Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim

Kompas.com, 20 Januari 2026, 18:42 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber AP

KOMPAS.com - Daftar lokasi pertandingan Olimpiade Musim Dingin diprediksi berkurang akibat perubahan iklim, khususnya dalam beberapa tahun mendatang.

Situasinya cukup serius sehingga Komite Olimpiade Internasional (International Olympic Committee atau IOC) tengah mempertimbangkan untuk merotasi penyelenggaraan Olimpiade di antara sejumlah lokasi yang sesuai, atau menyelenggarakan ajang olahraga itu lebih awal.

Baca juga:

"Perubahan iklim akan mengubah lokasi di mana kita dapat mengadakan Olimpiade Musim Dingin dan Paralimpiade. Tidak ada keraguan tentang itu. Pertanyaannya hanya, seberapa besar?" ucap profesor University of Waterloo, Daniel Scott, dilansir dari AP, Selasa (20/1/2026).

Bersama associate professor dari University of Innsbruck, Robert Steiger, Scott melakukan penelitian tentang kelaikan lokasi pertandingan Olimpiade Musim Dingin. 

Dari 93 lokasi pegunungan yang saat ini memiliki infrastruktur olahraga musim dingin untuk menyelenggarakan kompetisi elit, hanya 52 lokasi yang diperkirakan akan memiliki ketebalan salju dan suhu dingin yang cukup untuk dapat menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin pada tahun 2050-an. 

Kabar buruknya, jumlah tersebut dapat merosot hingga hanya 30 lokasi pada tahun 2080-an, tergantung pada seberapa besar dunia mampu menekan polusi karbon dioksida (CO2).

Adapun IOC memprioritaskan lokasi-lokasi yang memiliki setidaknya 80 persen arena pertandingan yang sudah tersedia sehingga membuat kumpulan calon tuan rumah yang potensial menjadi jauh lebih sedikit.

Situasinya bahkan lebih suram untuk Paralimpiade Musim Dingin, yang biasanya diadakan di lokasi yang sama dua minggu setelah Olimpiade Musim Dingin berakhir.

Baca juga:

Lokasi Olimpiade Musim Dingin berkurang akibat krisis iklim

Ilustrasi Grenoble di Perancis. Daftar lokasi pertandingan Olimpiade Musim Dingin diprediksi berkurang akibat perubahan iklim, khususnya dalam beberapa tahun mendatang.Dok. Wikimedia Commons/Brücke-Osteuropa Ilustrasi Grenoble di Perancis. Daftar lokasi pertandingan Olimpiade Musim Dingin diprediksi berkurang akibat perubahan iklim, khususnya dalam beberapa tahun mendatang.

Peneliti menyebut beberapa kota yang tak lolos seleksi sebagai tuan rumah menyelenggarakan olahraga salju, di antaranya Grenoble dan Chamonix di Perancis, Garmisch-Partenkirchen di Jerman, dan Sochi di Rusia.

Sementara itu Vancouver di Kanada; Palisades Tahoe di California, Amerika Serikat; Sarajevo di Bosnia-Herzegovina dan Oslo di Norwegia dinilai "berisiko secara iklim".

Baca juga:

Apakah salju buatan jadi solusi?

Menurut penelitian, hampir tidak ada lokasi yang dapat diandalkan untuk ajang olahraga salju tanpa bantuan salju buatan pada pertengahan abad ini.

Salju buatan pertama kali digunakan untuk Olimpiade Musim Dingin pada tahun 1980 di Lake Placid, New York. Tak hanya itu, salju buatan juga digunakan hampir penuh saat Beijing, China, jadi tuan rumah pertama kalinya pada tahun 2022.

Untuk Olimpiade tahun ini yang akan berlangsung di Italia, panitia penyelenggara berencana untuk membuat hampir 2,4 juta meter kubik salju.

Italia utara dikenal dengan musim dinginnya yang dingin dan bersalju. Namun, curah salju musiman telah berkurang secara signifikan di seluruh wilayah Alpen, dengan penurunan paling tajam terutama selama 40 tahun terakhir akibat peningkatan suhu.

Daftar lokasi pertandingan Olimpiade Musim Dingin diprediksi berkurang akibat perubahan iklim, khususnya dalam beberapa tahun mendatang.Dok. Freepik/wirestock Daftar lokasi pertandingan Olimpiade Musim Dingin diprediksi berkurang akibat perubahan iklim, khususnya dalam beberapa tahun mendatang.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau