Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lebih dari 70 Jenis Hiu Kini Dilindungi dan Diperketat Perdagangannya

Kompas.com, 3 Desember 2025, 11:26 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP, AP

KOMPAS.com - Upaya perlindungan hiu dan pari memasuki babak baru. Lebih dari 70 spesies hiu dan pari mendapat perlindungan lebih usai negara-negara di dunia menyepakati aturan baru.

Keputusan ini diambil pada konferensi perdagangan satwa liar Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) di Uzbekistan, Jumat (28/11/2025) lalu.

Baca juga:

“Ini adalah kemenangan bersejarah, dan kemenangan ini milik para pihak yang memperjuangkan perlindungan ini. Negara-negara di Amerika Latin, Afrika, Pasifik, dan Asia bersatu dalam menunjukkan kepemimpinan dan solidaritas yang kuat, dengan menyetujui setiap usulan perlindungan hiu dan ikan pari," kata Direktur Konservasi Hiu dan Ikan Pari di Wildlife Conservation Society, Luke Warwick, dilansir dari AP, Rabu (3/12/2025).

Keputusan itu lahir dari kekhawatiran besar, khususnya terkait penangkapan berlebihan dan krisis iklim yang membuat banyak spesies hiu dan pari berada di ambang kepunahan.

Untuk itu, negara-negara di dunia sepakat memperketat perdagangan global yang selama ini mendorong penurunan populasi sangat cepat.

Jenis-jenis hiu yang dilindungi dan diperketat perlindungannya

Dunia menyepakati perlindungan baru bagi 70 jenis hiu, ada yang dilarang dan ada pula yang diperketat perdagangannya. Simak selengkapnya. Dunia menyepakati perlindungan baru bagi 70 jenis hiu, ada yang dilarang dan ada pula yang diperketat perdagangannya. Simak selengkapnya.

Dalam konferensi tersebut, terdapat kesepakatan bahwa perdagangan whitetip sharks (hiu putih laut), manta, devil rays, serta whale sharks (hiu paus) dilarang. 

Tidak hanya itu, regulasi untuk untuk gulper sharks (hiu gulper), smoothhound sharks (hiu smoothhound), dan tope sharks (hiu tope) diperketat. Artinya, mereka dapat diperdagangkan, tapi harus ada bukti bahwa sumbernya legal, berkelanjutan, dan dapat dilacak.

Para delegasi juga menyetujui zero-annual export quotas untuk beberapa jenis guitarfish dan wedgefish.

Kebijakan ini membuat perdagangan internasional yang legal untuk spesies itu hampir sepenuhnya berhenti.

Baca juga:

Keputusan bersejarah terkait konservasi

Dunia menyepakati perlindungan baru bagi 70 jenis hiu, ada yang dilarang dan ada pula yang diperketat perdagangannya. Simak selengkapnya.DOK. Pixabay Dunia menyepakati perlindungan baru bagi 70 jenis hiu, ada yang dilarang dan ada pula yang diperketat perdagangannya. Simak selengkapnya.

Dari sisi konservasi global, keputusan itu menegaskan perubahan besar cara dunia melihat hiu.

Senior Program Manager di International Fund for Animal Welfare, Barbara Slee menyebut keputusan tersebut sebagai "kemenangan bersejarah".

"Ini adalah kemenangan bersejarah bagi hiu, sesuatu yang kami sangat harapkan. Data ilmiah secara jelas menunjukkan bahwa hiu perlu diperlakukan sebagai isu konservasi, bukan sebagai sumber daya perikanan," kata Slee, dilansir dari AFP

Slee menambahkan, selama berabad-abad, hiu sudah diburu manusia untuk diambil sirip dan dagingnya. 

"Orang mungkin takut pada hiu, tapi kenyataannya kita jauh lebih berbahaya bagi mereka, dengan lebih dari 100 juta hiu dibunuh setiap tahun," ucap dia.

Perlindungan baru ini, lanjutnya, akan membantu mengubah keseimbangan tersebut, sekaligus mengakui serta menghormati hiu-hiu ini sebagai lebih dari sekadar komoditas perikanan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
LSM/Figur
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Pemerintah
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
LSM/Figur
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Swasta
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Pemerintah
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pemerintah
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Swasta
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Pemerintah
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
LSM/Figur
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Pemerintah
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
LSM/Figur
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Pemerintah
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Pemerintah
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
LSM/Figur
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau