Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nyamuk Lebih Pilih Darah Manusia akibat Hilangnya Keanekaragaman Hayati

Kompas.com, 16 Januari 2026, 15:17 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Beberapa jenis nyamuk disebut semakin bergantung pada darah manusia sebagai sumber makanan mereka. Menurut penelitian terbaru, hal ini disebabkan turunnya keanekaragaman hayati. 

"Dengan semakin sedikitnya pilihan sumber darah alami yang tersedia, nyamuk terpaksa mencari sumber darah alternatif baru," ucap mikrobiolog dari Federal University of Rio de Janeiro, Sergio Machado, dilansir dari Science Alert, Jumat (16/1/2026).

Baca juga:

"Mereka akhirnya lebih sering mengisap darah manusia karena kemudahan karena kita adalah inang yang paling umum di daerah-daerah tersebut," tambah dia. 

Namun, konsekuensi dari serangan nyamuk ini lebih mengerikan daripada hanya gatal-gatal di kulit.

Nyamuk adalah vektor utama penyakit sehingga perubahan preferensi untuk menggigit manusia dapat memiliki implikasi kesehatan yang besar.

Adapun penelitian ini dilakukan oleh para peneliti dari Federal University of Rio de Janeiro dan Oswaldo Cruz Institute, serta diterbitkan di jurnal Frontiers in Ecology and Evolution.

Baca juga:

Nyamuk lebih bergantung pada darah manusia

24 sampel nyamuk mengandung DNA dari 18 manusia yang berbeda

Penelitian terbaru menemukan nyamuk semakin bergantung pada darah manusia akibat turunnya keanekaragaman hayati dan deforestasi.sunnygb5 Penelitian terbaru menemukan nyamuk semakin bergantung pada darah manusia akibat turunnya keanekaragaman hayati dan deforestasi.

Dalam studi ini, tim peneliti memasang perangkap cahaya di dua cagar alam di Hutan Atlantik, Brasil, untuk menangkap 52 spesies nyamuk.

Tim kemudian memisahkan nyamuk betina yang telah mengisap darah dari sampel lebih dari 1.700 individu.

Dari jumlah tersebut, 24 sampel mengandung DNA yang dapat diidentifikasi, yang berisi jejak 18 manusia yang berbeda.

Kelompok tertinggi berikutnya adalah burung, dengan darah dari enam burung berbeda yang terdapat dalam sampel nyamuk. 

Sementara itu, darah amfibi, hewan pengerat, dan anjing masing-masing muncul sekali dalam sampel.

"Di sini kami menunjukkan bahwa spesies nyamuk yang kami tangkap di sisa-sisa Hutan Atlantik memiliki preferensi yang jelas untuk menghisap darah manusia," kata ahli biologi di Oswaldo Cruz Institute, Jeronimo Alencar.

Baca juga:

Meningkatnya aktivitas manusia dan deforestasi

Penelitian terbaru menemukan nyamuk semakin bergantung pada darah manusia akibat turunnya keanekaragaman hayati dan deforestasi.iStockphoto/Backiris Penelitian terbaru menemukan nyamuk semakin bergantung pada darah manusia akibat turunnya keanekaragaman hayati dan deforestasi.

Ada beberapa alasan mengapa jumlah darah manusia yang ditemukan sangat tinggi dalam sampel nyamuk.

Namun, alasan yang paling jelas adalah meningkatnya deforestasi. Alasan lainnya adalah ada lebih banyak manusia di sekitar wilayah tersebut.

Lebih lanjut, tim peneliti mennyampaikan bahwa analisis yang lebih detail diperlukan, termasuk kemungkinan metode yang lebih baik untuk menangkap serangga.

Perangkap cahaya jauh lebih mungkin menarik nyamuk yang lapar, sedangkan nyamuk yang baru saja makan lebih suka tidur sehingga lebih sulit ditangkap.

Pemahaman yang lebih baik tentang kebiasaan makan nyamuk dapat meningkatkan strategi pencegahan penyakit.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
Pemerintah
Ketika Fenomena 'Overwork' Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
Ketika Fenomena "Overwork" Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
LSM/Figur
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Pemerintah
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
Swasta
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Pemerintah
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Pemerintah
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
BUMN
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
LSM/Figur
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
LSM/Figur
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
Pemerintah
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
LSM/Figur
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau