Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
CERITA LESTARI

Teknologi Canggih PT Vale Jaga Kejernihan Danau Matano

Kompas.com, 10 Oktober 2025, 20:38 WIB
Hotria Mariana,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

 

LUWU TIMUR, KOMPAS.com – Danau Matano, yang terletak di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, bukan sekadar perairan biasa. Danau ini merupakan keajaiban geologi sekaligus ekologi Indonesia.

Sebagai salah satu dari empat danau di Kompleks Danau Malili, Matano merupakan danau terdalam di Indonesia. Bahkan, danau ini menempati urutan kedelapan terdalam di dunia, dengan kedalaman mencapai 590 meter.

Lebih dari itu, Danau Matano dikenal sebagai danau purba karena telah terbentuk selama jutaan tahun. Kondisi tersebut menjadikan Matano rumah bagi berbagai spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain, seperti beberapa jenis ikan purba, udang, dan siput yang berevolusi secara alami.

Baca juga: Vale Indonesia Ubah Limbah Nikel Jadi Berkah lewat Inisiatif Sirkular

Bagi masyarakat sekitar, Danau Matano juga memiliki peran sangat vital. Airnya menjadi sumber air bersih, sumber protein, juga urat nadi perekonomian lokal. Oleh karena itu, menjaga kemurnian danau ini merupakan komitmen yang harus dipegang teguh.

Namun, menjaga kejernihan danau purba tersebut pun bukan hal yang sederhana. Di sisi timur Matano, PT Vale Indonesia Tbk telah menambang nikel selama lebih dari 50 tahun.

Setiap kali hujan turun, air mengalir melewati bukaan tambang, membawa partikel tanah dan logam terlarut. Air ini dikenal sebagai air limpasan tambang. Tanpa pengelolaan yang tepat, air limpasan dapat menurunkan kualitas air danau yang selama ini menjadi sumber air, mata pencaharian, dan kebanggaan warga Sorowako.

Fasilitas Lamella Gravity Settler (LGS) PT Vale di Sorowako mengolah air limpasan tambang agar memenuhi baku mutu sebelum dilepas ke alam.KOMPAS.com/HOTRIA MARIANA Fasilitas Lamella Gravity Settler (LGS) PT Vale di Sorowako mengolah air limpasan tambang agar memenuhi baku mutu sebelum dilepas ke alam.

Menyaring limpasan tambang di tengah hujan tropis

Sejak awal beroperasi, PT Vale Indonesia Tbk menyadari bahwa menjaga kualitas air Danau Matano berarti menjaga keberlanjutan kegiatan tambang itu sendiri.

“Air yang keluar dari area tambang tidak boleh membawa dampak negatif ke danau. Itu komitmen kami,” ujar Senior Manager Mine Infrastructure Maintenance & Development PT Vale Indonesia Tbk Hasliana Alimuddin.

Baca juga: Menitip Asa Masa Depan Tambang Berkelanjutan Vale Indonesia di Danau Matano

Lebih lanjut, Hasliana menerangkan bahwa di wilayah tambang Sorowako, air hujan yang jatuh di area seluas sekitar 9.000 hingga 10.000 hektare dikelola melalui sistem pengendalian yang terstruktur.

“PT Vale memiliki lebih dari 120 kolam sedimentasi dan 11 titik kepatuhan (compliance point) untuk memastikan kualitas air limpasan selalu memenuhi baku mutu lingkungan sebelum dilepaskan ke alam,” ucapnya.

Masalah utama dari air limpasan tambang adalah total suspended solid (TSS), yaitu partikel halus penyebab kekeruhan air, serta keberadaan Chromium heksavalen—logam berat berbahaya yang tidak terlihat tetapi dapat merusak ekosistem perairan jika kadarnya berlebih.

Ketika curah hujan meningkat, volume air yang mengalir dari area tambang dapat membawa partikel dalam jumlah besar. Karena itu, sistem pengelolaan harus mampu beradaptasi terhadap lonjakan debit air yang terjadi secara tiba-tiba.

Untuk menjawab tantangan tersebut, PT Vale bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)—kini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)—sejak 2011. Dari riset ini lahirlah Lamella Gravity Settler (LGS), yang menjadi salah satu sistem pengelolaan air limpasan berbasis terknologi modern di Operasional PT Vale Sorowako Tbk Site Sorowako.

“Proyek tersebut melalui beberapa tahap, mulai dari uji coba laboratorium dan pembuatan prototipe (2012), uji lapangan (2013), desain penuh (2014), konstruksi (2015), dan resmi beroperasi pada 2016,” tutur Hasliana.

LGS, teknologi cerdas dan efisien

Secara sederhana, LGS bekerja seperti saringan bertingkat yang mempercepat pemisahan lumpur dari air. Sistem ini dirancang vertikal dengan kedalaman hingga 9 meter sehingga mampu mengolah air dalam jumlah besar tanpa memerlukan lahan yang luas.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau