KOMPAS.com - Sebuah studi baru menemukan bahwa sebagian besar kapal melanggar batas polusi udara.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) telah menetapkan peraturan untuk polusi pelayaran sejak tahun 2005 namun kenyataannya sulit untuk mengetahui apa yang terjadi setelah kapal berada di laut.
Profesor James Lee dari Universitas York pun berinisiatif untuk mengukur polusi udara dari masing-masing kapal.
“Kami ingin melihat seberapa luas peraturan baru dipatuhi dan kemudian melihat dampaknya terhadap atmosfer," katanya dikutip dari Guardian, Jumat (28/11/2025).
Baca juga: Jangkar Kapal Merusak Terumbu Karang di TN Komodo, Potret Gagalnya Tata Kelola Pariwisata
Peneliti pun kemudian menggunakan pesawat FAAM dari Inggris dan Portugal pada tahun 2019 dan kemudian kembali pada tahun 2021 dan 2022 untuk mengambil sampel asap.
“Bagian tersulit adalah menemukan gumpalan asap. Kami akan menempatkan pesawat FAAM di area operasi. Seseorang di bandara menggunakan situs web pelacak kapal dan menyampaikan koordinat, arah, dan deskripsi visual melalui Satcom," terang Dr. Dominika Pasternak, salah satu peneliti dalam studi ini.
Ia juga menjelaskan pesawat sering terbang hanya 30 meter di atas air.
Dengan data kecepatan dan arah angin, kecepatan dan arah kapal, sedikit trigonometri, dan kemampuan terbang yang sangat terampil, peneliti pun berhasil menemukan 130 gumpalan asap kapal.
Di laut lepas, delapan dari 19 kapal mengeluarkan emisi sulfur lebih banyak daripada yang diizinkan pada tahun 2019.
Kapal-kapal tersebut termasuk kapal kontainer berbobot 61.900 ton dan kapal tanker minyak mentah berbobot 86.100 ton. Lima dari 78 kapal melampaui batas yang lebih ketat pada tahun 2021 dan 2022.
Sementara itu, zona polusi udara yang lebih ketat berlaku di Selat Inggris dan Laut Utara.
Hal ini sebagian besar efektif, tetapi peneliti menemukan dua dari 33 kapal melanggar batas. Dalam satu kasus, sebuah kapal kontainer berbobot 200.000 ton ditemukan melanggar batas sulfur di laut lepas, tetapi kemudian beralih ke bahan bakar yang lebih bersih ketika sampelnya diambil lebih dekat ke daratan di zona Selat Inggris dan Laut Utara.
Baca juga: PBB Ingin Kapal Nol Emisi, AS Hadang dengan Ancaman bagi Pendukungnya
Polusi udara dari pembakaran bahan bakar kapal sebenarnya dapat diukur lebih jauh ke daratan. Misalnya di London dan diperkirakan telah menimbulkan kerugian sebesar 1,5 miliar poundsterling bagi Inggris dalam dampak kesehatan pada tahun 2017.
"Penelitian kami juga menunjukkan bahwa kapal merupakan sumber polusi udara lokal yang signifikan ketika berlayar dekat dengan pantai. Kebijakan diperlukan untuk mengurangi ini," papar Lee.
IMO sendiri juga hampir menyelesaikan regulasi lingkungan baru yang akan membatasi emisi kapal secara ketat di wilayah laut Inggris dan Atlantik Utara mulai tahun 2027, memaksa kapal-kapal untuk menggunakan bahan bakar yang lebih bersih.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya