Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
SOROT KONSERVASI

Misi Sunyi PCBA Taman Safari Prigen Selamatkan Spesies Terlupakan

Kompas.com, 23 Januari 2026, 14:31 WIB
Aningtias Jatmika,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

Sejak 2019, mandat PCBA pun diperluas. Dari yang semula hanya mencakup burung berkicau di lahan 0,8 hektare (ha), kini PCBA berkembang menjadi fasilitas konservasi terpadu seluas 5 ha.

Aswin merinci, saat ini, PCBA mengelola lebih dari 300 kandang burung, termasuk sekitar 255 kandang yang secara khusus didedikasikan untuk burung berkicau.

Kehadiran burung murai maratua (Copsychus barbouri)—si pengicau merdu endemik Pulau Maratua, Kalimantan Timur—menjadi simbol konservasi di fasilitas ini.

Dengan lebih dari 95 individu dalam penangkaran dan 60 kandang khusus, PCBA menyiapkan reintroduksi bertahap ke Pulau Maratua. Inisiatif ini menjadi salah satu upaya pengembalian satwa langka ke alam yang paling ambisius bagi TSI.

Tak hanya aviari, PCBA juga menyediakan lebih dari 70 fasilitas untuk mamalia, sekitar 60 kandang untuk reptil, serta lebih dari 300 akuarium yang digunakan untuk konservasi berbagai jenis ikan air tawar.

Secara keseluruhan, PCBA menangani hampir 100 spesies dari berbagai kelompok satwa. Maka tak heran, PCBA pun menjelma sebagai salah satu pusat pengembangbiakan konservasi paling lengkap di Asia Tenggara.

“Dengan sumber daya, keahlian, dan pendanaan yang kami miliki, PCBA berkembang menjadi pusat pengembangbiakan konservasi terbesar di Asia Tenggara, khususnya untuk spesies Indonesia yang terancam dan sering diabaikan juga terlupakan,” ujar Aswin.

Menyelamatkan spesies terlupakan

Di PCBA, konservasi tidak lagi berfokus pada satwa besar dan karismatik. Babi kutil jawa, misalnya, merupakan salah satu forgotten species yang dijaga betul oleh PCBA.

Baca juga: Marine Safari Bali, Gerbang Edukasi dan Konservasi Laut Nusantara

Saat ini, TSI Prigen memiliki sekitar 20 individu dalam program konservasi ex-situ yang terkoordinasi dengan Taman Safari Bogor dan lembaga lain. Program ini dijalankan dengan studbook ketat untuk menjaga keragaman genetik.

Kurator PCBA Taman Safari Prigen Jochen Menner mengatakan, ancaman terbesar satwa ini tidak hanya disebabkan perburuan dan habitat, tetapi juga kawin silang dengan babi hutan yang lebih adaptif. Kawin silang terjadi akibat lahan hidup mereka yang makin menyempit.

“Jika genotipe asli babi kutil jawa hilang, kita pun akan kehilangan spesies endemik Jawa secara permanen,” ucap Jochen.

Situasi babi kutil bawean juga tak kalah genting. Dengan populasi liar sekitar 500 individu dan terisolasi di habitat aslinya, wabah penyakit, seperti african swine fever, bisa memusnahkan spesies terlupakan tersebut dalam hitungan minggu.

PCBA sendiri merupakan satu-satunya fasilitas konservasi ex-situ untuk babi kutil bawean dengan jumlah tiga individu.

PCBA juga menangani primata yang jarang disorot, yakni kekah natuna (Presbytis natunae). Primata pemakan daun endemik Kepulauan Natuna ini dikenal sebagai spesies yang sangat sensitif dan sulit bertahan hidup di luar habitat.

Baca juga: Cerita Satrio Wiratama, Bayi Panda Pertama di Indonesia yang Jadi Simbol Diplomasi

Empat individu kekah natuna hasil sitaan kini dirawat di PCBA dengan pendekatan khusus, termasuk pelatihan staf hingga ke Vietnam.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Perkuat Reputasi Internasional, Proyek Elektrifikasi Kereta Cepat Malaysia Rampung Lebih Awal di Tangan Teknisi PLN
Perkuat Reputasi Internasional, Proyek Elektrifikasi Kereta Cepat Malaysia Rampung Lebih Awal di Tangan Teknisi PLN
Pemerintah
5 Tips Membuat Resume Lamaran Kerja pada Era AI
5 Tips Membuat Resume Lamaran Kerja pada Era AI
LSM/Figur
Longsor Bantargebang Tewaskan Empat Orang, KLH Bakal Tempuh Jalur Hukum
Longsor Bantargebang Tewaskan Empat Orang, KLH Bakal Tempuh Jalur Hukum
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau