Menurut Eniya, perlu ada penyesuaian jika program B50 benar-benar akan dilaksanakan pada 2026. Ini mengingat produktivitas sawit mentah pada tahun depan kemungkinan tidak akan tumbuh secara signifikan. ESDM juga berencana menurunkan campuran biodiesel untuk pasar non subsidi.
Baca juga: Indef: Ambisi B50 Sejalan dengan Transisi Energi, tapi Butuh Stabilitas Pendanaan
Ini supaya bahan baku untuk produksi B50 pada pasar subsidi terjaga, yang diberikan hanya kepada pengguna dengan kewajiban pelayanan publik (public service obligation/PSO). Kata dia, program B50 kemungkinan tidak akan mengurangi volume ekspor minyak sawit mentah.
Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup (LH) /Kepala Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menganggap, sumber utama polusi udara di Jakarta berasal dari kendaraan berbahan bakar minyak (BBM).
Menurut Hanif, sebesar 90 persen BBM di Indonesia mengandung sulfur di atas 1.500 ppm atau jauh di atas standar kualitas emisi kendaraan di Eropa yang hanya mengizinkan maksimal 50 ppm.
Ia pesimistis kualitas udara di Jakarta bisa membaik. Apalagi, perbaikan kualitas udara di Jakarta membutuhkan upaya yang hampir mustahil untuk dilaksanakan, mengingat berkaitan dengan penggunaan BBM.
"Udara yang tidak sehat di Jakarta, sudahlah, kita renungkan saja. Melaksanakannya hampir-hampir tidak mungkin kita memperbaiki kualitas udara sehat di Jakarta, kecuali kita mampu berkeringat, kita siap berkeringat untuk itu," ujar Hanif di Jakarta, Kamis (28/8/2025).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya