Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penelitian Lebih dari Satu Dekade Ungkap Populasi Hiu Paus di Papua

Kompas.com, 29 Agustus 2025, 13:39 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com – Sebuah riset terkini yang baru diterbitkan di jurnal Frontiers in Marine Science mengungkap populasi hiu paus (Rhincodon typus) di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) atau Bird Head Seascape (BHS), Papua.

Riset ini merupakan yang pertama menyoroti secara komprehensif dinamika populasi, pola residensi, dan ancaman terhadap spesies yang terancam punah ini di empat wilayah utama di BLKB yakni, Teluk Cenderawasih, Kaimana, Raja Ampat, dan Fakfak.

Riset yang dilakukan selama 13 tahun sejak September 2010 hingga Oktober 2023 ini dipimpin oleh Edy Setyawan dari Elasmobranch Institute Indonesia.

Baca juga: Hiu “Sailback Houndshark” Muncul Kembali Setelah 50 Tahun Menghilang

Peneliti lainnya adalah Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Kaimana, Yayasan Konservasi Indonesia.

Dari luar Indonesia, pihak yang juga tuturt terlibat adalah Conservation Internasional, University of Western Australia, University of Adelaide, dan Shark Research Foundation yang memberikan masukan dalam analisis data dan penulisan studi.

Temuan-temuan dari riset ini menandai langkah penting untuk meningkatkan upaya pemantauan dan konservasi hiu paus di BLKB, khususnya di Teluk Cenderawasih dan Kaimana.

Edy Setyawan mengungkapkan, riset ini dilakukan menggunakan data berbasis identifikasi fotografis (Foto ID) yang memanfaatkan pola totol dan garis yang unik tubuh hiu paus untuk membedakan setiap individu.

Dari sebanyak 1.118 pengamatan, tim berhasil mengidentifikasi 268 individu hiu paus yang hampir seluruhnya ditemukan di sekitar bagan apung, 159 individu di Teluk Cenderawasih dan 95 individu di Kaimana.

”Temuan kami menunjukkan bahwa BLKB menjadi habitat penting bagi populasi hiu paus muda yang menggunakan kawasan ini untuk makan dan tumbuh berkembang sebelum mereka bermigrasi ke laut lepas," jelas dia dalam keterangan resmi, Kamis (28/8/2025).

Di seluruh perairan Indo-Pasifik, jelas Edy, populasi hiu paus terus menurun hingga 63 persen. Dengan demikian, keberlangsungan populasi hiu paus di BLKB sangat penting dalam upaya pemulihan populasi ikan yang terancam punah ini.

Baca juga: Ilmuwan Temukan Hiu Oranye Bermata Putih, Kondisi Langka di Dunia Laut

Masa Menetap yang Lama

Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah masa menetap atau residensi hiu paus yang relatif tinggi di Teluk Cenderawasih dibandingkan dengan agregasi hiu paus di lokasi atau negara lain.

Tingkat residensi hiu paus di Teluk Cenderawasih rata-rata 77 hari, sementara di Kaimana hanya setengahnya dengan rata-rata 38 hari.

Selain itu, lebih dari setengah dari total individu yang diidentifikasi teramati lebih dari satu kali. Bahkan, ada dua individu masih terlihat berada ke wilayah ini dalam rentang waktu lebih dari 10 tahun.

Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Iqbal Herwata, yang juga menjadi salah satu penulis dari jurnal ini menjelaskan bahwa BLKB, khususnya Teluk Cenderawasih dan Kaimana, berperan sebagai nursery ground atau habitat pembesaran bagi hiu paus muda.

“Selain keterkaitannya yang erat dengan perikanan bagan, temuan ini juga menunjukkan bahwa dinamika populasi hiu paus di empat lokasi didominasi oleh jantan muda, dengan mayoritas individu berukuran 4–5meter yang menandakan dominasi habitat pembesaran,” kata Iqbal.

Baca juga: Populasi Hiu Paus Turun 50 Persen, Industri Kapal Didorong Lebih Ramah Satwa

Riset juga menekankan pentingnya upaya pengelolaan wisata berbasis bagan secara hati-hati untuk mengurangi risiko luka akibat interaksi dengan bagan dan kapal.

Hasil riset mengungkap bahwa 76,9 persen hiu paus di BLKB mengalami sejumlah luka, mulai dari abrasi/goresan, sayatan, amputasi sirip, hingga bekas gigitan pemangsa.

Meski hanya sebagian kecil luka yang diakibatkan baling-baling kapal yaitu sekitar 2,4 persen, namun proporsi luka yang terkait interaksi manusia baik melalui perikanan maupun wisata tetap tinggi, utamanya di perairan Kaimana, mencapai 83,7 persen.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau