Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
SOROT KONSERVASI

Misi Sunyi PCBA Taman Safari Prigen Selamatkan Spesies Terlupakan

Kompas.com, 23 Januari 2026, 14:31 WIB
Aningtias Jatmika,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

Ada pula macaca maura atau monyet hitam Sulawesi yang sering dianggap hama. Konservasi satwa ini menjadi salah satu keberhasilan langka PCBA.

Dengan delapan individu, termasuk kelahiran di fasilitas, PCBA menjadi salah satu dari sedikit tempat di dunia yang berhasil mengembangbiakkan spesies ini.

Selain burung dan mamalia, PCBA juga menjadi rumah bagi spesies yang hampir tak pernah muncul dalam perbincangan publik, yakni ikan air hitam dan ikan rawa gambut.

Jochen menjelaskan, habitat rawa gambut merupakan salah satu ekosistem paling rentan di Indonesia.

“Kerusakan kecil akibat pembangunan, perkebunan, atau kebakaran bisa langsung menghilangkan seluruh populasi ikan endemik yang wilayah sebarannya sangat terbatas,” tuturnya.

Banyak dari spesies ikan tersebut terisolasi secara alami oleh perbedaan kimia air dan sungai. Jalur buatan manusia, seperti jalan dan permukiman, turut memperparah isolasi.

“Ketika habitat yang sangat kecil ini rusak, kepunahan bisa terjadi tanpa disadari,” ungkap Jochen.

Baca juga: Lumba-lumba Marine Safari Bali, Berapa Umurnya?

Oleh karena itu, lanjutnya, PCBA memberi perhatian besar pada konservasi ikan air tawar, bahkan jumlah spesies ikan yang ditangani lebih banyak ketimbang burung.

Adapun PCBA menjadi rumah nyaman bagi lebih dari 40 jenis ikan, termasuk ikan air hitam dan cupang liar yang habitat aslinya sering kali hanya tinggal beberapa kilometer persegi.

Kisah sukses lain juga datang dari konservasi ikan pelangi irian (Melanotaenia ayamaruensis), satwa endemik asli Papua Barat Daya.

Penyebaran bibit ikan nila (Oreochromis niloticus) di Danau Ayamaru, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, yang menjadi upaya pengembangan ekonomi warga justru membuat ikan pelangi irian nyaris punah.

Baca juga: Indonesia–Inggris Tetapkan Way Kambas sebagai Prioritas dalam Kerja Sama Konservasi

Melalui program sederhana, PCBA menampung ratusan individu, bahkan lebih banyak dari yang tersisa di alam.

“Satu kolam kami isi 4.000 liter dan ini perawatannya minimal. Konservasi tidak selalu harus mahal. Banyak spesies bisa diselamatkan dengan pendekatan sederhana, kolaboratif, dan konsisten,” kata Jochen.

Konservasi sebagai komitmen, bukan etalase

General Manager TSI Prigen Erwina Lemuel mengatakan, PCBA bukanlah fasilitas pendukung di TSI Prigen. Pasalnya, bagi pihaknya, konservasi tidak hanya tentang spesies besar atau populer.

"Setiap satwa, sekecil apa pun, punya peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem,” tutur Erwina.

Ia menegaskan, PCBA dijalankan sebagai organisasi konservasi nonkomersial dengan filosofi filantropi. Dana konservasi dialokasikan terpisah dari aspek pariwisata. Fasilitas dirancang menyerupai habitat alami, bukan sebagai ruang pamer.

“Tujuan utama kami adalah mengamankan populasi, menghitungnya, dan jika memungkinkan, mengembalikannya ke alam. Itulah makna konservasi yang sesungguhnya,” kata Erwina.

Di tengah laju kepunahan satwa global yang semakin cepat, PCBA Taman Safari Prigen berdiri sebagai pengingat bahwa menyelamatkan keanekaragaman hayati bukan hanya soal yang megah dan karismatik, melainkan juga tentang keberanian merawat yang terlupakan sebelum semuanya benar-benar hilang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Perkuat Reputasi Internasional, Proyek Elektrifikasi Kereta Cepat Malaysia Rampung Lebih Awal di Tangan Teknisi PLN
Perkuat Reputasi Internasional, Proyek Elektrifikasi Kereta Cepat Malaysia Rampung Lebih Awal di Tangan Teknisi PLN
Pemerintah
5 Tips Membuat Resume Lamaran Kerja pada Era AI
5 Tips Membuat Resume Lamaran Kerja pada Era AI
LSM/Figur
Longsor Bantargebang Tewaskan Empat Orang, KLH Bakal Tempuh Jalur Hukum
Longsor Bantargebang Tewaskan Empat Orang, KLH Bakal Tempuh Jalur Hukum
Pemerintah
Di Hulu Rantai Nilai, Ini Cerita Petani Indonesia Hadapi Tantangan Akses Pasar
Di Hulu Rantai Nilai, Ini Cerita Petani Indonesia Hadapi Tantangan Akses Pasar
BrandzView
KLH Tuang 10.000 Liter Ecoenzym ke Sungai Cisadane, Netralkan Cemaran Pestisida
KLH Tuang 10.000 Liter Ecoenzym ke Sungai Cisadane, Netralkan Cemaran Pestisida
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau