Teluk St. Lawrence, tempat makan musiman utama bagi paus, telah mengalami perubahan lingkungan yang cepat dalam beberapa dekade terakhir.
Hal tersebut didorong oleh kenaikan suhu laut, penyusutan es laut, dan peningkatan aktivitas manusia seperti pelayaran dan penangkapan ikan.
Para ilmuwan mengatakan, studi ini memberikan wawasan langka tentang bagaimana hewan laut besar merespons perubahan ekosistem jangka panjang, bukan fluktuasi jangka pendek.
Meskipun analisis isotop memungkinkan peneliti untuk melacak pergeseran pola makan secara luas, para penulis memperingatkan bahwa metode ini tidak dapat menentukan di mana paus itu makan atau berapa kilogram tepatnya ikan yang dimakan.
Baca juga:
Peneliti mengakui ada kemungkinan paus memakan lebih banyak zooplankton daripada yang terdeteksi oleh alat.
Perubahan itu terjadi karena jejak kimia zooplankton terkadang sulit dibedakan atau cepat hilang dalam proses metabolisme paus.
Meskipun demikian, temuan ini menyoroti pentingnya melindungi tidak hanya paus, tapi juga ekosistem dan sumber makanan yang mereka andalkan.
Studi ini juga menambah jajaran bukti yang terus berkembang yang menunjukkan bagaimana krisis iklim mengubah jaring-jaring makanan laut.
Perubahan ini sering kali tidak terjadi secara mendadak seperti ledakan.
Jika penelitian hanya dilakukan setahun, perubahan ini tidak akan terlihat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya