Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe

Kompas.com, 20 Januari 2026, 19:14 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Gema Kreasi Perdana (GKP) mencatat sejumlah capaian pengelolaan lingkungan sepanjang 2025 di Pulau Wawonii, Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara.

Capaian tersebut meliputi pengelolaan air limbah tambang, rehabilitasi hutan dan daerah aliran sungai (DAS), reklamasi lahan, hingga penanaman mangrove di wilayah pesisir.

Perusahaan menyebut kualitas air limbah tambang sepanjang 2025 tercatat 100 persen memenuhi baku mutu lingkungan. Hasil tersebut didukung oleh penguatan infrastruktur pengelolaan air, termasuk perluasan settling pond yang dilakukan secara bertahap sejak 2023.

Baca juga: IWIP di Maluku Dinilai Jadi Pusat Ekonomi Baru lewat Hilirisasi Nikel

Environment and Forestry Superintendent PT GKP, Badrus Soleh, mengatakan pengelolaan air menjadi salah satu prioritas utama perusahaan dalam menjalankan operasional pertambangan.

“Sepanjang 2025, seluruh hasil pemantauan menunjukkan kualitas air limbah tambang konsisten berada di bawah ambang batas baku mutu yang ditetapkan regulasi pemerintah,” ujar Badrus dalam keterangan tertulis, Selasa (20/1/2026).

Hingga Desember 2025, total luas settling pond yang dikembangkan PT GKP mencapai 4,88 hektare. Menurut Badrus, perluasan tersebut merupakan bagian dari sistem pengendalian lingkungan untuk memastikan aktivitas tambang tidak berdampak pada perairan sekitar.

Di bidang kehutanan, PT GKP merealisasikan rehabilitasi DAS seluas 743 hektare sepanjang 2025 di Kabupaten Konawe Kepulauan dan Konawe Selatan. Seluruh kegiatan penanaman telah mencapai 100 persen dan dilanjutkan dengan tahap pemeliharaan tahun pertama yang dibimbing oleh BPDAS Konaweha.

Selain itu, hingga akhir 2025 perusahaan juga telah mereklamasi lahan seluas 19,77 hektare. Untuk mendukung kegiatan reklamasi dan penghijauan area tambang, PT GKP memproduksi 15.054 bibit tanaman melalui nursery internal sepanjang 2025.

Upaya pengelolaan lingkungan juga dilakukan di wilayah pesisir. PT GKP mencatat telah menanam 10.000 bibit mangrove di sepanjang Pantai Wawonii sebagai bagian dari perlindungan ekosistem pesisir dan garis pantai.

Strategic Communication Manager PT GKP, Hendry Drajat, menyatakan capaian tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menjalankan praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

“Kami memahami bahwa pertambangan hanya dapat berjalan secara berkelanjutan jika lingkungan dan masyarakat sekitar ikut terlindungi. Karena itu, transparansi dan kinerja lingkungan menjadi fondasi utama operasional perusahaan,” ujar Hendry.

Baca juga: Kemenperin Setop Insentif Impor EV CBU Demi Genjot Hilirisasi Nikel

Program pengelolaan lingkungan tersebut juga dirasakan oleh masyarakat sekitar. Warga Desa Teporoko, Sumarni, mengatakan kondisi lingkungan pesisir menunjukkan perubahan yang lebih baik seiring dengan kegiatan penanaman mangrove dan reklamasi yang dilakukan perusahaan.

Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Jurusan Kehutanan Universitas Halu Oleo, Husna, yang menilai capaian tersebut sebagai langkah positif dalam praktik pertambangan nikel di Pulau Wawonii.

Menurut Husna, terjaganya kualitas ekologi dan keanekaragaman hayati di Pulau Wawonii tidak terlepas dari kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pelanggan Home Charging PLN Tembus 92.000, Isi Daya EV di Rumah Kian Diminati
Pelanggan Home Charging PLN Tembus 92.000, Isi Daya EV di Rumah Kian Diminati
BUMN
Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?
Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?
Pemerintah
Bappenas Dorong Inovasi Pendanaan untuk Mitigasi El Niño di Tengah Keterbatasan Fiskal
Bappenas Dorong Inovasi Pendanaan untuk Mitigasi El Niño di Tengah Keterbatasan Fiskal
Pemerintah
Dorong Implementasi ESG, Era Transformasi Keberlanjutan Asia Tenggara Dimulai
Dorong Implementasi ESG, Era Transformasi Keberlanjutan Asia Tenggara Dimulai
Pemerintah
Generasi Baru Solar PV Dinilai Lebih Efisien dan Cocok di Iklim Tropis
Generasi Baru Solar PV Dinilai Lebih Efisien dan Cocok di Iklim Tropis
LSM/Figur
Tata Kelola Fiskal Pertambangan Dinilai Cukup Kuat, Transparansi Pajak Masih Jadi PR
Tata Kelola Fiskal Pertambangan Dinilai Cukup Kuat, Transparansi Pajak Masih Jadi PR
LSM/Figur
Tata Kelola Pertambangan Dinilai Masih Rapuh, Berisiko Hambat Daya Saing
Tata Kelola Pertambangan Dinilai Masih Rapuh, Berisiko Hambat Daya Saing
LSM/Figur
Pengaruh Sosial Bisa Jadi Kunci Menghadapi Perubahan Iklim
Pengaruh Sosial Bisa Jadi Kunci Menghadapi Perubahan Iklim
Pemerintah
Lautan Luas Pasang PLTS di Delapan Lokasi untuk Pangkas Karbon
Lautan Luas Pasang PLTS di Delapan Lokasi untuk Pangkas Karbon
Swasta
Bank Dunia Sebut AI Bisa Dongkrak Produktivitas di Negara Berkembang
Bank Dunia Sebut AI Bisa Dongkrak Produktivitas di Negara Berkembang
Pemerintah
Laporan Keberlanjutan Dinilai Masih Rentan Jadi Self-Claim, Verifikasi Independen Minim
Laporan Keberlanjutan Dinilai Masih Rentan Jadi Self-Claim, Verifikasi Independen Minim
Swasta
Pemerintah China Investasi Rp 5,71 Triliun untuk Cegah Bencana Sektor Pertanian
Pemerintah China Investasi Rp 5,71 Triliun untuk Cegah Bencana Sektor Pertanian
Pemerintah
Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
LSM/Figur
Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat 'Hitung Cepat'
Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat "Hitung Cepat"
Pemerintah
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau