Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Industri Penerbangan Asia Pasifik Siap Penuhi Target 5 Persen Avtur Berkelanjutan

Kompas.com, 21 November 2025, 18:41 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemerintah di seluruh Asia Pasifik telah mengambil langkah proaktif untuk membantu maskapai penerbangan mewujudkan penerbangan yang lebih berkelanjutan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Jenderal Asosiasi Maskapai Penerbangan Asia Pasifik (AAPA), Subhas Menon dalam wawancaranya dengan Channel News Asia.

Menurutnya pula, industri penerbangan Asia Pasifik berada di jalur yang tepat untuk mencapai target penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) sebesar 5 persen pada akhir dekade ini.

"Pemerintah di kawasan Asia Pasifik bekerja sama dengan maskapai penerbangan, pemasok bahan bakar, produsen, dan bandara untuk mencapai target tersebut. Sebagian besar pemerintah ini telah menyiapkan pemasok bahan bakar berkelanjutan mereka," ungkap Menon.

Sebelumnya para pemimpin AAPA pada 2023 berjanji untuk mengupayakan target pemanfaatan SAF sebesar 5 persen pada tahun 2030.

Baca juga: Studi Ungkap Emisi Penerbangan Nyata Bisa Tiga Kali Lipat Lebih Tinggi dari Kalkulator Karbon

Asosiasi perdagangan ini mewakili maskapai penerbangan yang berbasis di Asia Pasifik yang kini beranggotakan 18 maskapai.

Melansir Channel News Asia, Kamis (20/11/2025) semakin banyak pemerintah di kawasan Asia Pasifik yang memperkenalkan kebijakan dan peraturan yang bertujuan untuk mendukung target keberlanjutan industri.

Termasuk mendorong adopsi bahan bakar jet yang lebih bersih hingga mempromosikan inovasi teknologi dan kolaborasi antar sektor.

Singapura, misalnya, menerapkan pungutan SAF minggu lalu. Penumpang pesawat yang berangkat dari Singapura harus membayar bea mulai dari 0,77 dolar AS per tiket, tergantung pada tujuan perjalanan dan kelas perjalanan mereka.

Singapura juga menargetkan SAF mencapai 1 persen dari seluruh bahan bakar jet tahun depan, dan meningkat menjadi 3 hingga 5 persen pada tahun 2030.

Sementara Indonesia sedang mempertimbangkan peraturan yang mewajibkan penerbangan internasional dari Jakarta dan Bali menggunakan campuran SAF 1 persen mulai tahun depan, dan secara bertahap akan meningkat menjadi 5 persen pada tahun 2035.

Menurut Menon, pemerintah memang perlu menegakkan kebijakan dan regulasi untuk mempercepat produksi dan adopsi SAF karena biaya tinggi, infrastruktur terbatas, dan ketidakpastian pasar menyulitkan sektor swasta untuk meningkatkan skalanya sendiri.

Sebagian besar pakar penerbangan sepakat bahwa bahan bakar jet berkelanjutan saat ini merupakan jalur yang paling memungkinkan menuju langit yang lebih hijau karena dapat digunakan dengan pesawat dan infrastruktur bandara yang ada.

Bahan bakar tersebut terbuat dari bahan terbarukan atau berbasis limbah, bukan minyak bumi. Bahan bakar ini dapat berasal dari biofuel yang berasal dari tanaman, sumber berbasis limbah seperti minyak goreng bekas, atau bahan bakar elektronik sintetis yang dibuat dengan menggabungkan karbon yang ditangkap dengan hidrogen.

Namun, ketersediaannya masih sangat terbatas. Komoditas ini hanya menyumbang 0,3 persen dari produksi bahan bakar jet global pada tahun 2024.

Baca juga: Staf Maskapai Dunia Desak Industri Penerbangan Percepat Aksi Iklim

Menon mengatakan pula bahwa kemajuan teknologi untuk meningkatkan efisiensi juga merupakan bagian penting dari peta jalan industri menuju emisi nol bersih.

Tapi masih ada juga hambatan lain yang menghadang yakni kebijakan tarif yang diberlakukan AS yang diperkirakan akan memacu inflasi dan menghambat pemulihan rantai pasokan yang meliputi produksi, pengiriman pesawat, mesin dan komponen.

Kendati demikian permintaan perjalanan diproyeksikan akan terus tumbuh.

Setiap tahun sejak pandemi, jumlah wisatawan terus meningkat, mencerminkan minat dunia yang tak kunjung pudar untuk bepergian.

Pada tahun 2024, terdapat 1,5 miliar kedatangan internasional secara global, meningkat 12 persen dari tahun sebelumnya.

“Permintaan untuk perjalanan udara, baik kargo maupun penumpang, sangat kuat. Semua orang ingin bepergian, baik untuk bisnis maupun liburan,” kata Menon.

“Jadi, itulah mengapa Anda melihat pemerintah di Asia Pasifik melakukan yang terbaik untuk mendukung pertumbuhan industri ini, bahkan sambil berusaha membantu mereka mengatasi masalah keberlanjutan,” pungkasnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Apresiasi Pengabdian untuk Masjid, AQUA bersama DMI dan BPMI Berangkatkan 26 Marbot dan Pengurus Masjid ke Tanah Suci
Apresiasi Pengabdian untuk Masjid, AQUA bersama DMI dan BPMI Berangkatkan 26 Marbot dan Pengurus Masjid ke Tanah Suci
Pemerintah
Langkah Membumi 2026, Persempit Jarak Kepedulian dan Aksi Anak Muda
Langkah Membumi 2026, Persempit Jarak Kepedulian dan Aksi Anak Muda
Swasta
PepsiCo, BWC, dan Pemkot Denpasar Ubah Sampah Bekas Kemasan Jadi Papan Penanda Jalan
PepsiCo, BWC, dan Pemkot Denpasar Ubah Sampah Bekas Kemasan Jadi Papan Penanda Jalan
Swasta
KKP Siapkan 6 Proyek Prioritas Karbon Biru, Tersebar di 6 Wilayah
KKP Siapkan 6 Proyek Prioritas Karbon Biru, Tersebar di 6 Wilayah
Pemerintah
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Swasta
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
LSM/Figur
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Pemerintah
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Pemerintah
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
LSM/Figur
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Pemerintah
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau