Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sinar Matahari Bisa Turunkan Keanekaragaman dan Biomassa Padang Rumput

Kompas.com, 16 Februari 2026, 14:32 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Sinar matahari yang sangat intens bisa menurunkan keanekaragaman serta biomassa padang rumput di berbagai belahan dunia, menurut studi terbaru.

Sebanyak 35 ilmuwan meneliti bagaimana matahari yang menjadi unsur utama fotosintesis ternyata memengaruhi ketidakoptimalan pertumbuhan sejumlah tanaman.

Baca juga: 

Studinya menunjukkan, makin tinggi intensitas sinar matahari maka makin rendah keberagaman tanaman.

“Kami sudah mengetahui bahwa tanaman dapat mengalami stres ketika menerima radiasi fotosintetik lebih besar dari yang dapat ditangani oleh sistem fotosintesisnya sehingga fotosintesis menurun," ujar penulis studi dari Swedish University of Agricultural Sciences, Marie Spohn dilansir dari Phys.org, Senin (16/2/2026).

Sinar matahari bisa turunkan keanekaragaman padang rumput

Dampaknya lebih besar dibanding suhu, curah hujan, dan kekeringan

Para ilmuwan menemukan paparan sinar matahari yang intens menurunkan keberagaman tanaman serta biomassa padang rumput. Henryturner/Dreamstime.com Para ilmuwan menemukan paparan sinar matahari yang intens menurunkan keberagaman tanaman serta biomassa padang rumput.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, para peneliti menganalisis data dari 5.590 plot padang rumput alami dan semi alami yang tersebar di enam benua. Mereka menggunakan data satelit radiasi matahari selama 22 tahun.

Penelitian menunjukkan, peningkatan intensitas sinar matahari terutama radiasi yang digunakan langsung dalam fotosintesis atau photosynthetically active radiation (PAR), berkaitan dengan menurunnya jumlah spesies tanaman.

Faktor lingkungan, seperti suhu, curah hujan, tingkat kekeringan, dan deposisi nitrogen di atmosfer berdampak lebih sedikit terhadap keanekaragaman tanaman dibandingkan intensitas sinar matahari.

"Namun, ini adalah studi pertama yang menunjukkan bahwa faktor tersebut benar-benar membatasi keanekaragaman tanaman padang rumput secara global,” kata Spohn.

Spohn menambahkan, kondisi itu kemungkinan disebabkan tekanan udara yang lebih rendah di dataran tinggi. Akibatnya, konsentrasi gas dan aerosol di atmosfer lebih sedikit lalu radiasi matahari menjadi kurang tersebar.

Studi juga menemukan, di ketinggian di atas 430 meter di atas permukaan laut, tak hanya keanekaragaman tanaman yang menurun, tapi juga biomassa tanaman di atas permukaan tanah akibat paparan sinar matahari.

Kendati demikian, tak semua spesies tanaman di padang rumput mengalami hal serupa. Misalnya, hanya rumput di dataran tinggi yang sangat terdampak paparan matari intens.

Sementara itu, keanekaragaman tanaman legum tidak terpengaruh intensitas sinar matahari.

Baca juga: 

Kaitan dengan krisis iklim

Para ilmuwan menemukan paparan sinar matahari yang intens menurunkan keberagaman tanaman serta biomassa padang rumput. Dok. Wikimedia Commons/Amoko Joseph Para ilmuwan menemukan paparan sinar matahari yang intens menurunkan keberagaman tanaman serta biomassa padang rumput.

Menurut Spohn, temuannya sangat berkaitan dengan krisis iklim saat ini.

"Paparan matahari yang intens dapat membatasi kemampuan banyak spesies tanaman untuk bermigrasi ke dataran yang lebih tinggi sebagai respons terhadap pemanasan iklim. Hal ini mendukung kekhawatiran bahwa spesies-spesies tersebut saat ini sedang menuju ke arah kepunahan," tutur dia.

Berbeda dengan perkiraan sebelumnya, hasil penelitian terbaru ini menunjukkan bukan radiasi UV-B yang membatasi migrasi tanaman ke ketinggian lebih tinggi, melainkan radiasi fotosintetik. 

Tim peneliti menyebutkan, padang rumput di Amerika Utara, sabana Serengeti, tundra Svalbard, serta padang penggembalaan alami di Pegunungan Alpen merupakan contoh habitat yang tergolong sebagai padang rumput.

Ciri umumnya, tidak adanya pepohonan dengan vegetasi yang didominasi rumput dan tanaman herba lainnya.

Tingkat keanekaragaman spesies tanaman di padang rumput ini sangat bervariasi. Akan tetapi, faktor yang mengendalikan keberagaman telah menjadi pertanyaan ilmiah selama puluhan tahun.

Tahun lalu, dalam studi tentang padang rumput, Spohn dan rekan-rekannya menemukan sifat tanah dan faktor iklim, seperti suhu, tidak dapat menjelaskan variasi keanekaragaman tanaman.

“Dari situ saya mulai mempertanyakan peran sinar matahari terhadap keanekaragaman tanaman di padang rumput dan memutuskan untuk memulai proyek baru guna mengeksplorasi hubungan tersebut," ungkap Spohn.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau