Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Laut Makin Panas, Paus di Atlantik Utara Terpaksa Ubah Pola Makan

Kompas.com, 26 Januari 2026, 21:54 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Paus di Atlantik Utara diketahui hidup berdampingan dan berbagi makanan dengan paus lainnya. Hal ini, menurut sebuah studi baru, terjadi akibat krisis iklim dan aktivitas manusia.

Temuan ini didasarkan pada data hampir 30 tahun yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Marine Science.

Baca juga:

Krisis iklim bikin perilaku paus berubah

Pemanasan air laut mengganggu pasokan makanan paus

Peneliti mempelajari paus sirip (fin whales), paus bungkuk (humpback whales), dan paus minke (minke whales) di Teluk St. Lawrence.

Mereka kemudian menggunakan sampel kulit lebih dari 1.100 paus antara tahun 1992 hingga 2019.

Peneliti juga menganalisis isotop nitrogen dan karbon stabil, tanda kimia yang mengungkapkan apa yang dimakan hewan dan di mana posisi mereka dalam rantai makanan, dilansir dari Independent.co.uk, Senin (26/1/2026).

Sampel tersebut mencakup tiga periode perubahan lingkungan yang berbeda di Atlantik Utara, dari kondisi yang lebih dingin pada tahun 1990-an hingga perairan yang lebih hangat dan berkurangnya es laut dalam beberapa tahun terakhir.

Studi tersebut menemukan bahwa ketiga spesies paus telah beralih ke pola makan berbasis ikan dari waktu ke waktu.

Sementara itu, krill Arktik, krustasea kecil mirip udang yang ditemukan di lautan, dikonsumsi dengan jumlah yang lebih kecil dibanding sebelumnya.

Para ilmuwan mengatakan perubahan ini bisa jadi akibat meningkatnya persaingan untuk mendapatkan mangsa karena pemanasan air mengganggu pasokan makanan laut.

“Peningkatan pembagian sumber daya baru-baru ini di antara paus sirip, paus bungkuk, dan paus minke di area penelitian mungkin mencerminkan peningkatan tingkat persaingan sebagai respons terhadap ketersediaan sumber daya yang terbatas,” kata  penulis utama studi tersebut di Institut Maurice Lamontagne Kanada, Charlotte Tessier-Lariviere.

Krill Arktik, makanan utama para paus ini persediaannya menurun karena pemanasan air dan perubahan kondisi laut.

Baca juga: Teluk Saleh NTB jadi Habitat Hiu Paus Melahirkan dan Melakukan Pengasuhan

Ilustrasi paus bungkuk. Selama hampir 30 tahun, ilmuwan mencatat perubahan besar pola makan paus akibat pemanasan laut dan tekanan manusia.SHUTTERSTOCK/Craig Lambert Photography Ilustrasi paus bungkuk. Selama hampir 30 tahun, ilmuwan mencatat perubahan besar pola makan paus akibat pemanasan laut dan tekanan manusia.

Paus sirip diketahui makin beralih ke ikan, seperti capelin, herring, dan mackerel pada tahun 2000-an, sebelum lebih banyak beralih ke ikan bersirip kipas sand lance dan krill utara pada tahun 2010-an.

Sementara itu, paus bungkuk secara konsisten bergantung pada sejumlah kecil spesies ikan sepanjang periode studi. 

Kemudian, paus minke sebagian besar memakan ikan palagi, tapi tetap mengonsumsi krill hingga akhir periode penelitian.

Studi tersebut juga menemukan bahwa meskipun ketiga spesies paus tersebut masih berbagi area pencarian makan, mereka tampaknya lebih berpegang teguh pada "ceruk" makanan mereka masing-masing dibandingkan masa lalu.

Dahulu, ketiga jenis paus ini mungkin sering memakan jenis ikan yang sama. Namun saat ini, mereka "berbagi", misalnya yang satu hanya makan ikan A, yang satu lagi hanya makan ikan B.

Seiring berjalannya waktu, tumpang tindih dalam hal apa yang dimakan oleh setiap spesies juga telah menyempit karena meningkatnya persaingan ketika makanan menjadi langka.

Ketika jumlah makanan di laut berkurang akibat perubahan iklim atau penangkapan ikan, mereka harus membedakan menu makanan agar tidak saling mematikan dalam memperebutkan mangsa yang sama.

“Tumpang tindih ceruk berfluktuasi dengan ketersediaan sumber daya,” kata Tessier-Larivière.

“Jika sumber daya menjadi langka, persaingan cenderung meningkat dan individu serta spesies mungkin mencoba mengurangi persaingan, misalnya dengan mendiversifikasi makanan mereka atau dengan mengkhususkan diri pada mangsa yang berbeda,” tambah dia.

Baca juga: 75 Persen Hiu Paus di Papua Punya Luka, Tunjukkan Besarnya Ancaman yang Dihadapinya

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau