Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Elis Mardianti
Pelajar/Mahasiswa

Mahasiswa S2 Kebijakan Publik Universitas Airlangga, Awardee LPDP-RI.

Membongkar Mitos Sawit sebagai Miracle Crop

Kompas.com, 9 Februari 2026, 06:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

AWAL Februari 2026, Presiden Prabowo Subianto mencanangkan narasi besar dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah: kelapa sawit adalah miracle crop. Sebuah tanaman "ajaib" yang diposisikan sebagai pilar transisi energi, penyokong devisa, sekaligus instrumen kemandirian bangsa.

Melalui hilirisasi biodiesel hingga pelarangan ekspor limbah sawit (jelantah) demi avtur domestik, sawit dicitrakan bukan lagi sekadar komoditas, melainkan jimat sakti yang membuat pemimpin dunia dari Rusia hingga Pakistan datang "memohon" suplai kepada Indonesia.

Langkah pemerintah ini tentu patut diapresiasi sebagai upaya mengejar kedaulatan energi di tengah ketidakpastian global. Namun, dalam kacamata sosiologi lingkungan dan politik global, optimisme teknokratis ini menyimpan paradoks yang berbahaya.

Di tengah upaya dunia melakukan dekarbonisasi, ambisi menjadikan sawit sebagai basis tunggal swasembada energi nasional justru berisiko memperdalam jejak destruktif manusia di bumi, khususnya jika kita meniliknya melalui diskursus era Antroposen.

Baca juga: Krisis Iklim dan Antroposen: Manusia dalam Bayang-Bayang Planet yang Rapuh

Sawit dalam Pusaran Antroposen

Meminjam pemikiran Hans Günter Brauch dalam buku Towards Rethinking Politics, Policy and Polity in the Anthropocene (2025), istilah Antroposen menandai sebuah zaman di mana aktivitas manusia telah menjadi kekuatan geologis utama yang mampu mengubah sistem bumi.

Dalam konteks ini, sawit adalah representasi sempurna dari apa yang disebut Brauch sebagai Sattelzeit II atau periode ambang kedua. Ini adalah fase di mana manusia terjebak dalam delusi bahwa mereka bisa terus melakukan akselerasi besar (great acceleration) dengan mengandalkan satu komoditas tunggal untuk memecahkan krisis multidimensi.

Menyebut sawit sebagai "tanaman ajaib" tanpa memperhitungkan batas ekologisnya adalah upaya untuk melanggengkan dominasi diskursus keamanan nasional di atas diskursus ekologis. Sebagaimana catatan Brauch, kondisi ini erat dengan pengarustamaan logika keamanan Hobbesian yang cenderung meminggirkan dampak lingkungan demi stabilitas negara.

Narasi "keajaiban sawit" hari ini menggunakan logika serupa: demi "keamanan energi" dan "pertumbuhan ekonomi", namun dampak sistemik terhadap biosfer dianggap sebagai residu yang bisa dikelola belakangan. Padahal, bumi bukan lagi panggung stabil bagi rivalitas ekonomi manusia, melainkan sistem yang sedang berada di ambang titik kritis (tipping points).

Baca juga: Siasat Semantik di Balik Definisi Sawit

Ilusi Transisi Energi dan Kekerasan Struktural

Ambisi swasembada energi melalui biodiesel (B50 hingga B100) sering kali dipasarkan sebagai "transisi hijau". Namun, jika kita meminjam analisis Simon Dalby dalam Politics and Geology in Anthropocene Geopolitics (2025), transisi energi seharusnya bukan sekadar mengganti bahan baku fosil dengan tanaman (biofuel), melainkan reposisi manusia sebagai kekuatan sistem bumi yang bertanggung jawab.

Mengonversi jutaan hektar lahan menjadi monokultur sawit demi bahan bakar mesin bukan lagi "politik lingkungan" yang sehat, melainkan bentuk "politik planetari" yang keliru. Di sini, sawit berisiko menjadi kepanjangan tangan dari Capitalocene—sebuah era di mana akumulasi kapital menjadi penggerak utama penghancuran ekologis.

Ketika negara memuji produktivitas sawit, sering kali mereka lupa pada ongkos sosial dan ekologis yang tak ternilai: hancurnya biodiversitas, tumpang tindih kawasan hutan, hingga disposesi masyarakat adat. Kondisi ini menunjukkan keterkaitan erat antara kehancuran alam dengan perilaku eksploitatif sistemik yang mengabaikan kearifan lokal.

Penegakan hukum yang bersifat represif di atas status kawasan hutan sebagaimana yang seringkali dikhawatirkan para akademisi kehutanan dan aktivis lingkungan, adalah manifestasi nyata dari kekerasan struktural yang tersembunyi di balik jargon swasembada.

Urgensi kritik ini kian menguat ketika kita melihat jurang antara visi politik di Sentul dengan praktik di lapangan. Realitas menunjukkan bahwa ketidakpastian hukum lahan dan inkonsistensi regulasi masih menjadi batu sandungan utama.

Namun, dalam perspektif Antroposen, masalahnya lebih dalam dari sekadar tumpang tindih peta. Masalahnya adalah cara pandang kita terhadap tanah sebagai objek yang bisa "didisiplinkan" dan dipetakan semata-mata untuk kepentingan industri.

Ketika aparat keamanan dikerahkan untuk menjaga "stabilitas" sektor sawit, yang terjadi sebenarnya adalah proteksi terhadap investasi, bukan perlindungan terhadap ruang hidup warga. Dalam logika Antroposen, keamanan yang sejati tidak bisa dicapai dengan memenangkan satu komoditas di atas kehancuran ekosistem.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Membongkar Mitos Sawit sebagai Miracle Crop
Membongkar Mitos Sawit sebagai Miracle Crop
Pemerintah
PLN Mobile Perkuat Ekosistem EV Berbasis Green Energy, dari Home Charging hingga SPKLU
PLN Mobile Perkuat Ekosistem EV Berbasis Green Energy, dari Home Charging hingga SPKLU
BUMN
Membangun dari Manusia, Ini Cara Bakti BCA Memberdayakan Individu hingga Komunitas
Membangun dari Manusia, Ini Cara Bakti BCA Memberdayakan Individu hingga Komunitas
BrandzView
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau