“Nelayan terpaksa melaut dengan modal nekat demi mendapatkan penghasilan, padahal risikonya sangat besar,” ucap Ketua KNTI Pasangkayu Abdul Razak.
Selain itu, cuaca ekstrem juga berdampak pada sektor perikanan budi daya dan produksi garam. Survei KNTI mencatat, petambak di Tegal, Pemalang, Kendal, Karawang, dan Bekasi mengalami kerugian akibat ikan-ikannya terlepas seiring lahan budi daya milikinya terendam banjir.
Cuaca ekstrem juga menurunkan produksi maupun pendapatan petambak garam di Lombok Timur dan Jepara.
KNTI mendesak pemerintah pusat dan daerah berkoordinasi dalam merespon dampak cuaca ekstrem terhadap nelayan kecil. Di antaranya, dengan penguatan perlindungan sosial, penyaluran bantuan seecara tepat sasaran, dukungan adaptasi dan mitigasi dampak krisis iklim, serta percepatan pemulihan ekonomi dan perbaikan infrastruktur di kawasan pesisir.
Baca juga: IPB Petakan 1.008 Calon Lokasi Kampung Nelayan Merah Putih
KNTI memperingatkan bahwa penurunan produksi perikanan tangkap, perikanan budidaya, serta garam akan berdampak langsung pada rantai perikanan lainnya.
Penurunan produksi akibat cuaca ekstrem itu berpotensi mengganggu penyediaan pangan nasional, serta menghambat laju hilirisasi sektor kelautan dan perikanan.
KNTI menggarisbawahi pentingnya gotong-royong antar sesama dan kolaborasi nelayan denan pemerintah demi keberlanjutan kehidupan pesisir Indonesia di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya