Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Daratan Dunia Rentan Wabah Penyakit akibat Krisis Iklim, Negara Mana yang Berisiko?

Kompas.com, 5 Januari 2026, 18:15 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Sebesar 9,3 persen daratan dunia cukup rentan terhadap risiko wabah penyakit berbahaya. Menurut studi di jurnal Science Advances, lokasi-lokasi rentan tersebut terkonsentrasi di Amerika Latin dan Oseania, yang mana masyarakatnya telah ditekan perubahan iklim dan pembangunan lahan.

Dipimpin oleh veterinary epidemiologist di Joint Research Centre Komisi Eropa, Angela Fanelli, studi ini mengidentifikasi peta negara-negara yang paling rentan terhadap wabah, serta negara-negara yang paling tidak siap untuk mendeteksi wabah dan menahannya.

Baca juga: 

Untuk menghasilkan peta tersebut, para peneliti menggunakan machine learning dan data satelit. 

Studi ini berfokus pada bagaimana perubahan lingkungan yang disebabkan oleh manusia membentuk risiko epidemi dan membebani kemampuan negara untuk merespons krisis secara efektif.

Hasilnya, sebesar 6,3 persen daratan global termasuk dalam kategori risiko tinggi, dengan tiga persen lainnya diklasifikasikan sebagai risiko sangat tinggi.

Sekitar 20 persen penduduk tinggal di daerah berisiko sedang, sedangkan tiga persen tinggal di zona berisiko tinggi atau sangat tinggi.

Baca juga:

Daratan di bumi rentan risiko wabah penyakit

Sebagian besar penyakit di peta tersebut adalah zoonosis

Studi mengungkap 9,3 persen daratan dunia rentan wabah penyakit berbahaya. Negara mana yang berisiko?SHUTTERSTOCK/Billion Photos Studi mengungkap 9,3 persen daratan dunia rentan wabah penyakit berbahaya. Negara mana yang berisiko?

Sebagian besar penyakit dalam peta ini adalah zoonosis, penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia melalui infeksi dan kontak. 

Sebelumnya, terdapat perkiraan, sekitar tiga perempat infeksi baru yang menjangkiti manusia di seluruh dunia bermula dari hewan lain.

Ketika manusia memperluas permukiman ke hutan, misalnya, kepadatan penduduk tersebut meningkatkan penularan virus ke manusia. 

Pemodelan baru selanjutnya menunjukkan bahwa suhu yang lebih tinggi, curah hujan yang lebih deras, dan kekeringan yang lebih parah bisa meningkatkan risiko wabah.

Penelitian terbaru juga menghubungkan perubahan iklim dengan perubahan rute migrasi, siklus perkembangbiakan, dan habitat yang membawa satwa liar lebih dekat ke manusia.

Musim panas yang lebih panjang memungkinkan nyamuk dan kutu pembawa penyakit bertahan hidup di tempat-tempat baru, sekaligus mendorong infeksi dari wilayah tropis ke wilayah lintang lebih tinggi.

Baca juga: Akses Kesehatan Berkelanjutan, Kunci Atasi Penyakit Pernapasan Kronis

Pengaruh dari aktivitas manusia

Studi mengungkap 9,3 persen daratan dunia rentan wabah penyakit berbahaya. Negara mana yang berisiko?Pexels/ Mikhail Nilov Studi mengungkap 9,3 persen daratan dunia rentan wabah penyakit berbahaya. Negara mana yang berisiko?

Penggunaan lahan untuk aktivitas manusia turut memperburuk kondisi wabah penyakit.

Penebangan hutan untuk pertanian, jalan, dan tambang membuat manusia lebih dekat dengan satwa liar yang dapat menjadi inang bagi virus dan patogen baru.

Banyaknya manusia dan hewan dalam permukiman padat dan pertanian industri meningkatkan peluang bagi virus untuk berpindah dan menyebar dengan cepat.

Selain itu, terjadi pula hilangnya keanekaragaman hayati yang terkadang dapat menguntungkan spesies yang membawa patogen berbahaya.

Studi ini juga menganalisis seberapa siap negara dalam menghadapi penyebaran penyakit.

Papua Nugini dan Republik Kongo, misalnya, dinilai cukup berisiko. Selain penyakitnya yang membahayakan, infrastruktur yang tersedia pun terbatas. Akibatnya, klinik, laboratorium, dan staf terlatis mungkin akan kewalahan bila wabah menyebar dengan cepat.

Baca juga: Perubahan Iklim Berisiko Tingkatkan Penyakit Pernapasan hingga Gangguan Mental

Tindakan preventif

Studi mengungkap 9,3 persen daratan dunia rentan wabah penyakit berbahaya. Negara mana yang berisiko?Freepik/katemangostar Studi mengungkap 9,3 persen daratan dunia rentan wabah penyakit berbahaya. Negara mana yang berisiko?

Kendati demikian, persiapan menghadapi wabah tak hanya dari jumlah tempat tidur rumah sakit, tapi juga deteksi dini penyakit, komunikasi yang jelas, dan akses vaksin.

Saat ini, WHO juga terus merevisi daftar prioritas penyakit yang berpotensi memicu wabah besar secara berkala dengan menambahkan ancaman-ancaman yang belum diketahui.

WHO menggunakan nama sementara "Disease X" (Penyakit X) guna mendorong kesiapsiagaan yang fleksibel.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau