Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

93 Persen Habitat Paus dan Lumba-lumba di Barat Sumatera di Luar Area Lindung

Kompas.com, 14 Januari 2026, 16:24 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebesar 93 persen habitat paus dan lumba-lumba di perairan barat Sumatera berada di luar kawasan konservasi laut, baik saat ini maupun yang diusulkan. Hal ini berdasarkan survei transek udara khusus mamalia laut (cetacean) melalui ekspedisi OceanX Indonesia Mission tahun 2024 lalu.

"Survei ini mengisi kekosongan data yang selama ini membatasi pengelolaan cetacean di laut lepas Indonesia. Skala dan kualitas data ini memungkinkan perencanaan konservasi yang benar-benar berbasis bukti," ujar Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia sekaligus penulis utama studi, Iqbal Herwata dalam keterangan tertulis, Rabu (14/1/2026).

Baca juga:

Hotspot (lokasi) kepadatan tinggi, yang didominasi oleh spinner dolphin (lumba-lumba pemintal) dan striped dolphin (lumba-lumba bergaris), teridentifikasi di luar kawasan konservasi. 

Hal itu menunjukkan ketidaksesuaian antara jejaring kawasan konservasi yang ada dan persebaran aktual habitat penting mamalia laut ini. Utamanya, di perairan lepas pantai (offshore) untuk kegiatan industri, yang biasanya jadi lokasi eksplorasi dan produksi minyak, gas bumi, panas bumi, atau mineral.

Bahkan, pemodelan spasial menunjukkan tumpang tindih yang signifikan antara habitat mamalia laut dengan aktivitas perikanan intensif dan lalu lintas maritim. 

Tumpang tindih ini berpotensi meningkatkan risiko bagi spesies tertentu, seperti paus pembunuh, paus Omura, dan paus sperma, yang masuk dalam kategori spesies terancam punah.

Baca juga:

Habitat paus dan lumba-lumba di Sumatera di luar konservasi

Biaya penelitian dan habitat yang terpencil jadi tantangan

Penampakan paus sperma di perairan barat sumatera pada 24 Mei 2024. Survei OceanX 2024 mengungkap 93 persen habitat paus dan lumba-lumba di perairan barat Sumatera berada di luar kawasan lindung. dok. OceanX Penampakan paus sperma di perairan barat sumatera pada 24 Mei 2024. Survei OceanX 2024 mengungkap 93 persen habitat paus dan lumba-lumba di perairan barat Sumatera berada di luar kawasan lindung.

Berdasarkan analisis pola sebaran mamalia laut, terdapat tujuh klaster habitat berbeda yang terbentuk akibat perbedaan bentuk dasar laut dan tingkat produktivitas perairan.

Temuan ini menggarisbawahi adanya dinamika oseanografi dalam menentukan wilayah yang dimanfaatkan paus dan lumba-lumba di perairan barat Sumatera.

Diketahui, paus dan lumba-lumba merupakan spesies laut dengan jangkauan jelajah luas, perilaku migrasi yang kompleks, dan tingkat keterdeteksian rendah.

Imbasnya, penelitian tentang persebaran serta habitat paus dan lumba-lumba menghadapi tantangan berat, termasuk mahalnya biaya penelitian dan sulitnya menjangkau habitatnya di wilayah laut lepas yang terpencil.

Padahal ketersediaan data ilmiah tentang persebaran dan habitat penting untuk pengelolaan dan konservasi kedua spesies laut tersebut di perairan Indonesia.

Baca juga:

Selain menjawab permasalahan tersebut, survei transek udara ini juga akhirnya bisa menembus perairan barat Sumatera yang selama ini relatif kurang dipelajari, meski keanekaragaman hayati lautnya bernilai tinggi.

Survei ekspedisi OceanX Indonesia Mission yang menjangkau 15.043 kilometer ini dilaksanakan pada Mei-Juli 2024.

Dengan mengintegrasikan data historis, jumlah spesies mamalia laut terdokumentasi mencapai 23 spesies atau 68 persen dari total yang diketahui di Indonesia. Hasil survei tersebut baru saja dipublikasikan dalam Frontiers in Marine Science.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau