Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Keamanan nasional Indonesia hari ini seharusnya adalah "keamanan planetari"—sebuah kebijakan yang menyadari bahwa stabilitas ekonomi mustahil diraih jika integritas sistem bumi dilampaui.
Baca juga: Prabowo: Hampir Semua Pemimpin Negara Minta Suplai Kelapa Sawit
Jika visi Indonesia Emas 2045 ingin dicapai tanpa bunuh diri ekologis, maka sawit tidak boleh lagi diletakkan sebagai miracle crop yang bersifat tunggal dan mutlak. Kita butuh pergeseran fundamental menuju apa yang disebut sebagai Planet Politics. Ini bukan berarti menolak inovasi, melainkan menuntut bentuk yang lebih jujur, bahwa inovasi yang dilakukan harus mengakui batas-batas ekologis yang tidak bisa ditawar dengan pidato politik.
Transisi energi yang sesungguhnya bukan berarti memindahkan beban emisi fosil ke beban deforestasi baru demi memenuhi tangki bensin. Taubat ekologis, sebagaimana diserukan banyak pemikir lingkungan, menuntut kerendahan hati untuk mengakui bahwa "keajaiban" itu tidak ada dalam sistem biologi yang monokultur.
Keajaiban yang sejati adalah keberlanjutan ekosistem yang beragam yang mampu menyangga kehidupan tanpa harus dieksploitasi hingga titik nadir.
Pemerintah harus berhenti menggunakan narasi resiliensi dan keajaiban sebagai selubung asap (smokescreen) untuk menormalisasi ketidakamanan sistemik di sektor agraria. Penuntasan batas kawasan hutan, pengakuan hak masyarakat adat, dan diversifikasi energi di luar sawit adalah langkah nyata yang jauh lebih mendesak daripada sekadar memoles citra sawit di panggung global.
Pada akhirnya, sawit mungkin telah membawa devisa, namun ia tidak akan bisa menyelamatkan kita jika suhu bumi terus memanas dan ekosistem kita runtuh. Menata sawit berarti menata cara kita memandang bumi. Tanpa pergeseran paradigma dari antroposentrisme yang rakus menuju ekosentrisme yang peduli, "keajaiban" sawit hanya akan menjadi catatan kaki pahit dalam epilog panjang kehancuran lingkungan kita.
Baca juga: Prabowo: Kelapa Sawit adalah Tanaman Ajaib!
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya