Studi ini juga mengungkap, hampir 41 persen dari apa yang disebut spesies pohon yang dinaturalisasi, artinya spesies yang tidak secara alami terdapat di suatu daerah tapi saat ini tumbuh liar di suatu area.
Pohon tersebut memiliki ciri-ciri seperti pertumbuhan cepat dan daun kecil.
"Hal ini membuat mereka sangat cocok untuk ekosistem yang terganggu, tapi mereka jarang menjalankan peran ekologis yang sama seperti spesies asli. Selain itu, di lanskap yang ada saat ini dan di masa yang akan datang, spesies ternaturalisasi bisa mempersulit kelangsungan hidup pohon-pohon asli karena memperebutkan cahaya, air, dan nutrien," ucap dia.
Sementara itu, peneliti lainnya dari School of Ecological and Environmental Sciences, Wen Yong Guo menilai dampak homogenisasi hutan diperkirakan paling berisiko terjadi di wilayah tropis dan subtropis.
Guo menuturkan, banyak spesies pohon di wilayah ini memiliki wilayah sebaran alami yang sempit.
"Karena terbatas pada area yang sangat kecil, spesies ini sangat rentan dan berisiko punah sepenuhnya jika habitatnya dihancurkan atau dikuasai oleh spesies yang tumbuh cepat," sebut Guo.
Tim peneliti berpandangan, aktivitas manusia menjadi faktor utama perubahan komposisi hutan mulai dari perubahan iklim, pembukaan hutan untuk infrastruktur, kehutanan intensif, serta perdagangan global spesies pohon tertentu.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya