Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banjir Sumatera, BNPB Sebut Pemda Abaikan Risiko Bencana

Kompas.com, 12 Januari 2026, 17:09 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dinilai merupakan akumulasi risiko sistemik akibat interaksi antara krisis iklim, degradasi lingkungan, serta persoalan tata ruang yang berkaitan erat dengan alih fungsi lahan.

Karena itu, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya berfokus pada perbaikan fisik, tetapi harus dilakukan dengan pendekatan build back better atau membangun kembali dengan lebih baik, guna mengurangi risiko bencana di masa depan.

Pendekatan ini menempatkan pemulihan berbasis risiko sebagai prinsip utama, dengan penanganan yang dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir.

Baca juga: Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera

Deputi Bidang Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Raditya Jati, menegaskan bahwa build back better tidak dapat diterapkan jika pembangunan kembali dilakukan di lokasi yang sama tanpa mempertimbangkan tingkat risiko bencana.

“Kalau rumah dibangun kembali di wilayah yang sama dan daerah itu masuk zona merah, maka risiko baru pasti akan muncul,” ujar Raditya dalam sebuah webinar, Senin (12/1/2026).

Raditya menjelaskan, tantangan utama pemulihan pascabencana di Indonesia adalah perbedaan tingkat risiko bencana di setiap daerah.

Di sejumlah kabupaten dan kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, kajian risiko bencana (KRB) belum tersedia atau berstatus tidak aktif. Kondisi ini mencerminkan ketimpangan kesiapan daerah dalam merencanakan pembangunan berbasis risiko.

Padahal, KRB berfungsi sebagai landasan dalam penyusunan prioritas mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Oleh karena itu, penyusunan dan pemutakhiran KRB secara berkala di seluruh kabupaten dan kota dinilai penting agar penanganan bencana selaras dengan dinamika risiko yang terus berkembang.

Selain KRB, Raditya juga menyoroti masih terbatasnya daerah yang memiliki rencana penanggulangan bencana (RPB) aktif. Di Aceh, tercatat dua kabupaten/kota memiliki RPB dengan status tidak aktif, sementara sembilan kabupaten/kota lainnya belum memiliki RPB sama sekali.

Di Sumatera Utara, 10 kabupaten/kota memiliki RPB tidak aktif dan 19 kabupaten/kota belum memiliki RPB. Sementara di Sumatera Barat, enam kabupaten/kota memiliki RPB tidak aktif dan dua kabupaten/kota belum memiliki RPB.

Kajian risiko bencana tersebut seharusnya diteruskan menjadi RPB yang kemudian diintegrasikan ke dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD).

“Jangan langsung menyalahkan alam. Kita perlu melihat kembali apakah risiko bencana sempat diabaikan dalam perencanaan dan penganggaran daerah. Dalam sistem pemerintahan yang terdesentralisasi, sering kali bencana baru dianggap penting setelah kejadian,” kata Raditya.

Baca juga: Bencana Iklim 2025, Perempuan dan Masyarakat Miskin Paling Terdampak

Menurut dia, penguatan mitigasi bencana di tingkat kabupaten dan kota di ketiga provinsi tersebut masih relatif lemah. Selain itu, sistem peringatan dini belum tersedia secara merata di seluruh wilayah rawan. Untuk mengatasi persoalan ini, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, dinilai menjadi kunci.

Raditya menekankan bahwa pemulihan dan rekonstruksi pascabencana seharusnya dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar kewajiban jangka pendek.

Pemulihan lahan dan ekosistem menjadi fondasi penting dalam pengurangan risiko, melalui rehabilitasi kawasan hulu, pengendalian degradasi lingkungan, serta penguatan fungsi ekosistem penyangga bencana.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau