Sejak 2019, mandat PCBA pun diperluas. Dari yang semula hanya mencakup burung berkicau di lahan 0,8 hektare (ha), kini PCBA berkembang menjadi fasilitas konservasi terpadu seluas 5 ha.
Aswin merinci, saat ini, PCBA mengelola lebih dari 300 kandang burung, termasuk sekitar 255 kandang yang secara khusus didedikasikan untuk burung berkicau.
Kehadiran burung murai maratua (Copsychus barbouri)—si pengicau merdu endemik Pulau Maratua, Kalimantan Timur—menjadi simbol konservasi di fasilitas ini.
Dengan lebih dari 95 individu dalam penangkaran dan 60 kandang khusus, PCBA menyiapkan reintroduksi bertahap ke Pulau Maratua. Inisiatif ini menjadi salah satu upaya pengembalian satwa langka ke alam yang paling ambisius bagi TSI.
Tak hanya aviari, PCBA juga menyediakan lebih dari 70 fasilitas untuk mamalia, sekitar 60 kandang untuk reptil, serta lebih dari 300 akuarium yang digunakan untuk konservasi berbagai jenis ikan air tawar.
Secara keseluruhan, PCBA menangani hampir 100 spesies dari berbagai kelompok satwa. Maka tak heran, PCBA pun menjelma sebagai salah satu pusat pengembangbiakan konservasi paling lengkap di Asia Tenggara.
“Dengan sumber daya, keahlian, dan pendanaan yang kami miliki, PCBA berkembang menjadi pusat pengembangbiakan konservasi terbesar di Asia Tenggara, khususnya untuk spesies Indonesia yang terancam dan sering diabaikan juga terlupakan,” ujar Aswin.
Di PCBA, konservasi tidak lagi berfokus pada satwa besar dan karismatik. Babi kutil jawa, misalnya, merupakan salah satu forgotten species yang dijaga betul oleh PCBA.
Baca juga: Marine Safari Bali, Gerbang Edukasi dan Konservasi Laut Nusantara
Saat ini, TSI Prigen memiliki sekitar 20 individu dalam program konservasi ex-situ yang terkoordinasi dengan Taman Safari Bogor dan lembaga lain. Program ini dijalankan dengan studbook ketat untuk menjaga keragaman genetik.
Kurator PCBA Taman Safari Prigen Jochen Menner mengatakan, ancaman terbesar satwa ini tidak hanya disebabkan perburuan dan habitat, tetapi juga kawin silang dengan babi hutan yang lebih adaptif. Kawin silang terjadi akibat lahan hidup mereka yang makin menyempit.
“Jika genotipe asli babi kutil jawa hilang, kita pun akan kehilangan spesies endemik Jawa secara permanen,” ucap Jochen.
Situasi babi kutil bawean juga tak kalah genting. Dengan populasi liar sekitar 500 individu dan terisolasi di habitat aslinya, wabah penyakit, seperti african swine fever, bisa memusnahkan spesies terlupakan tersebut dalam hitungan minggu.
PCBA sendiri merupakan satu-satunya fasilitas konservasi ex-situ untuk babi kutil bawean dengan jumlah tiga individu.
PCBA juga menangani primata yang jarang disorot, yakni kekah natuna (Presbytis natunae). Primata pemakan daun endemik Kepulauan Natuna ini dikenal sebagai spesies yang sangat sensitif dan sulit bertahan hidup di luar habitat.
Baca juga: Cerita Satrio Wiratama, Bayi Panda Pertama di Indonesia yang Jadi Simbol Diplomasi
Empat individu kekah natuna hasil sitaan kini dirawat di PCBA dengan pendekatan khusus, termasuk pelatihan staf hingga ke Vietnam.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya