowako, deretan tangki LGS berdiri di antara pepohonan hijau hasil reklamasi. Ribuan meter kubik air diolah setiap jam, kemudian dikembalikan ke alam dalam kondisi bersih.
Sementara itu, masyarakat sekitar tetap dapat memanfaatkan Danau Matano seperti biasa, baik untuk mengambil air minum, menjaring ikan, maupun menikmati kejernihan airnya.
Bagi PT Vale, teknologi seperti LGS bukan hanya bentuk kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga wujud tanggung jawab dalam menjaga keseimbangan antara alam dan industri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya