Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Masa Depan Prediksi Badai, Ilmuwan Pakai Hiu untuk Dapatkan Data Cuaca

Kompas.com, 28 Juli 2025, 16:32 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Untuk memprediksi badai lebih akurat, para peneliti menggunakan bantuan yang tidak dibayangkan sebelumnya: hiu.

Para peneliti melengkapi tiga hiu di Samudra Atlantik dengan sensor. Cara ini adalah pendekatan baru yang unik, berbeda dari metode tradisional yang dilakukan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dengan menggunakan pesawat.

“Lautan begitu luas, begitu dahsyat, sehingga sebagian besar tidak dapat diakses oleh apa pun,” ujar Aaron Carlisle, ahli ekologi kelautan dari University of Delaware yang memimpin upaya tersebut, dikutip dari Independent, Sabtu (26/7/2025).

Namun dengan memasang alat pada hewan laut, para ilmuwan bisa menjadikannya seperti sensor berjalan yang terus-menerus mengumpulkan data penting dari lautan.

Hiu-hiu yang dipasangi sensor nantinya bertugas mengukur konduktivitas dan suhu air laut. Data ini penting karena suhu permukaan laut yang ekstrem belakangan ini, yang disebabkan oleh pemanasan global, telah memicu badai yang lebih besar dan lebih kuat.

Baca juga: Peneliti Soroti Dampak Naiknya Air Laut Terhadap Kehidupan Masyarakat Pesisir

Walaupun belum tentu hiu-hiu ini akan berenang langsung ke dalam badai, data suhu yang mereka kumpulkan sangat berharga. Data ini membantu para ilmuwan memprediksi jalur dan kekuatan badai yang akan datang, sehingga AS bisa bersiap lebih baik setiap musim badai.

Hiu bisa mendapatkan data yang sulit dijangkau karena satelit hanya bisa memantau permukaan laut, sementara robot bawah air (glider) yang biasa digunakan terlalu lambat dan mahal. Posisi hiu sebagai predator puncak juga memberi mereka akses unik ke informasi penting di dalam lautan.

Tag atau tanda pada hiu memiliki kemampuan untuk mengumpulkan data tersebut dengan lebih efisien.

Dalam skenario ini dua hiu mako dipasangi tag untuk mengukur suhu, kedalaman, dan konduktivitas. Sementara seekor hiu putih dipasangi tag satelit untuk membantu mengevaluasi apakah spesies ini bisa menjadi kandidat yang baik untuk pemasangan tag serupa di masa depan. Mereka juga mungkin akan menguji hiu martil dan hiu paus.

"Mereka lebih efisien daripada robot glider karena lebih cepat dan bisa berada di laut lebih lama. Harapannya hiu-hiu ini bisa melengkapi dan bekerja sama dengan alat pemantau cuaca yang sudah ada saat ini," ungkap Caroline Wiernicki, seorang ahli ekologi hiu dan mahasiswa PhD.

Ke depannya, rencananya adalah menandai puluhan hiu setiap tahun dan memasukkan data tersebut ke dalam model komputer badai.

Sejauh ini, Carlisle mengatakan salah satu dari dua hiu tersebut telah mengirimkan data suhu kepada mereka, tetapi hiu yang lain berenang di air yang terlalu dangkal sehingga sensor tidak dapat menyala.

Baca juga: Laju Kenaikan Permukaan Air Laut Melonjak 2 Kali Lipat

Para peneliti mengatakan bahwa mereka memilih hiu mako karena mereka sering kembali ke permukaan, sehingga memungkinkan penanda mengirimkan data ke satelit untuk diambil oleh para ilmuwan.

Hiu mako juga mampu berenang dengan kecepatan lebih dari 64 kilometer per jam.

Peneliti juga memastikan bahwa sensor yang dipasangkan pada hiu tidak akan berdampak buruk bagi sirip dan menyakiti hewan.

Saat ini, satu dari tiga spesies hiu dan pari terancam punah. Menurut International Fund for Animal Welfare, penangkapan ikan yang berlebihan telah menyebabkan populasi hiu dan pari global turun lebih dari 70 persen sejak tahun 1970-an.

Organisasi amal ini mencatat bahwa manusia membunuh sekitar 190 hiu per menit dan 100 juta hiu setiap tahun dalam perikanan komersial.

Baca juga: Akibat Krisis Iklim, Risiko Tabrakan Hiu Paus dengan Kapal Semakin Tinggi

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Pemerintah
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau