Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050

Kompas.com, 7 Februari 2026, 21:03 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Volume sampah global diproyeksikan akan meningkat lebih dari 80 persen pada tahun 2050 dibandingkan dengan tingkat tahun 2020, menurut laporan WRAP.

Lembaga amal lingkungan tersebut menyatakan bahwa upaya mengatasi masalah ini memerlukan tindakan terpadu dari pemerintah untuk beralih ke ekonomi yang lebih sirkular.

Laporan WRAP menyatakan bahwa model pertumbuhan dan konsumsi linier tradisional merupakan pendorong utama meluasnya volume sampah dan kerusakan lingkungan.

Artinya, sistem ekonomi yang saat ini memang dirancang untuk terus memproduksi barang sekali pakai yang akhirnya membuat volume sampah terus membengkak.

Melansir Edie, Jumat (6/2/2026) di seluruh negara-negara OECD, produksi sampah telah meningkat lebih dari 100 juta ton sejak tahun 2000, dan aktivitas pengelolaan sampah diperkirakan menyumbang hingga 5 persen dari emisi gas rumah kaca (GRK) global.

Negara OECD merujuk pada kelompok negara-negara maju seperti AS, negara-negara Eropa, Jepang, dan Korea Selatan.

Baca juga: Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat

Solusi dengan ekonomi sirkular

Laporan WRAP pun kemudian menyebut alih-alih hanya berfokus pada pembuangan, pendekatan ekonomi sirkular bisa menjadi opsi untuk mengatasi permasalahan sampah. Dengan sistem ini, produk pun bisa digunakan lebih lama dan sampah diminimalkan sejak dari sumbernya.

Namun WRAP menyatakan pula target Zero Waste secara absolut sangat sulit dicapai karena tidak dapat sepenuhnya menghilangkan sampah sisa. Hal ini terjadi lantara adanya batasan teknis, kesalahan manusia dalam memilah, penggunaan produk untuk keperluan medis dan keamanan, serta inefisiensi dalam proses daur ulang.

"Menghilangkan sampah sejak tahap perancangan sistem harus tetap menjadi prioritas, namun tidak akan ada sistem sirkular yang bisa 100 persen bebas sampah," kata Direktur wawasan dan inovasi WRAP, Claire Shrewsbury.

Lebih lanjut, laporan tersebut juga mengkaji bagaimana sampah yang tidak dapat didaur ulang ditempatkan dalam sistem sirkular.

“Laporan ini menunjukkan bagaimana limbah sisa dapat dikelola dengan cara yang mendukung aktivitas sirkular bernilai lebih tinggi, untuk mengurangi kerusakan lingkungan dan membantu mengekstrak nilai dari bahan yang tidak dapat didaur ulang,” tambah Shrewsbury.

Baca juga: Di Balik Asap Pembakaran Sampah, Ada Masalah Sosial yang Tak Sederhana

Kebijakan jadi kunci atasi masalah sampah

Laporan mengungkapkan sampah sisa yang tidak dapat didaur ulang harus dikelola dengan cara yang memulihkan nilai, seperti menghasilkan listrik dan panas dari pengolahan termal, atau menghasilkan gas dan pupuk yang bermanfaat melalui pencernaan anaerobik dan pengomposan.

Misalnya saja, abu sisa insinerator masih bisa digunakan dalam sektor konstruksi.

Tanpa pengolahan lebih lanjut, tempat pembuangan akhir tetap menjadi sumber utama dampak iklim melalui emisi metana.

Laporan menyoroti desain kebijakan sebagai faktor kunci dalam performa mengatasi permasalahan sampah. Perilaku masyarakat sangat bergantung pada bagaimana aturan pemerintah dibuat.

Contohnya yang bisa diterapkan, pemerintah mengurangi frekuensi pengambilan sampah yang tidak dipilah, tetapi mengambil sampah daur ulang setiap hari. Hasilnya, masyarakat terpaksa memilah sampah mereka agar tempat sampah mereka tidak penuh dan berbau.

Namun, jika kebijakan terlalu rumit atau justru merugikan masyarakat atau industri, orang akan kembali ke cara lama sehingga kemajuan jadi melambat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau