Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lubang Besar di Aceh Bukan Sinkhole, Ini Penjelasan BRIN

Kompas.com, 21 Februari 2026, 10:21 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa lubang besar yang terbentuk di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, bukan sinkhole.

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari menyebutkan secara geologi kawasan tersebut tidak tersusun oleh batu gamping yang lazim menjadi penyebab sinkhole.

Susunan tanah di Pondok Balek terdiri dari endapan piroklastik aliran berupa material tufa hasil aktivitas gunung api non aktif Geurendong.

“Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh,” ungkap Adrin dalam keterangannya, Sabtu (21/2/2026).

Baca juga: Fenomena Lubang di Aceh Tengah, Terus Membesar Sejak 2000-an

Material ini, lanjut dia, tergolong muda secara geologis serta belum mengalami pemadatan sempurna sehingga masih rapuh dan mudah runtuh. Adrin mencatat adanya lembah atau ngarai kecil di area tersebut, berdasarkan pencitraan satelit Google Earth sejak 2010.

Proses erosi dan longsoran terus terjadi hingga lembah kian melebar lalu memanjang dan membentuk lubang besar.

"Faktor gempa bumi juga diduga berkontribusi mempercepat proses tersebut," ucap dia.

Adrin menambahkan, gempa berkekuatan 6,2 magnitudo yang terjadi di Aceh Tengah pada 2013 kemungkinan memperlemah struktur lereng. Alhasil, memicu ketidakstabilan yang kian besar.

Baca juga: Lubang Sinkhole Disebut Bisa Muncul Lagi di Indonesia, Masyarakat Diimbau Waspada

Dipicu Hujan

Hujan lebat dinilai menjadi penyebab utama terbentuknya lubang besar di Aceh, di samping faktor geologi dan gempa bumi. Adrin menyampaikan, batuan tufa yang rapuh mudah jenuh oleh air sehingga kehilangan daya ikat dan akhirnya runtuh.

Kemiringan lereng yang curam akibat proses longsoran sebelumnya juga memperparah kondisi. Selain itu, air permukaan dari saluran irigasi perkebunan turut berkontribusi terhadap percepatan longsor.

Air yang mengalir deras dan meresap ke dalam tanah meningkatkan kelembaban lapisan tufa kemudian meningkatkan risiko runtuhan tanah.

“Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, maka lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil,” sebut Adrin.

Ia menduga, ada aliran air tanah di batas antara lapisan aliran lahar di dasar tebing yang lebih padat dengan batu tufa di atasnya. Penggerusan di bagian kaki lereng oleh air tanah dapat menyebabkan bagian atas tebing kehilangan penyangga dan runtuh secara bertahap.

Fenomena ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan proses yang berlangsung puluhan hingga ratusan tahun. Gempa dan hujan hanya berperan mempercepat proses alami pembentukan lembah atau ngarai tersebut.

Adrin menyatakan, kondisi serupa dapat ditemukan di wilayah lain yang memiliki karakter geologi batuan gunung api muda. Ngarai Sianok di Sumatera Barat, misalnya, terbentuk melalui proses geologi panjang akibat aktivitas tektonik sesar besar Sumatera serta karakter batuan serupa.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau