Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Mantan Kombatan GAM Kelola Perhutanan Sosial dan Tinggalkan Ilegal Logging

Kompas.com, 23 Februari 2026, 14:46 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Di Kabupaten Bireuen, Aceh, kisah perdamaian tidak hanya tertulis dalam dokumen perjanjian 15 Agustus 2005 antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Republik Indonesia.

Perdamaian itu juga tumbuh pelan-pelan di antara batang kakao, akar-akar pohon, dan tanah hutan yang dulu sempat tergerus pembalakan liar.

Gempa dan tsunami 26 Desember 2004 menjadi tragedi besar yang mengubah Aceh selamanya. Di tengah proses rekonstruksi pascabencana, kebutuhan kayu melonjak tajam. Hutan menjadi sumber bahan bangunan, sekaligus sumber penghidupan.

Baca juga: Kemenhut: Gelondongan Terbawa Banjir Berasal dari Pohon Lapuk dan Kemungkinan Illegal Logging

Setelah masa rehabilitasi berakhir pada 2009, praktik penebangan liar tak serta-merta berhenti. Bagi sebagian masyarakat, termasuk mantan kombatan GAM, hutan adalah cara tercepat untuk bertahan hidup. Namun waktu perlahan mengubah arah cerita.

Ayuraddin, perwakilan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Bungong Jaroe, mengenang bagaimana mantan anggota GAM akhirnya dilibatkan dalam menjaga hutan.

“Ketika anggota-anggota GAM ini kami libatkan dalam menjaga hutan, mereka merasa memiliki hutan itu,” ujarnya dalam dialog interaktif bertajuk Cerita dari Tapak; Memetik Pembelajaran Pendampingan Program Perhutanan Sosial yang Inklusif", Kamis (19/2/2026).

Dulu, illegal logging memang menjanjikan uang cepat. Tetapi kesadaran tumbuh, bahwa hutan yang rusak berarti masa depan yang terancam.

Jalan Tengah Bernama Perhutanan Sosial

Terbitnya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 9 Tahun 2021 tentang Perhutanan Sosial menjadi momentum baru. Masyarakat, termasuk mantan kombatan GAM, mengajukan izin pengelolaan melalui skema Hutan Kemasyarakatan (HKm).

Di bawah bendera HKm Batee Lhee Hijau, yang sebagian besar anggotanya adalah eks kombatan, aktivitas illegal logging disebut telah berhenti.

“Alhamdulillah, sekarang aktivitas illegal logging sudah nol. Tidak ada lagi,” kata Ketua HKm Batee Lhee Hijau.

Sejak 2015, kelompok ini mengembangkan agroforestri kakao. Pohon-pohon kakao ditanam berdampingan dengan pepohonan hutan, menciptakan keseimbangan antara ekonomi dan ekologi. Hutan tidak lagi dilihat sebagai kayu yang ditebang, melainkan ruang hidup yang dijaga.

Baca juga: Menhut Dorong Hutan Berkelanjutan melalui Perhutanan Sosial

Dampaknya terasa nyata. Saat curah hujan ekstrem mengguyur Aceh pada November 2025 dan menyebabkan banjir di sejumlah wilayah, kawasan yang dikelola kelompok ini relatif lebih aman.

“Saat curah hujan begitu tinggi dan sungai meluap, lokasi kami tidak terdampak parah dibandingkan daerah lain,” tuturnya. Meski longsor sempat terjadi di beberapa titik, kerusakan dapat diminimalisir.

Reintegrasi yang Tak Mudah

Di balik perubahan itu, ada proses panjang yang tidak sederhana. Fasilitator WRI Indonesia, Maimun, menjelaskan bahwa Kabupaten Bireuen dahulu merupakan basis kuat GAM. Setelah perdamaian, persoalan utama bukan lagi konflik bersenjata, melainkan mata pencaharian.

Ketika kehidupan ekonomi tidak segera terjawab, sebagian mantan kombatan terseret ke praktik pembalakan liar, terutama karena kebutuhan kayu untuk rekonstruksi Aceh saat itu sangat tinggi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau