Penggunaan lahan untuk aktivitas manusia turut memperburuk kondisi wabah penyakit.
Penebangan hutan untuk pertanian, jalan, dan tambang membuat manusia lebih dekat dengan satwa liar yang dapat menjadi inang bagi virus dan patogen baru.
Banyaknya manusia dan hewan dalam permukiman padat dan pertanian industri meningkatkan peluang bagi virus untuk berpindah dan menyebar dengan cepat.
Selain itu, terjadi pula hilangnya keanekaragaman hayati yang terkadang dapat menguntungkan spesies yang membawa patogen berbahaya.
Studi ini juga menganalisis seberapa siap negara dalam menghadapi penyebaran penyakit.
Papua Nugini dan Republik Kongo, misalnya, dinilai cukup berisiko. Selain penyakitnya yang membahayakan, infrastruktur yang tersedia pun terbatas. Akibatnya, klinik, laboratorium, dan staf terlatis mungkin akan kewalahan bila wabah menyebar dengan cepat.
Baca juga: Perubahan Iklim Berisiko Tingkatkan Penyakit Pernapasan hingga Gangguan Mental
Studi mengungkap 9,3 persen daratan dunia rentan wabah penyakit berbahaya. Negara mana yang berisiko?Kendati demikian, persiapan menghadapi wabah tak hanya dari jumlah tempat tidur rumah sakit, tapi juga deteksi dini penyakit, komunikasi yang jelas, dan akses vaksin.
Saat ini, WHO juga terus merevisi daftar prioritas penyakit yang berpotensi memicu wabah besar secara berkala dengan menambahkan ancaman-ancaman yang belum diketahui.
WHO menggunakan nama sementara "Disease X" (Penyakit X) guna mendorong kesiapsiagaan yang fleksibel.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya