Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Populasi Hiu Putih Besar di Laut Mediterania Menurun, Ini Alasannya

Kompas.com, 3 Januari 2026, 18:56 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber BBC, OCCRP

KOMPAS.com - Populasi hiu putih besar (great white sharks) di Laut Mediterania dikabarkan menurun akibat penangkapan ilegal dan perdagangan. Bahkan, tercatat 40 hiu putih besar telah dibunuh untuk dijual di pasar ikan di Afrika Utara, tahun 2025. 

Studi terbaru ilmuwan Amerika Serikat (AS) bersama badan amal Inggris, Blue Marine Foundation, mengungkapkan, beberapa spesies yang paling terancam punah dijual di pelabuhan-pelabuhan perikanan di Afrika Utara.

Baca juga: 

"Lebih dari 40 hiu putih besar telah ditangkap di sekitar pantai Mediterania, Afrika Utara. Itu jumlah yang sangat banyak untuk populasi yang terancam punah," ujar peneliti dari Universitas Virginia Tech, Francesco Ferretti, dilansir dari BBC, Sabtu (3/1/2026). 

Populasi hiu putih besar di Laut Mediterania menurun

Hiu putih besar diprediksi bisa punah dalam waktu dekat

Populasi hiu putih besar di Laut Mediterania dikabarkan menurun akibat penangkapan ilegal dan perdagangan.wikimedia commons Populasi hiu putih besar di Laut Mediterania dikabarkan menurun akibat penangkapan ilegal dan perdagangan.

Penangkapan ikan ilegal telah menyebabkan populasi hiu putih besar di Laut Mediterania menyusut secara drastis.

Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) telah mengklasifikasikan populasi hiu putih besar Mediterania sebagai sangat terancam punah.

Tidak hanya itu, Ferretti bahkan memprediksi hiu putih besar kemungkinan akan punah dalam waktu dekat.

Pengaturan perlindungan populasi hiu di Laut Mediterania bisa sangat kompleks. Uni Eropa dan 23 negara di sekitar Mediterania telah menandatangani perjanjian internasional untuk melarang 24 spesies hiu ditangkap untuk dijual.

Perjanjian internasional tersebut memerintahkan untuk melepas spesies-spesies tersebut tanpa mencederai atau dalam keadaan hidup jika tertangkap.

Namun, penegakan hukum atas aturan dalam perjanjian internasional bervariasi dari satu negara ke negara lain.

Adapun hiu putih besar merupakan salah satu dari 24 spesies hiu Mediterania yang dilindungi oleh hukum internasional. Hal itu berarti memancing atau menjual hiu putih besar adalah tindakan ilegal.

Di sisi lain, Sara Almabruk dari Masyarakat Biologi Kelautan Libya mengatakan bahwa sebagian tangkapan nelayan-nelayan miskin di Afrika Utara merupakan kecelakaan.

"Mengapa mereka membuang hiu kembali ke laut ketika mereka membutuhkan makanan untuk anak-anak mereka? Jika Anda mendukung mereka dan melatih mereka dalam penangkapan ikan yang lebih berkelanjutan, mereka tidak akan menangkap hiu putih, atau hiu jenis apa pun," jelas Almabruk.

Baca juga: 

Jejak penangkapan hiu putih besar

Populasi hiu putih besar di Laut Mediterania dikabarkan menurun akibat penangkapan ilegal dan perdagangan. Populasi hiu putih besar di Laut Mediterania dikabarkan menurun akibat penangkapan ilegal dan perdagangan.

Spesies-spesies hiu Mediterania yang terancam punah dan dilindungi kerap ditemukan di pelabuhan-pelabuhan perikanan pantai Mediterania di Afrika Utara.

Dilansir dari laman resmi Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP), hiu sudah sering diburu untuk dijual di Teluk Gabes, bagian selatan Kelibia, Tunisia, yang kemudian diselundupkan ke Italia.

Di wilayah Sahil di Afrika, misalnya, sektor perikanan bangkit menjadi pendapatan utama, dengan ribuan kapal penangkap ikan berlayar ke teluk setiap hari.

Kebangkitan sektor perikanan terjadi seiring penurunan pariwisata di Sahil karena ancaman terorisme dan Covid-19.

"Sebagian besar waktu, nelayan menangkap hiu ketika hiu tersebut terjerat dalam jaring yang ditujukan untuk ikan lain, tetapi beberapa nelayan secara aktif memburu hiu menggunakan pancing panjang berumpan. Hal ini terutama terjadi di sekitar Kelibia," ujar pendiri asosiasi lingkungan Tunisia yang khusus melindungi hiu, HOUTIYA, Sami Mhenni.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau