Penulis
KOMPAS.com - Ilmuwan dunia bersiap melakukan ekspedisi laut dalam untuk mengungkap fenomena yang disebut dark oxygen (oksigen gelap).
Penemuan tersebut memicu perdebatan di kalangan peneliti dan industri tambang laut dalam. Bila terbukti, temuan ini bisa mengubah pemahaman manusia terkait asal usul kehidupan bumi.
Baca juga:
Tim peneliti menyampaikan, Selasa (20/1/2026), mereka telah alat pendarat laut dalam (deep-sea landers) baru. Alat ini dirancang untuk menguji klaim batuan logam di dasar laut dapat menghasilkan oksigen tanpa cahaya matahari.
Penelitian ini dipimpin oleh Andrew Sweetman, ahli ekologi laut asal Inggris. Sweetman juga memimpin riset pada tahun 2024 yang pertama kali mengungkap kemungkinan adanya dark oxygen di kedalaman samudera.
Sebagai informasi, dark oxygen merupakan istilah untuk menggambarkan oksigen yang terbentuk tanpa proses fotosintesis.
Selama ini, ilmuwan percaya bahwa oksigen di bumi hanya bisa muncul melalui aktivitas organisme hidup yang memanfaatkan cahaya matahari, dikutip dari BBC.
Namun, penelitian Sweetman menunjukkan kemungkinan lain. Ia menemukan bahwa nodul polimetalik, atau batuan seukuran kentang di dasar laut, mungkin mampu menghasilkan oksigen secara mandiri.
Para ilmuwan menduga nodul tersebut melepaskan muatan listrik yang cukup kuat. Muatan ini dapat memecah air laut menjadi hidrogen dan oksigen melalui proses yang disebut elektrolisis.
Jika mekanisme ini benar, oksigen kemungkinan bisa terbentuk bahkan di tempat paling gelap di planet ini.
Baca juga:
Ilmuwan menyiapkan ekspedisi laut dalam untuk menguji dark oxygen, oksigen yang diduga muncul dari batuan logam di dasar samudera.Untuk menguji klaim tersebut, Sweetman dan timnya saat ini menyiapkan ekspedisi laut dalam baru. Mereka memperkenalkan dua deep-sea landers yang mampu menyelam hingga kedalaman 11 kilometer.
Alat ini dirancang berbeda dari misi sebelumnya. Sensor yang digunakan secara khusus mampu mengukur respirasi dasar laut.
Tidak hanya itu, alat tersebut mampu menahan tekanan hingga 1.200 kali tekanan di permukaan Bumi. Bentuk dan teknologinya bahkan disebut lebih mirip peralatan eksplorasi luar angkasa.
Ekspedisi ini akan dilakukan di Clarion-Clipperton Zone, wilayah luas di Samudera Pasifik yang terletak di antara Hawaii dan Meksiko.
Wilayah ini menjadi sorotan karena menyimpan jutaan nodul polimetalik yang kaya logam bernilai tinggi. Banyak perusahaan berencana menambang nodul tersebut karena bisa digunakan untuk baterai mobil listrik dan teknologi modern lainnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya