Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
SOROT HILIRISASI

Cerita dari Pulau Obi: Reklamasi Tambang Tak Sekadar Menanam Ulang

Kompas.com, 21 November 2025, 18:04 WIB
Hotria Mariana,
Agung Dwi E,
Aditya Mulyawan

Tim Redaksi

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Setiap 21 November, Hari Pohon Sedunia diperingati sebagai pengingat bahwa keberlangsungan hidup manusia sangat bergantung pada kesehatan ekosistem.

Di tengah perubahan iklim dan peningkatan kebutuhan lahan, momentum ini juga menegaskan signifikansi pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, termasuk pada sektor pertambangan.

Pelaku usaha di sektor ekstraksi pun dituntut untuk beroperasi secara berkelanjutan, salah satunya melalui reklamasi dan kegiatan pascatambang lain.

Dosen Fakultas Kehutanan dan Lingkungan sekaligus Kepala Pusat Studi Reklamasi Tambang Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Ir Irdika Mansur, MForSc, mengatakan, perusahaan tambang kini tak bisa lagi sekadar menambang lalu pergi.

“Regulasi mewajibkan pelaku sektor pertambangan untuk merencanakan dari awal bagaimana lahan itu dipulihkan,” jelasnya saat dihubungi Kompas.com, Jumat (14/11/2025).

Baca juga: Harita Nickel Penuhi Standar Kualitas Air Tanah di Kawasan Industri

Reklamasi berbasis sains

Irdika telah menekuni riset reklamasi sejak 1995. Ia turut menyusun sejumlah regulasi penting, seperti Peraturan Menteri Kehutanan P.60/2009, serta terlibat dalam penyusunan standar teknis reklamasi tambang di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Menurut dia, regulasi Indonesia sudah mengatur secara rinci reklamasi tambang, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pemeliharaan jangka panjang.

Mulai dari Permenhut P.60/2009, Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010, hingga Keputusan Menteri ESDM Nomor 344.K/MB.01/MEM.B/2025, pendekatan berbasis sains menjadi dasar dalam penataan lahan dan revegetasi. Jadi, perusahaan tambang tidak bisa melakukan reklamasi secara asal-asalan.

Dalam aspek penataan lahan dan pengendalian erosi, misalnya, diperlukan kajian hidrologi dan geoteknik. Sementara itu, revegetasi menuntut penggunaan jenis tanaman lokal, sebanyak 40 persen, yang sesuai biofisik setempat, pengelolaan top soil, serta penentuan jarak, pola tanam, hingga jenis cover crop.

“Jadi, transformasi reklamasi yang mengarah ke lingkungan dan ekosistem (berbasis sains) ini sudah berjalan dari dulu. Sekarang makin kuat,” katanya.

Baca juga: Harita Nickel Catat Pendapatan Rp 22,40 Triliun hingga Kuartal III-2025

Manfaat ekonomi

Irdika menilai, regulasi dan praktik reklamasi di Indonesia sudah cukup baik karena fokus pada pemulihan ekosistem lahan pascatambang. Meski begitu, ia memandang, reklamasi dapat diperluas agar memberikan dampak ekonomi lebih besar kepada masyarakat.

Ia memberi contoh lahan pascatambang yang dapat dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan, air, dan energi.

“Lahan bekas tambang bisa diubah menjadi kebun jagung, sawah, peternakan sapi, hingga perikanan. Contohnya, cover crop lahan reklamasi bisa ditanam rumput pakan ternak untuk menyokong peternakan,” ujarnya.

Terlebih, kawasan tambang umumnya memiliki jaringan jalan yang terhubung ke pelabuhan sehingga distribusi hasil pertanian atau perkebunan dari lahan pascatambang lebih efisien.

“Semisal lahan pascatambang di Kalimantan Tengah diubah untuk pertanian atau perkebunan dan hasilnya dipasarkan di Kalimantan Tengah, harga pangan bisa lebih murah,” lanjutnya.

Baca juga: Tambang Ramah Lingkungan Jadi Tren, Ini Upaya Harita Nickel dan Dairi Prima Jaga Alam

Reklamasi lahan bekas tambang di Pulau Obi dilakukan bersamaan dengan kegiatan operasi, tidak menunggu tambang berhenti beroperasi. Harita Nickel menggunakan berbagai jenis tanaman khas Maluku Utara, mulai dari Cemara Laut, Johar, Sengon, Jabon Merah, Matoa, hingga Nangka untuk mengembalikan kesehatan ekosistem.Dok. istimewa Reklamasi lahan bekas tambang di Pulau Obi dilakukan bersamaan dengan kegiatan operasi, tidak menunggu tambang berhenti beroperasi. Harita Nickel menggunakan berbagai jenis tanaman khas Maluku Utara, mulai dari Cemara Laut, Johar, Sengon, Jabon Merah, Matoa, hingga Nangka untuk mengembalikan kesehatan ekosistem.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau