KOMPAS.com - Paus di Atlantik Utara diketahui hidup berdampingan dan berbagi makanan dengan paus lainnya. Hal ini, menurut sebuah studi baru, terjadi akibat krisis iklim dan aktivitas manusia.
Temuan ini didasarkan pada data hampir 30 tahun yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Marine Science.
Baca juga:
Peneliti mempelajari paus sirip (fin whales), paus bungkuk (humpback whales), dan paus minke (minke whales) di Teluk St. Lawrence.
Mereka kemudian menggunakan sampel kulit lebih dari 1.100 paus antara tahun 1992 hingga 2019.
Peneliti juga menganalisis isotop nitrogen dan karbon stabil, tanda kimia yang mengungkapkan apa yang dimakan hewan dan di mana posisi mereka dalam rantai makanan, dilansir dari Independent.co.uk, Senin (26/1/2026).
Sampel tersebut mencakup tiga periode perubahan lingkungan yang berbeda di Atlantik Utara, dari kondisi yang lebih dingin pada tahun 1990-an hingga perairan yang lebih hangat dan berkurangnya es laut dalam beberapa tahun terakhir.
Studi tersebut menemukan bahwa ketiga spesies paus telah beralih ke pola makan berbasis ikan dari waktu ke waktu.
Sementara itu, krill Arktik, krustasea kecil mirip udang yang ditemukan di lautan, dikonsumsi dengan jumlah yang lebih kecil dibanding sebelumnya.
Para ilmuwan mengatakan perubahan ini bisa jadi akibat meningkatnya persaingan untuk mendapatkan mangsa karena pemanasan air mengganggu pasokan makanan laut.
“Peningkatan pembagian sumber daya baru-baru ini di antara paus sirip, paus bungkuk, dan paus minke di area penelitian mungkin mencerminkan peningkatan tingkat persaingan sebagai respons terhadap ketersediaan sumber daya yang terbatas,” kata penulis utama studi tersebut di Institut Maurice Lamontagne Kanada, Charlotte Tessier-Lariviere.
Krill Arktik, makanan utama para paus ini persediaannya menurun karena pemanasan air dan perubahan kondisi laut.
Baca juga: Teluk Saleh NTB jadi Habitat Hiu Paus Melahirkan dan Melakukan Pengasuhan
Ilustrasi paus bungkuk. Selama hampir 30 tahun, ilmuwan mencatat perubahan besar pola makan paus akibat pemanasan laut dan tekanan manusia.Paus sirip diketahui makin beralih ke ikan, seperti capelin, herring, dan mackerel pada tahun 2000-an, sebelum lebih banyak beralih ke ikan bersirip kipas sand lance dan krill utara pada tahun 2010-an.
Sementara itu, paus bungkuk secara konsisten bergantung pada sejumlah kecil spesies ikan sepanjang periode studi.
Kemudian, paus minke sebagian besar memakan ikan palagi, tapi tetap mengonsumsi krill hingga akhir periode penelitian.
Studi tersebut juga menemukan bahwa meskipun ketiga spesies paus tersebut masih berbagi area pencarian makan, mereka tampaknya lebih berpegang teguh pada "ceruk" makanan mereka masing-masing dibandingkan masa lalu.
Dahulu, ketiga jenis paus ini mungkin sering memakan jenis ikan yang sama. Namun saat ini, mereka "berbagi", misalnya yang satu hanya makan ikan A, yang satu lagi hanya makan ikan B.
Seiring berjalannya waktu, tumpang tindih dalam hal apa yang dimakan oleh setiap spesies juga telah menyempit karena meningkatnya persaingan ketika makanan menjadi langka.
Ketika jumlah makanan di laut berkurang akibat perubahan iklim atau penangkapan ikan, mereka harus membedakan menu makanan agar tidak saling mematikan dalam memperebutkan mangsa yang sama.
“Tumpang tindih ceruk berfluktuasi dengan ketersediaan sumber daya,” kata Tessier-Larivière.
“Jika sumber daya menjadi langka, persaingan cenderung meningkat dan individu serta spesies mungkin mencoba mengurangi persaingan, misalnya dengan mendiversifikasi makanan mereka atau dengan mengkhususkan diri pada mangsa yang berbeda,” tambah dia.
Baca juga: 75 Persen Hiu Paus di Papua Punya Luka, Tunjukkan Besarnya Ancaman yang Dihadapinya
Paus bungkuk atau humpback whale yang nampak di Monterey Bay. Selama hampir 30 tahun, ilmuwan mencatat perubahan besar pola makan paus akibat pemanasan laut dan tekanan manusia.Teluk St. Lawrence, tempat makan musiman utama bagi paus, telah mengalami perubahan lingkungan yang cepat dalam beberapa dekade terakhir.
Hal tersebut didorong oleh kenaikan suhu laut, penyusutan es laut, dan peningkatan aktivitas manusia seperti pelayaran dan penangkapan ikan.
Para ilmuwan mengatakan, studi ini memberikan wawasan langka tentang bagaimana hewan laut besar merespons perubahan ekosistem jangka panjang, bukan fluktuasi jangka pendek.
Meskipun analisis isotop memungkinkan peneliti untuk melacak pergeseran pola makan secara luas, para penulis memperingatkan bahwa metode ini tidak dapat menentukan di mana paus itu makan atau berapa kilogram tepatnya ikan yang dimakan.
Baca juga:
Peneliti mengakui ada kemungkinan paus memakan lebih banyak zooplankton daripada yang terdeteksi oleh alat.
Perubahan itu terjadi karena jejak kimia zooplankton terkadang sulit dibedakan atau cepat hilang dalam proses metabolisme paus.
Meskipun demikian, temuan ini menyoroti pentingnya melindungi tidak hanya paus, tapi juga ekosistem dan sumber makanan yang mereka andalkan.
Studi ini juga menambah jajaran bukti yang terus berkembang yang menunjukkan bagaimana krisis iklim mengubah jaring-jaring makanan laut.
Perubahan ini sering kali tidak terjadi secara mendadak seperti ledakan.
Jika penelitian hanya dilakukan setahun, perubahan ini tidak akan terlihat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya